Bung Karno Minta Relawan Berenang ke Papua

Bagaimana politisi sipil berbicara tentang operasi militer dalam kampanye pembebasan Irian Barat.

Barisan relawan saat kampanye pembebasan Irian Barat, 30 April 1962.

Publik Indonesia dihebohkan saat tersiar kabar tenggelamnya KRI Matjan Tutul di Laut Arafuru. Seruan untuk membalas aksi militer Belanda tersebar luas. Tak terkecuali suara politisi sipil. Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution harus bersabar mendengar ocehan mereka.

“Suatu ketika Menlu Soebandrio mendesak untuk mentorpedo kapal perusak Belanda,” kenang Nasution dalam memoarnya Fulfilling the Call of Duty Volume 5: Memories of the Old Order. Soebandrio berkata, "Itu cukup untuk mendorong tindakan diplomat yang sukses."

Menurut Nasution, belum saatnya TNI melancarkan serangan militer. Jenderal dari Mandailing menghitung bahwa Belanda akan menyerang balik pangkalan militer Indonesia di Maluku dan Sulawesi. Tindakan gegabah tersebut bahkan bisa mengganggu persiapan invasi yang sedang dirancang oleh pimpinan Operasi Mandala.

Namun, tekanan dari warga sipil untuk melancarkan serangan tampaknya semakin kuat. Suasana ini rupanya memicu Presiden Sukarno untuk segera mengalahkan Belanda. Hingga suatu ketika, Bung Karno mengumpulkan sejumlah jenderal dan menteri senior.

Atmadji Sumarkidjo dalam Misi Tercapai: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Indonesia Tjandrasa mencatat bahwa pertemuan itu terjadi pada 21 Februari 1962. Selain Bung Karno, Menteri Pertama, Ir. Djuanda Kartawidjaja, Menteri Luar Negeri Soebandrio, Menteri Penerangan Muhammad Yamin, Jenderal Nasution, Kepala Staf KOTI Mayjen Achmad Yani, dan Panglima Komando Mandala Mayjen Suharto. Bung Karno langsung membombardir Suharto dengan sederet pertanyaan.

“Sejak kapan infiltrasi besar-besaran bisa berlanjut? Kami mengisi Irian dengan gerilyawan kami!” seru Bung Karno. Suharto mengatakan bahwa misi itu akan dilakukan sesegera mungkin. Sambil menunjuk peta, Suharto menjelaskan bahwa pasukan pertama-tama harus dipusatkan di pulau-pulau kecil di sekitar kepala burung.

“Kalau begitu segera angkut sebanyak-banyaknya,” kata Sukarno.

"Transportasi, Pak," jawab Suharto sambil melirik Nasution.

“Kita juga akan menggunakan kapal angkutan umum. Tidak perlu menunggu yang masih diimpor dari Rusia,” Djuanda memberi masukan.

"Betul Pak Djuanda, tapi pengorganisasian armada ini tetap berjalan," bantah Nasution.

Bung Karno setuju dengan gagasan Djuanda bahwa pasukan harus segera mendarat di Irian. “Kalau perlu saya suruh semua orang pergi berenang ke Irian,” kata Bung Karno bersemangat.

Nasution dalam memoarnya membenarkan ucapan Sukarno, "Kalau perlu minta relawan berenang ke Irian Barat." Instruksi lisan tersebut menggambarkan besarnya tekanan dari pihak sipil untuk segera membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Nasution juga mencatat desakan Soebandrio bahwa paling lambat April 1962, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia telah menyerbu posisi Belanda di Papua.

"Saya dan teman-teman saya, termasuk Panglima Suharto, dikritik karena terlalu berhati-hati dalam menangani tuntutan sipil yang mendesak," kata Nasution.

Suharto sendiri dalam otobiografinya mengutip usulan Yamin dalam rapat kabinet agar TNI menenggelamkan kapal Belanda. Begitulah Soeharto dipanggil ke Istana dan mendapat perintah untuk menenggelamkan kapal Belanda. Semua ini semata-mata untuk kepentingan politik untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di bidang diplomasi. Suharto hanya bisa geleng-geleng kepala karena gagal memahami isi pikiran para politisi sipil tersebut.

“Aneh saja,” kenang Suharto dalam otobiografinya Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang disusun oleh Ramadhan K.H.

Menanggapi tantangan menenggelamkan kapal Belanda, Suharto meminta jaminan apakah langkah ini akan berhasil memenangkan sengketa Irian Barat. Namun Yamin bersikeras bahwa langkah itu untuk tujuan politik. Suharto menepisnya dengan menyebut peran politisi yang telah bernegosiasi selama 11 tahun tetapi selalu gagal.

"Lalu ingin merusak rencana yang dipercayakan kepadaku untuk melakukan operasi militer?" kata Suharto.

Untuk melancarkan serangan secepatnya, Suharto mengatakan masih membutuhkan penambahan persenjataan, pesawat dan perlengkapan perang yang memadai. 

Presiden Sukarno akhirnya bersedia memberikan waktu kepada Komando Mandala untuk mempersiapkan operasi militer. Itulah sebabnya Jenderal Nasution, sebagaimana dicatat oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6, menandatangani kontrak pembelian senjata ke Moskow, Uni Soviet untuk ketiga kalinya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama