Awal Mula Terjadinya Konfrontasi

Di depan masyarakat Yogyakarta, untuk pertama kalinya Presiden Soekarno menyerukan slogan "Ganyang Malaysia".

Perempuan Malaysia memprotes Indonesia selama konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Yogyakarta, 23 September 1963. Dengan suara lantang, Presiden Sukarno meneriakkan seruan "hancurkan Malaysia" di depan puluhan ribu orang. Teriakan itu langsung disambut antusias dan histeris oleh massa. Sejarah mencatat, inilah awal mula konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia yang resmi mengemuka. Perselisihan kedua negara sekutu itu sendiri berawal dari penolakan Indonesia terhadap pembentukan Federasi Malaysia. Dalam pandangan Indonesia, pembentukan Federasi Malaysia tidak lebih dari bentuk persekongkolan penjajah dan membahayakan Indonesia yang baru saja merdeka dari penjajahan.

Pramoedya Ananta Toer dalam pengantar buku Greg Poulgrain The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia 1945-1965 menyebutkan konfrontasi sebagai upaya membantu gerakan perjuangan antikolonial. Bagi Pram, alasan Inggris membentuk Federasi Malaysia adalah karena mereka tidak siap kehilangan sumber uang dari Malaya (nama lama Malaysia), Singapura, dan Kalimantan Utara (Brunai). Malaya merupakan penghasil timah, karet dan kelapa sawit. Sedangkan Brunei merupakan tambang minyak dan Singapura merupakan pelabuhan transit yang dapat dijadikan sebagai pusat kendali kekuatan dan ekonomi.

Sejarawan Baskara T. Wardaya di Indonesia versus Amerika Konflik PD 1953-1963 menulis alasan lain yang membuat Sukarno menolak berdirinya Malaysia. Ia merasa baik Inggris maupun Malaya telah melangkahi Indonesia dalam proses pendirian Malaysia. Hal ini juga diamini oleh sejarawan Asvi Warman Adam.

“Saya tidak melihat ada masalah dengan kolonialisme (terkait konfrontasi dengan Malaysia, red.). Ada pelanggaran Sukarno terhadap Tun Abdul Rahman…” kata sejarawan Asvi Warman Adam.

Sebelumnya, pada 16 September lalu, pemerintah Malaka dan Inggris mengumumkan pembentukan Federasi Malaysia dengan cakupan wilayah Malaka, Singapura, Sabah, dan Sarawak. Dua jam sebelum pengumuman, Sekretaris Tetap Malaka Ghazali telah menghubungi Subandrio di Jakarta. Meski demikian, Indonesia tak urung merasa terhina dengan terbentuknya Malaysia. Pasalnya, ketidakpercayaan Indonesia terhadap hasil jajak pendapat tersebut tidak ditanggapi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada hari yang sama, gelombang protes besar digelar di depan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Massa menolak keputusan pembentukan Federasi Malaysia.

Sukarno kemudian menulis surat kepada Presiden Amerika John F Kennedy bahwa dia menolak Federasi Malaysia karena dia meragukan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh tim Misi Michelmore. Sukarno bahkan mengutip laporan Sekjen U Thant yang mengatakan bahwa tim pemungutan suara kekurangan personel.

“Sukarno mengharapkan John F Kennedy menjadi penengah dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia. Jadi dia meminta solusi yang tidak membuat salah satu pihak kehilangan muka,” kata Asvi.

Pada 17 September 1963, Malaysia memutuskan hubungan diplomatik karena merasa tidak setuju dengan penolakan keras Indonesia. Tak mau kalah, Indonesia juga menghentikan hubungan dagang dengan Malaysia pada 23 September 1963. Dari pidato Sukarno di Yogyakarta, ia menegaskan keinginannya untuk menghancurkan Federasi Malaysia.

Pada tanggal 24 Desember 1963 Sukarno memperkenalkan dua slogan baru untuk menghancurkan proyek neo-kolonial Malaysia. Rosihan Anwar menulis dalam bukunya Sukarno, Angkatan Darat, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Badai Politik 1961-1965, dua slogan baru Soekarno, yaitu “Maju, Jangan Mundur” dan dadamu?".

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama