Kisah Dibalik Filosofi Bhayangkara

Tak hanya membangun tubuh institusi, kepemimpinan Soekanto juga mengisi jiwa kepolisian. Semangat dan filosofi kepolisian tercermin dalam simbolnya.

Soekanto dan Lambang Polri.

Kebakaran hebat melanda Markas Besar Polri di Jalan Trunojoyo pada 1995. Di tengah puing-puing, Noegroho Djajoesman, sekretaris Direktorat Samapta Polri, berhasil menyelamatkan satu benda berharga berupa spanduk: Pataka Polri. Penemuan pusaka itu diceritakan kepada ayahnya, Hendra Djajoesman. Sang ayah tahu persis sejarah Pataka Polri karena pernah menjadi ajudan Soekanto.

“Tiang Pataka berasal dari pohon yang terdapat di pulau Karimun Jawa, yang secara khusus diambil oleh Soekanto dengan cara tirakatan,” kata Hendra dalam biografi Nugroho Djajoesman, Menunggangi Gelombang Reformasi. Menurut Hendra, Pataka Polri dibuat khusus oleh Soekanto. Bendera dijahit oleh Ibu Soekanto bernama Lena Mokoginta.

Setengah abad sebelumnya, pada 1 Juli 1955, Pataka secara simbolis diserahkan oleh Presiden Sukarno kepada Kapolri Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Hari itu, di Lapangan Banteng, merupakan perayaan HUT Polri sekaligus peresmian gedung Mabes Polri.

Dalam Pataka, diusung lambang bendera Polri yang bertuliskan Rastra Sewakottama yang artinya “hamba utama nusa dan bangsa”. Gelar tersebut adalah Brata pertama dari Tri Brata. Tri Brata sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Tiga Jalan”. Nagara Janottama adalah Brata kedua, artinya, “warga negara teladan”. Dan Yana Anucasana Dharma adalah Brata ketiga yang artinya, “wajib menjaga ketertiban masyarakat”. Tri Barata itulah yang dikatakan Soekanto saat menerima Pataka Polri dari Presiden sebagai way of life bagi Polri.

Disebutkan dalam biografi Jenderal Polisi Soekanto R.S Soekanto Tjokrodiatmodjo: Bapak Polri Pendiri Polri Profesional dan Modern yang disusun oleh Awaloedin Djamin dan Ambar Wulan, diperlukan panitia khusus untuk merancang Pataka Polri. Soekanto menginstruksikan pembuatan lambang polisi melalui Surat Perintah Nomor 4/XVI/1955 tanggal 2 Maret 1955. Panitia tersebut melibatkan ahli heraldik (pakar lambang) dan Majelis Guru Besar PTIK. Di antara mereka ada dua ahli hukum terkemuka, Djokosoetono dan Prijono, yang menggagas Tri Barata.

Spanduk polisi terbuat dari beludru hitam dan berukuran 90x135 cm dan memiliki perisai kuning keemasan yang dicat di atasnya. Warna hitam melambangkan ketenangan abadi sedangkan kuning keemasan melambangkan kebesaran jiwa. Perisai menandakan bahwa korps polisi adalah pelindung rakyat. Di dalam perisai, dicat obor berujung 8 dan balok berujung 17 dan pilar di kepala dengan 4 bilah dan di kaki dengan 5 bilah.

“Tiga bintang di atas logo berarti Tri Brata adalah urat nadi Polri. Sedangkan hitam dan kuning adalah warna legendaris Polri," tulis polri.go.id, laman resmi Polri.

Yang menarik, di kanan dan kiri tameng tersebut dilingkari bunga kapas yang bergambar 29 helai daun dan 9 kuntum bunga serta 45 batang padi berjajar. Hal ini mengacu pada tanggal pengangkatan Soekanto sebagai Kapolri pertama, 29 September 1945.

Saat panitia menyerahkan draf Pataka, Soekanto setuju. Saat membuat kayu untuk spanduk, Soekanto bersama dengan pengawasan DPKN menunggunya dari jam 7 malam hingga jam 4 pagi di sebuah rumah di Jalan Melawai.

Hingga saat ini, Pataka Polri merupakan simbol kesatuan kepolisian negara Indonesia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama