Inilah Alasan Kenapa Jalan Daendels Berakhir di Panarukan

Setelah selesai, Daendels mengeluarkan berbagai peraturan untuk penggunaan jalan Anyer-Panarukan. Kenapa harus berakhir di Panarukan?

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Setelah Jalan Anyer-Panarukan rampung, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan tiga peraturan terkait pengaturan dan pengelolaan jalan tol ini. Peraturan pertama dikeluarkan pada tanggal 12 Desember 1809 yang memuat peraturan umum penggunaan jalan raya, pengaturan surat pos dan pengelolaannya, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta api pos, komisaris pos, pelayanan pos dan jalan raya.

Peraturan kedua dikeluarkan pada tanggal 16 Mei 1810 tentang perbaikan jalan pos dan peraturan pembawa pos dan gerobaknya. Peraturan ketiga tanggal 21 November 1810 tentang penggunaan gerobak atau gerobak kerbau, baik untuk angkutan barang pemerintah maupun swasta dari Jakarta, Priangan, Cirebon, ke Surabaya.

Meskipun tujuan awalnya terutama untuk tujuan ekonomi, Jalan Anyer-Panarukan kemudian dikenal sebagai Jalan Raya Pos. Daendels mengumumkan berdirinya Dinas Pos pada 3 Agustus 1808, peraturan disusun pada 18 Juli 1808. Dinas Pos berada di bawah Komisaris Jalan Raya dan Urusan Pos yang dipimpin oleh Van Breeuchem dengan gaji 5.000 ringgit per tahun. Tugasnya adalah mengkoordinir pelayanan komunikasi berupa pengiriman paket pos dan bertanggung jawab atas perbaikan dan pemeliharaan jalan dan fasilitas yang berhubungan dengan pos.

Prefek (posisi tingkat residen) juga bertanggung jawab atas layanan pos layanan dan individu di wilayah masing-masing. Prefek menunjuk petugas administrasi dibantu oleh petugas adat dengan gaji lima ringgit per bulan, menyediakan kuda untuk pos-pos transportasi, dan berkoordinasi dengan militer setempat untuk memberikan pengawalan untuk pengiriman paket penting atau ketika melewati daerah rawan.

Kantor Pos dibagi menjadi empat kabupaten serta kantor pos utama: Banten, Batavia, Semarang dan Surabaya. Kantor pos besar menampung paket dan surat dari sekitar 47 kantor pos setempat. Pengiriman ke dan dari kantor pos utama dilakukan dua kali seminggu pada hari Sabtu dan Selasa – sumber lain mengatakan hari Sabtu dan Kamis.

“Di setiap beberapa paal ada losmen atau losmen untuk berganti kuda dan istirahat dan menjadi tanggung jawab bupati untuk mengurus losmen tersebut,” kata Djoko Marihandono, sejarawan Universitas Indonesia yang menulis disertasi tentang Daendels.

Di setiap wisma, antara 8 dan 16 kandang kuda disediakan dengan akomodasi untuk pengangkut gerobak dan penumpang untuk beristirahat. Dari Bogor ke Surabaya, sekitar 12 penginapan dengan setidaknya 6-8 kamar dan gudang dan stasiun kereta api juga didirikan. Petugas pos mengenakan seragam dengan jas dan celana biru atau merah dan memakai selempang putih dengan cap pos di tangan kiri. Untuk menghindari cara yang salah, disediakan panduan.

Selain paket umum dan surat, baik pribadi maupun resmi, juga terdapat pesan-pesan yang bersifat rahasia. Petugas yang membawa pesan rahasia ini harus bertanggung jawab jika perlu diperintahkan untuk mempertaruhkan nyawanya. Oleh karena itu, setiap karung pos dimasukkan ke dalam peti yang kuncinya disimpan di masing-masing kantor pos. Kepala pos diizinkan untuk membuka peti tetapi dilarang keras untuk membuka bungkusan itu.

Yang menarik, menurut Djoko, ada juga pesan rahasia berupa lisan (messagerie). “Pesan itu dibisikkan ke kurir dan kurir ini dijaga ketat sepanjang perjalanan sampai tujuan. Ketika kurir ini lewat, semua orang harus menyingkir, dan jika menghalangi bisa ditembak langsung oleh penjaga," kata Djoko.

Lalu kenapa jalan yang dibangun Daendels harus berakhir di Panarukan? Saat berkunjung ke Surabaya pada awal Agustus 1808, Daendels melihat bahwa jalan dari Surabaya perlu diperpanjang ke arah timur. Tujuannya agar Ujung Timur (Oosthoek) merupakan daerah yang potensial untuk produk tanaman tropis selain kopi, seperti gula dan nila. Selain itu, ada kemungkinan perairan di sekitar Selat Madura memberikan peluang bagi pendaratan pasukan Inggris. Untuk itu, ia memerintahkan F. Rothenbuhler, pemegang kekuasaan (gesaghebber) East End untuk bertanggung jawab atas pembangunan jalan Surabaya ke East End yang dimulai pada September 1808.

Titik ujung jalan di Ujung Timur terletak di Panarukan, dan tidak dibangun sampai Banyuwangi. Pertimbangannya, Banyuwangi dinilai tidak memiliki potensi sebagai pelabuhan ekspor. Sedangkan Panarukan dipilih karena dekat dengan areal lumbung gula di Besuki dan dengan lahan pribadi yang menghasilkan produk-produk tropis yang penting.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama