Bukti Toleransi dari Candi

Peninggalan masa lalu berupa candi mengajarkan kehidupan toleransi. Intoleransi muncul karena ketidakadilan.

Candi Plaosan.

Dua bangunan suci kembar yang megah dari masa lalu menyembul di tengah persawahan dan memanggil warga di Dusun Plaosan Lor, Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Puncak-puncak stupa atapnya. Di sekelilingnya 174 candi yang lebih mungil disusun dalam tiga baris. sebagian besar sudah runtuh, sebagian lainnya telah dipugar kembali.

Kompleks Percandian Plaosan Lor itu, menurut Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), adalah wujud toleransi yang telah berakar di tengah masyarakat Nusantara sejak masa silam. Percandian dari era Mataram Kuno abad ke-9 itu didirikan secara bergotong royong.

“Dibangun oleh maharaja yang beragama Buddha Mahayana, tapi candi-candi kecilnya dibangun oleh raja beragama Hindu,” kata Bambang yang akrab disapa Tomi dalam diskusi berani yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berjudul “Toleransi, Akar Lama Penguat Bangsa”, Kamis, 29 April 2021.

Sikap toleransi bukan hal baru bagi masyarakat Nusantara. Mengingat kawasan Nusantara telah menjadi tempat bertemunya bangsa-bangsa dari segala penjuru dunia.

“Ada India, Tiongkok, lalu sekira abad ke-14 ada Eropa. Kita dari sini melihat yang tadinya penutur bahasa Austronesia lalu bercampur dengan lainnya, maka masyarakat kita jadi multikultural, bukan hanya multietnis,” kata Tomi.

Akar Toleransi Beragama

Dalam Candi Indonesia Seri Jawa, arkeolog Edi Sedyawati menjelaskan candi-candi di Plaosan Lor dibangun sebagai dharma yang dipersembahkan oleh raja, keluarganya, dan para pejabat tinggi kerajaan sebagai wakaf bangunan suci kebuddhaan.

Pada candi-candi kecil atau perwara terdapat prasasti pendek yang menyebutkan nama para penyumbang atau pemberi wakaf. Di antaranya adalah dharmma sri maharaja, asthupa sri maharaja Rakai Pikatan (Stupa persembahan Rakai Pikatan), anumoda sang kalung warak Pu Daksa (persembahan Sang Kalungwarak Pu Daksa), anumoda sri kahulunnan (persembahan Sri Kahulunnan), dan anumoda sang da pankur pu agam ( persembahan Sang Da Pangkur Pu Agam).

Dalam “Laporan Penelitian Candi Sari, Prambanan, Yogyakarta” yang disusun arkeolog Soeroso SP, Titi Surti Nastiti, Bambang Budi Utomo, Richadiana Kartakusuma, dan P.E.J. Ferdinandus pada 1985, dijelaskan sesuai prasasti pendek itu, nama Rakai Pikatan bersama Sri Kahulunan mendirikan candi Buddhis. Sementara di Prasasti Siwagrha (856 M) Rakai Pikatan dengan pembangunan candi untuk pemeluk agama Siwa.

Adapun Sri Kahulunan dalam beberapa prasasti dengan menemukan bangunan suci bagi Buddha. Misalnya, Prasasti Tri Tpusan (842 M) menyebut dia meresmikan kamulan bernama Bhumisambhara yang banyak diartikan sebagai Candi Borobudur.

“Sri Kahulunan adalah gelar Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga yang beragama Buddha. Dia menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Siwa. Tak heran jika bersama-sama mendirikan suatu bangunan suci,” tulis laporan penelitian itu.

Karenanya menurut Tomi, pada abad ke-9 para pemeluk Buddha dan Hindu hidup indah indah. “Saling membantu dalam pendirian bangunan suci meski keyakinan berbeda,” kata Tomi.

Sekira pada masa yang sama hubungan harmonis antara kedua agama itu nampak pula dalam Arca Awalokiteswara yang ditemukan di Desa Bingin Janggut, Musi Rawas, Sumatra Selatan. Arca ini berasal dari masa Sriwijaya sekira abad ke-8 hingga ke-9. Di bagian punggungnya terpahat sebuah tulisan dalam bahasa Melayu Kuno: “dang acaryya syuta”.

“Ini adalah arca Buddha Mahayana, arca bodhisatva yang dibuat untuk dipersembahkan kepada masyarakat Penganut Buddha dari seorang pendeta Hindu,” jelas Tomi. “Dihadiahkan oleh pendeta Hindu bernama Syuta. Dang acariya adalah gelar pendeta Hindu.”

Toleransi antara pemeluk Hindu dan Buddha, menurut Tomi, muncul pula pada pembangunan Candi Jawi di Desa Candi Wates, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Kakawin Nagarakrtagama menyebut Candi Jawi didirikan Kertanagara, raja terakhir Singhasari. Pengelolaan candi juga dilakukan oleh sang raja.

Ketika Kertanagara wafat, candi ini dijadikan pendharmaan baginya. Kemudian dia diziarahi oleh Hayam Wuruk, yang tak lain adalah cicitnya, penerus Dinasti Rajasa.

“Di sinilah para Penganut agama Siwa-Buddha melakukan ritual,” kata yang diterjemahkan sebagaimana diterjemahkan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama.

Pada Candi Jawi, Tomi menjelaskan, bagian atas tubuh dapat berbagi aliran Buddha, sedangkan bagian bawahnya bernapaskan ajaran Siwa.

“Di candi inilah toleransi di bidang agama, ajaran yang berkembang pada masa Singhasari (ajaran Siwa-Buddha),” jelas Tomi.

Pada masa yang lebih modern toleransi terlihat dari sikap penguasa Kesultanan Tidore terhadap para misionaris Jerman. Pada 5 Februari 1855, Carl Willem Ottow dan Johann Gotteb Geissler, pekabar Injil dari Jerman tiba di Pulau Mansinam, Papua. Mereka singgah terlebih dahulu di Ternate sebelum bertolak ke Papua.

“Di awal permulaan mengkristenkan Papua, mereka mendapat izin dan bantuan Sultan Tidore. 

Dari Ternate mereka diantar Sultan Tidore menuju Papua dengan kapal,” jelas Tomi.

Hingga kini orang Papua mengenal Hari Pekabaran Injil setiap 5 Februari. Kedatangan Ottow dan Geissler setiap lima tahun sekali dengan replika perahu yang digunakan Sultan Tidore saat mengantar kedua misionaris itu.

Jejak toleransi di Nusantara, kata Tomi, ternyata hanya dari sisi agama. Tapi juga dalam lingkup adat dan kebiasaan dari suku bangsa yang berbeda.

Soal itu banyak yang bisa dipelajari dari temuan masa prasejarah. Misalnya, temuan di Gua Harimau di daerah hulu Sungai Ogan, Baturaja, Sumatra Selatan. Gua itu terletak sejak sekira 22.000 tahun lalu hingga awal masehi.

Para arkeolog menemukan sebanyak 81 individu kerangka manusia dari ras Australomelanesid dan Mongoloid di dalam gua itu. Ras Australomelanesid adalah penghuni awal. Sementara penghuni ras Mongoloid selanjutnya.

“Mungkin kedua ras itu sempat hidup,” kata Tomi. “Mereka sudah bergaul antarras.”

Bahaya Intoleransi

Hidup tanpa sikap toleransi amat berbahaya, khususnya di Indonesia. Begitu menurut Franz Magnis-Suseno, guru besar Filsafat Driyarkara.

“Indonesia adalah negara paling majemuk di dunia, dengan ratusan etnik dan bahasa, perbedaan agama dan kepercayaan. Betapa berhasilnya Indonesia sampai sekarang dalam hal toleransi,” kata Magnis.

Perjalanan masyarakat Nusantara selama 2.000 tahun terakhir membuktikan keberhasilan itu. Bahwa perbedaan dalam agama dan ras tak membuat orang-orang saling membunuh. Namun itu justru memperkuat dan mengembangkan identitas masyarakat Nusantara.

“Saya pernah membaca tulisan orang Amerika, bahwa Indonesia adalah bangsa yang tak masuk akal selama 76 tahun, mantap berdiri tak memberi kesan akan pecah. Bagaimana prestasi ini mungkin?” kata Magnis.

Secara tradisional masyarakat Indonesia begitu terbuka dan toleran. “Orang Indonesia bahkan di pedalaman saja tahu di dunia ada orang berbahasa lain, kepercayaan lain, mereka menerima,” kata Magnis.

Menurut Magnis, sikap intoleran muncul pada masyarakat karena adanya tekanan yang mereka rasakan. Termasuk perasaan tidak adil dan terdeskriminasi.

“Suatu kelompok jika diperlakukan tidak adil, tidak toleransi akan tumbuh. Maka penting bagi negara untuk memperhatikan keadilan sosial bagi semua,” tegas Magnis.

Maka, sebagaimana kata I Made Geria, Kepala Puslit Arkenas, “Kita berikhtiar kekayaan alam pikir. Saat ini perlu memperkuat warisan leluhur kita, akulturasi, saling menghargai, toleransi. Toleransi itu bukan pilihan tapi suatu keharusan.”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama