Dibalik Kematian Cleopatra

Tragedi kematian Cleopatra sangat populer di seluruh dunia. Ada beberapa versi penyebab meninggalnya penguasa terakhir Mesir Kuno ini.

Lukisan Juan Luna "The Death of Cleopatra" dari tahun 1881.

Cleopatra (69 SM–30 SM) terbujur di samping kematiannya yang legendaris, lengkap dengan mahkota dan perhiasan. Meski masih, konon Cleopatra membunuh diri sendiri menggunakan ular Naja haje (sebagai) sarangkan di tempat itu sendiri.

Jauh sebelumnya Cleopatra memilih untuk memihak Marc Antony yang merupakan ayah dari ketiga anaknya sekaligus sekutu politiknya dalam pertempuran Actium. Setelah Julius Caesar dibunuh, Antony yang merupakan jenderal sekaligus administrator Julius Caesar, melawan ahli waris sang kaisar, Oktavianus.

Namun, pasangan kekasih itu bersama pasukannya bertahan lama. Mereka kalah dalam perang saudara itu. Cleopatra memenangkan pertempuran, melarikan diri ke Mesir. Antony yang berhasil melepaskan diri dari pertempuran mengikuti Cleopatra.

Namun, ketika tiba giliran Alexandria diserang pasukan Oktavianus, Antony mendengar desas desus bahwa Cleopatra telah membunuh diri. Dengan pedangnya, Antony menyusul kekasihnya. Antony mati tepat ketika tiba berita bahwa rumor itu salah.

Setelah menguburkan Antony dan bernegosiasi dengan Oktavianus, Cleopatra mengunci dirinya di kamar bersama dua pelayan perempuan. Mereka kemudian ditemukan sudah mati.

"Ini artinya cara kematian Cleopatra tak pasti," tulis History.com.

Akhir hidup Cleopatra yang misterius bertolak belakang dengan kenyataan bahwa ia merupakan salah satu tokoh perempuan paling dikenal dalam sejarah. Berbagai karya seni dan sandiwara mengabadikan namanya.

Kematian Cleopatra dianggap sebagai salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah kuno. Namun, tak pernah ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar Cleopatra yang tidak terkunci itu.

Dipatuk Ular Kobra

Adrian Tronson, profesor sejarah kuno Universitas New Brunswick, Kanada, menyebut kisah kematian Cleopatra sebagai mitos budaya yang diwakili berkali-kali dalam karya seni dan sastra.

"Saya percaya bahwa dasar sejarah ia melakukan bunuh diri dengan ular meragukan," tulis Tronson dalam "Vergil, the Augustans, and the Invention of Cleopa's Suicide-One Asp or Two" termuat di Vergilius 44 (1998).

Di antara kisah hidup Cleopatra, kematiannya akibat ular bahkan yang paling banyak diabadikan dalam budaya populer. Baik sebelum maupun sebelum adanya pertunjukan Shakespeare tentang tragedi Antony dan Cleopatra. "Versi yang dengan sendirinya menjadi resmi," tulis Tronson.

Kisah itu diterima secara luas, baik dalam budaya populer maupun wacana akademis, bahwa Cleopatra hidup di usia 39 tahun menggunakan ular kobra Mesir atau Naja haje.

Mereka yang tak yakin meneliti catatan kuno tentang metode bunuh diri Cleopatra. Telah terbukti berulang kali bahwa tidak ada kepastian sejarah yang kuat atas kisah ini.

Para peneliti banyak melihat catatan kuno. Sumber informasi tertua berasal dari Strabo, sejarawan dan geograf Yunani yang hidup pada masa kematian Cleopatra. Bahkan, ketika itu kemungkinan berada di Alexandria.

Sebagaimana dikutip Tronson, Strabo menulis bahwa Cleopatra ditawan oleh Oktavianus. Ia bunuh diri secara diam-diam di dalam tahanan. Namun, agaknya Strabo tak yakin apakah itu dengan "asp" atau dengan obral.

"Jelas dari Sumber Strabo bahwa setidaknya ada dua cerita yang beredar pada masanya," tulis Tronson.

Sumber berikutnya dari Plutarch (46 M–119 M), penulis biografi asal Yunani. Dalam catatannya, ia tak yakin dengan kisah ular itu.

"Tidak ada jejak reptil yang pernah ditemukan, meskipun demikian beberapa mengatakan mereka melihat jejak di dekat laut, di mana jedela kamar (Cleopatra, red.) menghadap ke laut," kata Plutarch sebagaimana dikutip arkeolog Inggris, Joyce Tyldesley dalam Cleopatra: Last Queen dari Mesir.

Sementara itu, menurut Plutarch, Kaisar Octavianus agaknya tidak percaya versi kematian oleh ular ini. Ia bahkan membawa gambaran Cleopatra yang dililit ular dalam kemenangannya.

Penulis biografi lainnya yang sezaman dengan Plutarch adalah Suetonius. Sebagai sekretaris, ia memiliki akses ke sumber resmi dan arsip negara. Dalam tulisannya tentang Kaisar Augustus, ia secara singkat menyebut Cleopatra.

Menurutnya, Oktavianus sebenarnya sangat menginginkan sang ratu tetap hidup. Kaisar Augustus I ini bahkan membawa masuk Psylli, pawang ular terkenal untuk menyaksikan ular di Cleopatra.

"Versi ini sejalan dengan apa yang dikatakan Plutarch tentang kepercayaan Okvianus yang terkenal pada cerita. ular," tulis Tron

Kemudian ada penulis dari abad ke-4, Orosius. Tronson menyebut pengamat ini sepertinya berharapkan keterangannya berdasarkan pendapat Suetonius. Namun, Orosius menambahkan bahwa terletak ular di lengan kiri Cleopatra. "Tetapi ini mungkin kesimpulannya sendiri," tulis Troson.

Sengaja Dibunuh?

Joyce Tyldesley tak percaya Cleopatra bunuh diri dengan ular. Cara ini tidak mudah karena seekor ular diperkirakan bisa membunuh tiga orang: Cleopatra dan dua dayangnya. Risiko kegagalannya tinggi.

Pat Brown, pembuat profiler kejahatan dari Amerika, dalam The Murder of Cleopatra: History's Greatest Cold Case juga berpikir sama. "Saya berada di Mesir, Roma, dan Inggris bekerja dengan ahli Mesir Kuno, racun, arkeolog, dan ketika sejarah dunia kuno, saya mulai mengumpulkan cerita yang lebih kredibel di balik kematian Cleopatra," tulisnya.

Brown tak membayangkan kalau Cleopatra yang berstatus sebagai tawanan Octivianus dibiarkan tanpa pengawasan di dalam kamarnya. Tak mungkin pula kalau tak dilakukan penyisiran secara menyeluruh untuk memastikan tak ada benda yang bisa digunakannya untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

"Orang pasti berpikir akan ada penjaga yang kompeten yang ditempatkan di luar pintu dan mungkin satu atau dua penjaga di dalam pintu juga," tulis Brown.

Sebelumnya, Plutarch menulis bahwa seekor ular di antara buah ara di dalam keranjang. Aneh jika para penjaga tidak melindungi keranjang ketika para dayang membawanya masuk ke kamar Cleopatra. "Lihatlah sesuatu yang mungkin terlewatkan selama pencarian semacam itu," tulis Brown.

Fran├žois Pieter Retief, pensiunan dosen dan dekan kedokteran di University of the Free State, dan Louise Cilliers, peneliti kehormatan di Departemen Studi Yunani, Latin, dan Klasik, dalam "The Death of Cleopatra" termuat di Acta Theologica: No. 7 (2005) : Supplementum berpendapat bahwa ular besar tidak akan muat ke dalam keranjang buah ara. Mereka lebih setuju jika sang ratu dan dua dayangnya mati akibat racun.

Menurutnya, kobra memang dapat menyebabkan kematian yang cepat meskipun luka kecil. Namun, untuk membunuh tiga orang dewasa, ular itu harus berukuran besar. Jika begitu, akan sulit untuk diselundupkan dalam keranjang kecil yang berisi buah ara dan luput dari pengawasan penjaga.

"Kemungkinan besar keracunan membunuh dengan begitu cepat tiga wanita dewasa, Cleopatra dan pelayannya, Charmion, dan Iras," tulisnya.

Namun, ada teori lain, yakni sang ratu sengaja dibunuh. Tersangka terkuat adalah Oktavianus. Pat Brown percaya ini.

"Saya tidak percaya tentang apa yang benar-benar terjadi masih tersembunyi di balik selubung propaganda dan sandiwara yang dimainkan oleh pembunuhnya, Octavianus dan agenda dari Rowawi," tulis Brown.

Dengan demikian, bagi sejarah, kematian Cleopatra akan menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sementara budaya populer kemungkinan besar akan tetap terpesona oleh kisah romantis dan eksotis dari penguasa klan Ptolemeus terakhir di Mesir itu bersama Romawinya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama