Perjalanan Rahasia Pegangsaan Timur

Sebuah cerita menegangkan ketika pejabat tinggi Republik di Jakarta memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta.

Bung Karno disambut warga di stasiun kereta api.

Henriete Josefine Mans masih ingat kejadian malam itu. Bersama ayah, ibu dan adik-adiknya, putri pertama tokoh pejuang Maluku Johannes Latuharhary ini termasuk dalam rombongan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) yang juga merantau ke Yogyakarta.

“Kami naik kereta diam-diam dari belakang rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur. Saat di kereta, lampu dimatikan dan kami harus benar-benar diam. Sampai-sampai adik saya minta makan, saya tutup mulutnya dengan tangan,” kenang wanita kelahiran Surabaya, 15 Juni 1932 itu.

Pengalaman Henriete ditegaskan oleh Presiden Sukarno. Dalam biografi Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), presiden memutuskan meninggalkan Jakarta karena merasa situasi sudah tidak aman lagi bagi pemerintahannya.

“Jakarta sudah sangat serius. Tanpa satuan polisi yang kuat, kita tidak bisa bersaing dengan NICA,” kata Presiden Sukarno.

Untuk menggantikan peran Jakarta, Bung Karno menyebut Yogyakarta sebagai tempat yang paling cocok. Selain sultan dan rakyatnya yang mendukung 100% NKRI, secara geografis wilayah tersebut merupakan pusat pulau Jawa.

Maka pada tanggal 4 Januari 1946, rangkaian kereta api dikirim ke belakang rumah Bung Karno. Diam-diam, sekitar pukul 8 malam kereta bergerak untuk membawa pejabat Indonesia dan keluarganya ke Yogyakarta.

"Jika kita tertangkap, seluruh negara (pejabat) bisa dihancurkan (hanya) dengan satu granat," kata Sukarno.

Perjalanan ke Yogyakarta sangat menegangkan. Menurut Hasjim Ning (salah satu penumpang kereta rahasia), sejak Pegangsaan Timur, lampu di semua jalur sengaja dimatikan. Semua jendela tertutup rapat.

“Kami terdiam dalam gelapnya malam. Deru lokomotif dan benturan roda pada sambungan rel begitu keras sehingga kereta terasa seperti siput berjalan,” kenang Hasjim Ning dalam biografinya, Ups and Downs of Fighter Entrepreneurs (disusun oleh A.A. Navis).

Suasana semakin tegang, saat kereta mendekati Stasiun Kranji. Di stasiun yang merupakan pos terdepan tentara Inggris itu, rupanya ada kewajiban bagi setiap kereta api yang keluar masuk Jakarta berhenti untuk diperiksa. Tak terkecuali kereta yang membawa rombongan Presiden Sukarno itu harus berhenti dan menjalani pemeriksaan oleh tentara Inggris dan Belanda (NICA).

Keheningan menyelimuti seluruh rangkaian, saat beberapa tentara mendekat dengan senter di setiap gerbong. Senternya bersinar melalui jendela. Tapi anehnya, mereka tidak memeriksanya sampai mereka naik kereta. Setelah melakukan pemeriksaan yang diperlukan, kereta diizinkan untuk kembali.

Setelah Stasiun Kranji, semua penumpang baru bisa bernapas lega. Lampu di setiap seri dinyalakan agar satu sama lain bisa melihat sisa-sisa ketegangan di wajah masing-masing.

“Dulu saya bercanda untuk mengatasi kesulitan dalam diri saya, (saat itu) tidak berani memulainya,” kata Hasjim.

Menurut Hasjim, dia tidak yakin apakah tentara Inggris dan NICA sama sekali tidak mengetahui tentang kepergian para pejabat Republik secara rahasia. Terutama Inggris yang terkenal dengan kelihaian kecerdasannya. Lalu mengapa mereka membiarkan Presiden Sukarno dan rombongan lewat?

Hasjim menilai NICA tidak berani menyerang rombongan Presiden Sukarno. Inggris tidak ingin mendapat reputasi buruk di mata dunia internasional jika nantinya ketika mereka memaksa untuk menangkap pejabat Republik terjadi perlawanan dengan kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Sesampainya di Stasiun Bekasi, kereta berhenti sejenak karena lokomotif membutuhkan tambahan kayu bakar dan air untuk boiler yang menghasilkan uap. Hal yang sama juga dilakukan di Stasiun Cikampek dan Stasiun Cirebon.

Setelah berjam-jam di kereta, pada pagi hari tanggal 5 Januari 1946, rombongan Presiden Sukarno tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kedatangan rombongan pejabat Republik ini disambut tidak hanya oleh Sri Sultan Hambengkubuwono IX, tetapi juga oleh ratusan masyarakat Yogyakarta yang ingin melihat wajah masyarakat Yogyakarta.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama