Seragam Batik Tempur

Pasukan dari Lanud Malang menyerang musuh dengan mengenakan pakaian batik. Hasil barter pesawat.

Komandan Pangkalan Bugis Imam Soepeno (kiri) & Letnan Satu Hanandjoeddin (kedua dari kiri).

Warga Net, utamanya para penggila K-Pop, dibuat heboh oleh unggahan dua personel boyband Super Junior, Park Jeong-su alias Leeteuk dan Kim Jong-woon alias Yesung, di laman Instagram masing-masing. Kedua pamer baju batik. Motif batik Garuda Kujang Kencana yang mereka kenakan merupakan hasil desain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamila atau akrab disapa Kang Emil.

“Terima kasih bintang KPop @xxteukxx dan @yesung1106 dari @superjunior karena memakai batik jawa barat @batikkomar yang saya desain. Anda sekarang secara resmi siap untuk 'pergi kondangan' atau 'ikut pilkada' di Indonesia. Khamsahamnida dari Hyung-mu. Buat gadis2 Indonesia, dengan ini mereka terlihat lebih melokal dan tentunya lebih terjangkau. Mari semangat membatik Indonesia mendunia. Saya menggunakannya untuk diplomasi budaya,” tulis Kang Emil lewat unggahan ulang foto keduanya di akun Instagram @ridwankamil, Selasa (25/5/2021).

Batik lazim yang dikenakan masyarakat Indonesia dalam acara hajatan keluarga maupun hajatan pemerintah. Batik juga kerap jadi buah tangan para pemimpin Indonesia untuk tamu kehormatan mereka. Presiden Afrika Selatan Nelson Rolihlahla Mandela dan Presiden Amerika Serikat William Jefferson ‘Bill’ Clinton di antara tamu kehormatan yang pernah mendapat hadiah batik. Tetapi yang jarang diketahui khalayak, kain batik juga pernah dijadikan seragam tempur sepasukan kombatan Kiblik di Jawa Timur.

Kompromi Bung Tomo

Selepas Surabaya jatuh ke tangan Sekutu pada 12 November 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi VII/Untung Surapati yang berdiam di Malang ikut bersiaga satu. Panglima Divisi VII Jenderal Mayor Imam Soedja'i mengonsolidasikan semua kekuatan tempur di bawahnya, termasuk satuan TKR Oedara (TKRO) Malang yang berbasis di Pangkalan Udara (Lanud) Bugis.

Hal itu membuat TKRO Malang yang dikomandani Lettu Imam Soepeno dan Lettu Hanandjoeddin bingung. Pasalnya, statusnya masih abu-abu. Di satu sisi, para anggotanya yang sebagian besar kru teknik pesawat merasa bagian dari TKR Djawatan Udara (kini TNI AU). Di sisi lain, secara administratif eksistensi mereka di bawah Divisi VII.

“Bahkan, pihak Divisi VII menginginkan TKR Oedara dilebur saja ke dalam Divisi VII. keheranan karena biaya. Lagi pula dianggap belum adanya peraturan pemerintah yang mengaturnya,” tulis Haril Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI.

Jenderal Imam Soedja'i sebelumnya juga sudah memerintahkan para personel TKRO Malang untuk masuk Sekolah Kadet Perwira. Para personel yang hanya berkutat dengan mesin-mesin pesawat peninggalan Jepang itu terampil menggunakan berbagai senjata dan strategi tempur demi menyokong para kombatan Surabaya yang masih bertahan di pinggiran kota.

Alhasil, TKRO Malang di ambang pembubaran dan dilikuidasi jika Sutomo atau Bung Tomo tidak datang “mengintervensi”. Komandan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia itu bertandang ke Lanud Bugis pada akhir November 1945 setelah mendengar kekisruhan status TKRO.

“Kunjungan itu sekaligus konsolidasi dengan cabang BPRI Kota Malang, TKR, dan organ-organ perjuangan lainnya. Bung Tomo sosok yang disegani semua pejuang Jawa Timur, termasuk petinggi TKR. Ternyata Ketua BPRI ini menyambut keberadaan TKR Oedara dengan antusias: ‘Tidak ada yang boleh membubarkannya!’” imbuh Haril.

Mengutip Sedjarah pertumbuhan AURI, Bung Tomo kemudian menginisiasi pertemuan dengan pimpinan TKR Divisi VII dan TKRO Malang untuk mengkompromikan eksistensi TKR Oedara Malang di Jalan Dr. Soetjipto No. 1 Malang. Musyawarah tersebut kemudian menelurkan lima keputusan.

“Pertama, TKRO Malang wajib dipertahankan. Kedua, TKRO Malang tetap di tangan Imam Soepeno dengan markasnya di Jalan Dempo. Ketiga, secara bergilir anggota-anggotanya ditugaskan ke Front Surabaya setelah satu bulan. Keempat, setiap hari anggota TKRO mendapat jaminan makan dari dapur umum BPRI di Jalan Welirang, Malang. Kelima, jaminan yang lain akan diusahakan bersama,” tulis buku itu.

Alhasil, Lettu Imam Soepeno dan Lettu Hanandjoeddin alias Bung An mengatur jadwal ratusan anak buahnya untuk tugas di medan tempur setelah mereka menyalakan pada medio Desember 1945-Januari 1946. Tugas itu disambil dengan tugas rutin mereka memperbaiki pesawat di pangkalan. Pasalnya, pada Januari dan Februari 1946 mulai banyak permintaan bantuan pesawat dari kolega mereka di Lanud Maguwo, Yogyakarta dan Lanud Panasan, Solo.

Alutsista Pesawat Dibarter Batik

Upaya KSAU Komodor Suryadi Suryadarma maupun utusannya, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, untuk meminta sumbangan sejak awal tahun 1946 selalu ditolak Panglima Divisi VII Jenderal Imam Soedja'i. Adapun satu pesawat pemburu Tachikawa Ki-55 “Cukiu” yang berhasil dibawakan Adisutjipto untuk Lanud Maguwo pada 17 Februari 1946 adalah hasil “main mata” Imam Soepeno dan Anan di belakang panglima.

Pada awal Maret 1946, giliran Komandan Lanud Panasan (kini Lanud Adi Soemarmo) Opsir Muda Udara (OMU) I Soejono yang datang ke Lanud Bugis. Soejono langsung menemui Lettu Anan untuk meminta bantuan. Sebagaimana di Maguwo, para kadet dan penerbang di Panasan, semua kekurangan pesawat dan berharap mendapatkan dari Lanud Bugis yang banyak pesawat bekas Jepang meski harus diperbaiki terlebih dahulu.

“Kalau bisa, kita barter saja. Kami punya banyak bahan kain batik buat pakaian. Bagaimana Bung?” tanya Soejono, dikutip Haril.

Anan yang insyaf bahwa dia akan kembali berurusan dengan Divisi VII. Setelah berpikir masak-masak, sediakan “pasang badan”.

“Boleh juga. Kami siapkan dulu pesawatnya. Bung Jono bawa saja kain batiknya ke mari!” kata Anan.

Dalam beberapa waktu hari, Anan dan anak buahnya menyiapkan tiga unit pesawat, yakni pesawat latih Yokosuka K5Y “Cureng”, pesawat pemburu Nakajima Ki-27 “Nishikoren”, dan Tachikawa Ki-55 “Cukiu”. Pihak Panasan pun memenuhi janjinya pada 5 Maret 1946.

“Sebagai keseimbangannya Pangkalan Udara Panasan mengirimkan sebuah tim kesenian dan memberikan nomor kain batik. Pelaksanaan transportasi pesawat-pesawat tersebut dilakukan dengan menggunakan kereta api yang dikawal Pasukan Pertahanan Pangkalan di bawah pimpinan Sersan Mayor Udara Koesno. Setibanya di Kota Surakarta mendapat sambutan dari warga Surakarta dengan gembira dan penuh rasa bangga,” tulis buku Lintasan Sejarah Pangkalan Udara Adi Soemarmo.

Sementara itu, semua kru di Lanud Bugis mendapat jatah kain batik. Batik berwarna hitam kecoklatan bermotif seperti kelelawar itu jadi barang mewah buat para kru.

“Maklum di zaman revolusi itu sangat jarang menemukan prajurit menemukan hal demikian. Para anggota teknik udara pun kompak membuat baju dari kain batik itu. Saat tiba giliran mereka ke depan Surabaya, mereka kompak menggunakan baju batik sebagai seragam tempur. Kehadiran satu kompi pasukan teknik berseragam batik ini menarik perhatian para pejuang lainnya. Para pejuang Surabaya menjulukinya pasukan 'Lowo' atau pasukan kelelawar karena baju batiknya mirip dengan gambar kelelawar,” sambung Haril.

Saat itu, TKRO Malang punya dua kompi yang berisi kru mekanik, navigasi, hingga elektronik. Mereka bukan kombatan. “Pasukan Pertahanan Teknik dengan Komandan Pasukan AS Hanandjoeddin ini memiliki 550 personel atau sebanyak 2 kompi pasukan. Waktu itu 1 kompi terdiri dari 4 seksi. Sedangkan 1 seksi beranggotakan 60 personel atau 4 regu (1 regu=15 orang personel),” ungkap Devan Firmansyah dan Febby Soesilo dalam Sejarah Daerah Malang Timur.

Setelah ada kesepakatan antara Bung Tomo dan Divisi VII, mereka digembleng Kid Darlim di Ksatrian Kartanegara Singosari, Malang. Setelah itu mereka digilir ke depan Surabaya. Begitu satu kompi lain dari TKRO Malang mendapat giliran tempur,

pasukan berseragam batik itu sebagai kombatan penyokong dalam serangan-serangan gerilya terhadap pos-pos Sekutu di pinggiran kota Surabaya. Salah satunya ke Lanud Morokrembangan untuk memecah konsentrasi Sekutu yang sudah menguasai Surabaya.

“Meski haya serangan-serangan kecil, aksi pasukan itu membuat repot pasuakn Inggris dan Belanda. Kehadian pasukan 'Lowo' dari Malang di depan Surabaya ini cukup berarti untuk memperkuat pejuang moriil Surabaya di lapangan. Walau Surabaya masih dalam genggaman Sekutu, serangan-serangan kecil itu menunjukkan bahwa TKR dan pejuang Surabaya masih ada. Membuktikan perlawanan rakyat Jawa Timur tidak mudah dipatahkan sekalipun Kota Surabaya telah luluh lantak,” tandas Haril.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama