Jenderal Nasution dan Senjata Uni Soviet

Meski dikenal sebagai anti-komunis garis keras, Nasution tidak menolak tawaran Uni Soviet untuk memodernisasi Angkatan Bersenjata Indonesia.

Jenderal Abdul Haris Nasution dan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khrushchev.

Presiden Sukarno gusar begitu mendengar kapal induk Belanda, Karel Doorman, memasuki Irian Barat. Hubungan Indonesia dan Belanda semakin panas menuju ke arah perang. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Abdul Haris Nasution merangkap Menteri Pertahanan, dipanggil menghadap Sukarno

Di Istana Negara, sebuah misi terucap dari Bung Karno. Dalam memoarnya, Nasution mengingat pembicaraan itu berlangsung sekira akhir November atau awal Desember 1960.

“Nas, kamu saya utus ke Moskow. Persiapkan segala sesuatu,” demikian perintah lisan Sukarno kenang Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Presiden Sukarno meminta Nasution membeli senjata berat milik pemerintah Uni Soviet.

Bagi Nasution, memesan itu seperti menjilat ludah sendiri. Pemerintah Uni Soviet, sebelumnya telah menawarkan bantuan militer untuk menjual alat utama sistemnya kepada Indonesia. Tawaran tersebut disampaikan Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev dalam lawatannya ke Indonesia pada Februari 1960. Namun atas permintaan Angkatan Darat, tawaran Khrushchev menghadap. Nasution masih berkeyakinan senjata berat yang dibutuhkan dapat diperoleh dari Amerika Serikat (AS).

“PM Khrushchev membuka jalan untuk pembelian senjata bagi TNI. Tapi saya mendahulukan untuk memperoleh di AS,” ujar Nasution.

“Misi Nasution”

Pada Oktober 1960, Nasution mencoba melobi AS untuk memperoleh senjata berat ofensif. Walhasil Nasution pulang dengan tangan hampa. Presiden Eisenhower enggan menjualnya kepada Indonesia karena menerapkan dengan Belanda dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Bagi Presiden Sukarno tiba tepat menempatkan Uni Soviet sebagai kekuatan penyeimbang. Jenderal Nasution diutus ke Moskow pada akhir Desember 1960. Selama seminggu proses negosiasi, persetujuan pembelian senjata berhasil diselesaikan pada 6 Januari 1961. Diplomat kawakan Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno mencatat kerjasama militer itu tertera dalam piagam ”untuk membela perdamaian dan persaudaraan di Asia Tenggara ”.

Di Moskow, Nasution mendapat pelayanan yang menyenangkan dari pemerintah Uni Soviet. Kesempatan berpidato di Istana Kremlin digunakan Nasution untuk menyatakan terima kasih. Nasution juga mengapresisasi sikap bersahabat yang ditunjukan Nikita Khruschev terhadap dirinya.

“Saya menyatakan bahwa RI dan Uni Soviet memiliki ideologi dan situs yang berbeda, yang satu adalah Pancasila dan yang lain adalah Marxisme. Namun terjadi kerja sama yang erat dengan dasar politik yang sama dengan anti-kolonialisme,” kata Nasution dihadapan petinggi pemerintah Soviet. Ketika Nasution Kembali ke Tempat Duduknya, Khrushchev menyambut Nasution dengan kata-kata “orator, orator”.

Misi Nasution pulang ke Indonesia dengan membawa peralatan tempur senilai $450 juta. mekanisme pembayaran secara kredit berjangka 20 tahun dengan bunga 2,5 persen. Kebutuhan Angkatan Laut dan Angkatan Udara menempati slot utama dalam agenda pembelian tersebut.

“Yang terbesar adalah untuk AL,” ungkap Nasution. “Termasuk 12 kapal selam, belasan kapal roket cepat, pesawat-pesawat AL, helikopter-helikopter dan peralatan amfibi untuk KKO lebih kurang 3 resimen.”

Angkatan Udara pesawat jet tempur, pesawat meningkat, dan sistem pertahanan udara beserta radarnya. Sedangkan untuk Angkatan Darat terbatas pada tank dan perlengkapan artileri. Kontrak tersebut masih akan terus disesuaikan kebutuhannya untuk satu semester ke depan. Pasalnya, sistem yang digunakan Soviet yang dialihkan untuk Indonesia memerlukan waktu dalam operasionalnya: proses pengiriman, persiapan pangkalan dan laut, serta pelatihan. Oleh karenanya, Indonesia masih akan melanjutkan pembelian senjata dari Uni Soviet pada bulan Juni 1961.


Angkatan Perang Terkuat

Walaupun belum siap tempur, pembuatan dari Uni Soviet memberi semangat bagi Angkatan Perang Indonesia. Menurut Johannes Soedjati Djiwandono dalam Konfrontasi Revisited: Indonesia Foreign Policy Under Soekarno, Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia yang memperoleh senjata berat termutakhir dari Uni Soviet. Beberapa di antaranya seperti pesawat bomber jarak menengah TU-16 dan pesawat jet tempur MIG-21. Untuk mengajukan Kareel Doorman, Indonesia memesan sebuah kapal kapal Soviet yang kemudian dinamai KRI Irian berbobot 16640 ton. Tak ayal lagi, kekuatan militer Indonesia pada saat itu merupakan yang terkuat di belahan bumi selatan.

Universitas Sejarawan Connecticut, Bradley Simpsons yang mendalami kajian Asia menyebutkan keberhasilan misi Nasution berdampak besar terhadap pertarungan Perang Dingin. Pengaruh Soviet kian menguat di tubuh Angkatan Perang Indonesia. Pimpinan Angkatan Darat seperti Nasution yang antikomunis sekalipun bersimpati atas jasa Soviet memodernasi TNI.

“Bantuan militer Soviet secara signifikan telah memperkuat posisi Moskow di Angkatan Laut dan Angkatan Udara Indonesia, dan perwira-perwira Angkatan Darat di Jawa seperti Jenderal Nasution, yang sudah lama mencurigai dukungan Amerika Serikat kepada PRRI,” tulis Simpsons dalam Economist with Guns: Amerika Serikat, CIA dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru.

Di sisi lain, peran Soviet di Indonesia membuat Presiden AS John F. Kennedy yang baru terpilih menjadi gelisah. Pemerintahan Sukarno yang condong ke blok Soviet mulai paksa AS untuk ikut ambil bagian dalam konflik Irian Barat. Gedung Putih hanya akan menyuguhkan dua pilihan: Indonesia atau Belanda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama