Kisah Para Bhayangkara

Bagaimana pengalaman anggota Polri ketika harus terlibat dalam peristiwa menegangkan dan lucu saat bertugas.

Pasukan Mobil Brigade (Mobrig) pada tahun 1946.

Pertengahan September 1948. Akibat Peristiwa Madiun, hubungan kota ini dengan kota-kota lain (termasuk ibu kota Yogyakarta dan Blitar) terputus. Sementara di Madiun sendiri, kaum komunis melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap pejabat Republik Indonesia (RI).

Untuk mengkoordinir penumpasan itu, Kepolisian Negara (DKN) Djawatan Yogyakarta menugaskan Kompol Soeprapto untuk menyerahkan surat perintah kepada M. Jasin, Komandan Brigade Mobil (MBB) Jawa Timur yang saat ini berada di Blitar. Penyerahan perintah itu rencananya akan dilakukan melalui pengerahan Soeprapto dan dua perwira TNI (salah satunya Mayor Islam Salim) di Alun-alun Blitar.

“Di Maguwo, mereka mendapat instruksi (petir) terjun payung tanpa latihan terlebih dahulu,” demikian menurut buku Brimob: Dulu, Kini dan Esok (dikompilasi Atim Supomo dkk). Lompatan sendiri harus dilakukan, karena di Blitar belum ada bandara yang memungkinkan pesawat bisa mendarat dengan mulus.

Segera setelah D-Day tiba, sebuah pesawat kecil berangkat, diawaki oleh seorang pilot Amerika dan seorang kopilot Indonesia. Dalam situasi penuh ketegangan, pesawat tiba di atas Blitar. Begitu berada di atas alun-alun, pilot memerintahkan ketiga perwira itu untuk langsung masuk, tetapi tak satu pun dari mereka punya nyali untuk melakukannya.

Pesawat berbalik dan bergerak lagi menuju kota Blitar. Namun begitu mereka sampai di alun-alun, situasi yang sama terjadi lagi: para petugas enggan untuk masuk. Pilot AS sangat kesal sehingga dia menyerahkan kendali pesawat kepada co-pilot. Dia kemudian bergabung dengan tiga petugas.

"Saat co-pilot memberi isyarat untuk menyelam, pilot AS langsung menendang Soeprapto dan dua petugas lainnya secara bergantian," kata buku Brimob: Pertama, Sekarang dan Besok.

Soeprapto dan Mayor Islam Salim berhasil mendarat dengan selamat di Alun-alun Blitar. Tapi petugas lain jatuh agak jauh dari Lapangan. Saat mendarat di atap rumah seorang warga, orang-orang langsung mengepungnya karena dikira mata-mata musuh. Beruntung satu unit MBB berhasil menyelamatkannya dan surat perintah berhasil diberikan kepada Jasin.

Pengalaman Kompol Soeprapto lainnya juga dialami oleh Moh. Enoh, seorang bhayangkara yang bertugas mengawal Wakil Presiden Mohammad Hatta. Suatu hari, Enoh tiba di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Dia baru saja kembali dari daerah mengawal Wapres keliling Jawa Barat selama dua minggu. Hal ini diriwayatkan oleh H. Mangil Martowidjojo dalam bukunya Kesaksian Bung Karno 1945-1967.

Begitu tiba, dia langsung ditugaskan untuk berganti penjaga di depan Istana Wakil Presiden. Entah kesal atau hanya iseng, sesampainya di pos jaga, tiba-tiba Enoh berpidato menirukan kelakuan Bung Hatta saat berada di kawasan itu.

“Saudara-saudara, 15 tahun yang lalu orang Indonesia seperti bebek yang mati kehausan di kolam dan seperti ayam yang mati kelaparan di lumbung!” teriaknya di depan temannya.

Usai sambutannya, Enoh mengomentari pidato Hatta yang baru saja ia teriakkan. Dia menggerutu, jika kolamnya kering, dia mati kehausan dan jika lumbungnya kosong, dia mati kelaparan. Sebelum pesta dansa selesai, tanpa diduga, Bung Hatta keluar dari ruangan dekat pos jaga dan tanpa berkomentar langsung masuk ke Istana.

Tentu saja, Enoh terkejut tak terkira. Dia mengutuk temannya karena tidak memberitahunya bahwa Bung Hatta ada di dekat mereka saat itu. Bukannya merasa bersalah, teman Enoh malah tertawa senang.

"Rasain lu!" dia berkata.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama