Ketika Presiden Soekarno mengerjai Jenderal Nasution

Isu pembelian senjata berat sempat terhenti karena terlilit utang. Bung Karno masih mengganggu Nasution lewat aksi tukar kursi.

Jenderal Nasution dengan Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev di Bali, Februari 1960.

Pada akhir September 1964, Jenderal Abdul Haris Nasution berangkat ke Uni Soviet. Saat itu TNI membutuhkan rudal jarak menengah. Konflik konfrontatif dengan Malaysia memanas. Sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Nasution siap jika terjadi perang dengan Malaysia yang didukung Inggris.

Ini merupakan kunjungan kesekian kalinya bagi Nasution dalam misi pembelian senjata berat. Ia didampingi dua staf staf Komando Siaga (KOGA), Laksamana Mulyadi dan Brigjen Ahmad Wiranatakusumah. Untuk memperlancar lobi, Presiden Sukarno rencananya akan bergabung setelah menyelesaikan kunjungannya di Jenewa.

Pada hari kedatangan Sukarno di Moskow, pejabat tinggi Soviet menyambutnya di bandara. Mereka termasuk Perdana Menteri Nikita Khrushchev, Presiden Anastas Mikoyan, dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Leonid Brezhnev. Ketika dia melihat Nasution di antara rombongan dari Indonesia, Khrushchev datang dan mengulurkan tangannya kepada sang jenderal.

Dalam memoarnya Fulfilling the Call of Duty Volume 6: Kebangkitan Orde Baru, Nasution menceritakan percakapannya dengan Khrushchev. Komunikasi di antara mereka, tentu saja, terjalin melalui bantuan penerjemah.

"Jenderal Nas ada di Moskow, saya telah mengunci semua gudang, Anda tidak bisa mendapatkan senjata yang Anda inginkan," canda Khrushchev.

"Tidak masalah bagi saya, karena saya memiliki tangan di Moskow, termasuk Perdana Menteri Khrushchev," jawab Nasution. Mendengar jawaban ini, Khrushchev tertawa terbahak-bahak.

Sesampainya di Istana Kremlin, pihak Indonesia dan Uni Soviet duduk saling berhadapan. Di meja perundingan, Nasution membisikkan kepada Sukarno kontrak pembelian yang diinginkan. Sukarno meneruskannya ke Uni Soviet yang ditanggapi Khrushchev.

"Bagaimana saya bisa membantu Indonesia, sudah lama angsuran tidak dibayar," kata Khrushchev.

Nasution mengakui angsuran tahun 1963 itu memang tidak tepat. Begitu juga dengan cicilan di tahun berjalan. Namun, menurut dia, tunggakan tersebut sebagian sudah dilunasi. Panitera Uni Soviet membuat perhitungan pada catatan kecil dan menyampaikannya ke departemen perdana menteri. Ketika catatan itu tiba di Presiden Mikoyan, dia tidak segera memberikannya kepada Khrushchev.

"Dia menatapku agak nakal dan aku balas tersenyum, kami duduk berseberangan di meja perundingan," kenang Nasution.

Rupanya akuntan Uni Soviet untuk urusan Perdagangan Luar Negeri membantah pernyataan pembayaran Nasution. Namun, catatan kecil itu masih menempel di Mikoyan. Ada lampu hijau untuk bisnis jual beli senjata. Nasution bisa lega. Setelah kontrak pembelian ditandatangani, dua hari berturut-turut diadakan jamuan makan oleh Soviet untuk tamu Indonesia mereka.

Dalam jamuan makan di Kremlin, Khrushchev terang-terangan mengkritik poros Jakarta-Peking yang digagas Bung Karno. Dia berkata, "Nasib poros ini akan sama dengan poros Fasis-Nazi, Roma-Berlin dulu." Khrushchev terus terang.

Pada jamuan kembali keesokan harinya, Khrushchev tidak bergabung karena dia sedang berlibur bersama cucu-cucunya di Laut Hitam. Hanya Presiden Mikoyan dan Sekretaris Jenderal Brezhnev yang menjadi tamu penting. Bung Karno duduk di samping Brezhnev sementara Nasution menemani Mikoyan.

Karena Indonesia adalah tuan rumah, maka pengaturan tempat duduk telah diatur oleh ajudan Presiden Sukarno. Kebetulan kursi di sebelah Nasution kosong. Seorang ajudan presiden kemudian mengantar seorang wanita Soviet yang cantik dan mempersilakannya duduk di sebelah Nasution. Setelah berkenalan, Nasution menemukan bahwa wanita itu adalah seorang bintang film.

Setelah selesai makan, baru sebatas pembicaraan, Soekarno datang ke Nasution. Dalam bahasa Belanda, Bung Karno berkata, “Nas, tempat saya tochtig (dingin), saya tidak kuat. Kamu duduk saja di sini, ayo bertukar tempat." Keduanya lalu bertukar tempat duduk.

“Soviet agak tercengang melihat kami bertukar tempat. Bung Karno sibuk ngobrol dengan artis tadi dan saya harus bertemu Presiden Mikoyan dan Brezhnev,” kenang Nasution.

Selama dua jam perjamuan, terjadi devolusi kekuasaan. Bung Karno menyerahkan sepenuhnya urusan diplomatik Nasution dengan para pemimpin Uni Soviet.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama