Prajurit India dan Gurkha di Pasukan Sekutu

Pasukan Sekutu terpaksa menggunakan tentara India dan Gurkha.
Mereka harus menghadapi perlawanan perjuangan Indonesia di berbagai tempat.

Pasukan India menangkap empat pejuang Indonesia di sebuah desa di Bekasi sebelum desa tersebut dibakar sebagai pembalasan atas tewasnya lima personel RAF dan 20 personel Maharatta.

Tidak ada sambutan ketika pasukan Sekutu (Inggris) mendarat di Tanjung Priok, Jakarta, pada 29 September 1945. Hanya beberapa anak yang melambai kepada tentara India yang umumnya bertubuh tinggi dan berkulit gelap.

Pasukan Sekutu dipersiapkan untuk melaksanakan tugas utama mereka di Indonesia: melindungi dan mengevakuasi tawanan perang Sekutu dan tawanan lainnya, melucuti dan mengembalikan pasukan Jepang, serta menjaga hukum dan ketertiban. Untuk memenuhi misi itu, Jenderal Lord Louis Mountbatten, pemimpin Komando Asia Tenggara (SEAC), menunjuk Letnan Jenderal Sir Philip Christison.

Pasukan Sekutu datang dengan keterbatasan. Mereka kekurangan kapal pengangkut, arsip intelijen, dan terutama personel.

“Hanya ada satu divisi penuh Inggris di Timur Jauh dan divisi itu melayani di India dan Burma,” tulis sejarawan Ben Anderson di Revoloesi Pemoeda. "Oleh karena itu Mountbatten terpaksa menaruh kepercayaannya pada pasukan India dan Gurkha."

Pasukan Sekutu yang dikirim ke Indonesia terdiri dari tiga divisi: Divisi India ke-23 di bawah Mayor Jenderal D.C. Hawthorn (Jawa), Divisi India ke-5 di bawah Mayor Jenderal S.C. Mensergh (Surabaya), dan Divisi India ke-26 di bawah Mayor Jenderal H.M. Kamar (Sumatera).

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, pengiriman divisi tersebut tidak dapat dilakukan secara serentak karena Sekutu kekurangan kapal pengangkut.

Pada akhir Oktober 1945, Sekutu telah mendarat di tiga kota pelabuhan utama di Jawa (Jakarta, Semarang, dan Surabaya) dan tiga kota pelabuhan utama di Sumatera (Medan, Padang, dan Palembang). Dari kota-kota ini mereka pindah ke kota-kota pedalaman, termasuk Bandung dan Magelang, untuk membebaskan para tawanan dan menerima penyerahan Jepang.

Tugas pasukan Sekutu tidaklah mudah. Di beberapa daerah, seperti Bandung, Surabaya, Ambarawa, Medan, Padang dan sekitarnya, mereka harus melawan tentara dan pejuang Republik Indonesia.

Pasukan India dan Gurkha

Surat kabar lokal, serta pejuang Republik, sering menyebut semua pasukan India sebagai Gurkha, yang digambarkan sebagai tentara yang kejam dan kejam. Padahal India dan Gurkha berbeda. Akibat kesalahpahaman ini, ketika tindakan tentara Gurkha membuat marah para pejuang Republik, warga sipil India terpengaruh. Dan ini terjadi di Surabaya pada awal November 1945.

“Orang Indonesia yang membenci angkatan bersenjata yang menentang mereka, tidak tahu bahwa ada perbedaan antara istilah Gurkha dan India,” tulis P.R.S. Mani, tentara pengamat Sekutu, di Jalur Revolusi.

Inggris menghormati identitas kelompok sehingga satuan tentara India dikelompokkan berdasarkan suku, seperti Punjab, Patiala, Kumaon, Maharatta, Hyderabad, dan Rajputana.

Tentara India yang mencolok adalah tentara Sikh. Mereka selalu mengenakan sorban di kepala mereka, sehingga penduduk setempat menyebut mereka "prajurit ubel-ubel". Sekelompok tentara lain datang dari India timur (kemudian Pakistan) yang beragama Islam. Banyak dari mereka yang bersimpati dengan perjuangan Indonesia.

Namun, andalan pasukan Sekutu adalah unit dari Nepal, yang terletak di kaki pegunungan Himalaya, yang disebut Gurkha.

“Tentara India mengejanya Gorkha (Go berarti lembu dan Rakh berarti pelindung). Jadi, Gorkha adalah pelindung sapi, ini berdasarkan agama Hindu yang mereka anut, yang menganggap sapi sebagai hewan suci,” tulis R.H.A. Saleh dalam Let's Take it Back!

Menurut Firdaus Syam, dosen ilmu politik di Universitas Nasional, Gurkha merupakan kekuatan Inggris yang handal dalam melakukan operasi militer untuk mempertahankan wilayah jajahannya.

“Mereka ditempa dengan iklim dan alam yang sangat keras. Mereka ditugaskan di kawasan Asia Tenggara yang beriklim tropis,” kata Firdaus, penulis buku The Role of Pakistan in the Revolutionary Period of Indonesian Independence.

Di setiap kota, tentara India dan Gurkha harus menghadapi perlawanan rakyat dan pejuang Republik. Beberapa dari mereka membelot karena berbagai alasan. Bahkan segelintir prajurit Gurkha, yang dikenal dengan semboyan "lebih baik mati daripada hidup menjadi pengecut", tidak dapat menahan perlawanan sengit dan memilih untuk membelot.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama