Tragedi Dakota pada Hari Bakti Angkatan Udara 1947

Insiden VT-CLA Dakota menjadi korban operasi udara pertama Angkatan Udara. Dua peristiwa yang kemudian sangat disesalkan itu diperingati dengan Hari Bakti.

Ekor merupakan salah satu bagian sisa pesawat angkut C-47 Dakota VT-CLA setelah ditembak jatuh oleh dua pesawat Belanda di persawahan Desa Ngoto, Yogyakarta.

Dengan khidmat, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna memimpin upacara sederhana Hari Bakti TNI AU ke-72 di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Senin 29 Juli 2019. Di pagi buta itu, KSAU berpesan agar generasi penerus TNI AU meneladani para kadet yang ramai dikunjungi di atas Semarang, Salatiga, dan Ambarawa 72 tahun silam.

“Nilai-nilai perjuangan yang merupakan warisan para pendahulu harus selalu diteladani dan diimplementasikan dalamsan-insan Swa Bhuwana Paksa dari generasi ke generasi, sehingga seluruh prajurit TNI AU mengingat jati sebagai tentara yang mengabdi pada Ibu Pertiwi,” ujar KSAU.

Pidato KSAU kemudian dilanjutkan dengan pementasan sosiodrama yang dilakoni para pereka ulang Djokjakarta 1945.

Hari Bakti TNI AU, Nomor Irna H.N. Hadi Suwito dkk dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950, ditetapkan lewat SK KSAU. 133/VII/1976 berdasarkan peristiwa gugurnya tokoh-tokoh AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dalam peristiwa jatuhnya pesawat angkut C-47 Dakota bernomor registrasi VT-CLA pada petang 29 Juli 1947.

Rabu Kelabu

Rabu 30 Juli 1947 itu, sejumlah petinggi TNI memenuhi sebuah aula di Hotel Tugu, Yogyakarta dalam suasana abu-abu. Di sanalah masalah tiga jenazah perintis AURI: Komodor Muda Udara dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo.

Selain KSAU Komodor Suryadi Suryadarma, turut hadir Panglima TNI Jenderal Sudirman memberi kemenangan terakhir dalam upacara militer itu. ribuan masyarakat sipil yang turut membantu membersihkan.

Masing-masing jenazah lalu dikebumikan sesuai permintaan keluarga. Jenazah Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto dikuburkan di Kuncen, sementara Adisumarmo di Taman Makam Pahlawan Semaki.

Suryadarma sangat menyesal dan sedikit menyesal. Ia merasa gugurnya ketiga kolega beserta enam korban Dakota VT-CLA lain yang disebabkan oleh amuk Belanda yang dikejutkan oleh serangan udara kadet-kadet AURI pada pagi 29 Juli 1947. Akibatnya, pesawat Dakota VT-CLA itupun jadi salah satu tumbal pembalasan Belanda.

Pesawat Dakota VT-CLA itu dibeli pemerintah RI sedianya untuk mengantarkan dua ton obat-obatan dari Singapura yang merupakan sumbangan Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Sebelum dibeli, pesawat itu milik Biju Patnaik, pengusaha India sekaligus mantan pilot Royal Air Force (RAF/AU Inggris) yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia.

VT-CLA sendiri merupakan nomor registrasi sipil Dakota itu dalam naungan Maskapai Kalingga Airlines, dan belum diganti sudah dibeli pemerintah RI. Pesawat dengan rute Singapura-Yogyakarta itu dipiloti penerbang veteran AU Australia Alexander Noel Constantine dan veteran AU Inggris Roy Lance Hazelhurst.

Mengutip Adityawarman Suryadarma dalam biografi ayah, Bapak Angkatan Udara: Suryadi Suryadarma, rute penerbangan nonmiliter itu sudah mendapat izin terbang dari pemerintah Inggris dan NICA di Jakarta.

Berdasarkan manifes otoritas bandara Singapura, pesawat itu ditumpangi sembilan orang. Selain tiga tokoh AURI dan dua penerbangnya, turut menumpang istri sang pilot, Beryl Constantine; Abdulgani Handonotjokro dari GKBI Tegal; Zainal Arifin dari Konsul Dagang RI di Malaya; dan teknisi Bhida Rom asal India.

Dikuntit Sepasang Kittyhawk

Dakota VT-CLA itu bertolak dari Singapura pukul 1 siang dengan muatan dua ton sumbangan obat-obatan. Penerbangan berjalanan aman. Namun sesampainya di atas Kepulauan Bangka-Belitung, sepasang gaun Curtiss P-40 “Kittyhawk” AU Belanda mulai tampak.

Muncul dan menghilang, begitulah seterusnya dua Kittyhawk bermanuver untuk menguntit Dakota hingga tiba di angkasa Yogyakarta sekira pukul 4 sore. Saat landasan pacu Lanud Maguwo terlihat, pilot Constantine segera menurunkan pesawat sambil mengarahkan terbang sekali sebelum mendarat. Saat itulah tembakan dari senapan mesin kaliber 12,70 milimeter M2 Browning sepasang Kittyhawk dimuntahkan kedua pilotnya.

“Dakota VT-CLA mengeluarkan secepatnya; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat kehilangan keseimbangan dan masih memotret dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya ban pucuk pohon, kemudian jatuh jatuh tanggul sawah,” ungkap Irna dkk berdasarkan membuktikan seorang bernama Soma Pawiro.

Dakota VT-CLA jatuh dan meledak di batas persawahan Desa Ngoto dan Desa Wojo, sekira tiga kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Warga langsung ke lokasi. Meski mulanya dikira pesawat Belanda, tetap berusaha meski hari mulai gelap. Dengan obor dan tandu seadanya dari batang bambu, masyarakat mengevakuasi beberapa korban.

Para personel AURI lantas berdatangan, termasuk kadet Suharnoko Harbani dan KSAU Suryadarma. Saat itulah warga insyaf bahwa itu pesawat republik. Selain Abdulgani, Beryl Constantine masih hidup dengan luka tembak di pipi saat dievakuasi. Namun, nyawanya tak tertolong saat dilarikan ke Rumahsakit Bethesda, tempat para korban mendapat penanganan.

Para korban, utamanya para perintis AURI, lalu disemayamkan di Hotel Tugu untuk mendapatkan terakhir kalinya militer. Mereka dimakamkan keesokan harinya.

Peristiwa itu membuat Belanda mencari alasan untuk mengelak. “Menurut radio Yogya, dua pesawat Belanda menembak jatuh Dakota yang membawa bantuan medis dari Singapura. Namun jurubicara pemerintah Belanda di Den Haag membantah, berdasarkan komunike Belanda di Batavia, di mana pesawat Belanda hanya memberi tembakan peringatan namun Dakota itu jatuh karena menabrak sebuah pohon,” tulis Suratkabar Nieuwe Apeldoornsche Courant, 30 Juli 1947.

Alasan itu jelas mengada-ada karena pada jenazah Beryl Constantine dan Adisumarmo terdapat luka tembak. Belanda lantas “meralat” pernyataannya bahwa memang benar dua pilot Kittyhawk, Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, melepaskan tembakan tapi karena mereka salah mengira pesawat itu sebagai membangun tukik Jepang Ki-49 “Helen”.

Alasan yang lebih mengada-ada itu –lantaran kedua pilot Belanda merupakan alumnus Skadron Nederlands East Indisch (NEI) yang berlatih di Canberra, Australia selama Perang Dunia II; dan mereka tidak mengenali bentuk pesawat Dakota yang merupakan andalan Sekutu– kembali merevisi Belanda. Menurutnya, pesawat mereka menembaki Dakota VT-CLA karena tidak menggunakan lambang palang merah di badan pesawat.

Dunia internasional mengecam Belanda, terlebih setelah membuktikan membuktikan Letkol Peter Ratcliffe, perwira Inggris utusan SEAC (South East Asia Command) yang di Yogyakarta. Ratcliffe menyaksikan sendiri dua Kittyhawk Belanda itu menembaki Dakota meski Dakota sudah miring sebelum menghantam daratan.

Ratcliffe ikut mendatangi RS Bethesda untuk melihat dua korban, Beryl Constantine dan Adisumarmo. Dalam membuktikannya, kedua tubuh dipenuhi luka tembak.

“Sebuah insiden paling pengecut dan tindakan brutal dan tindakan kecurigaan yang saya lihat,” kata Ratcliffe marah, dikutip tabloid AU Australia, Pathfinder, edisi 159, Juli 2011.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama