Agama-Agama yang Ada Pada Masa Kerajaan Majapahit

Penganut agama Hindu, Budha, Islam, dan Gramedawata, hidup indah di Majapahit.

Makam Islam di Troloyo.

Prasasti Waringinpitu yang dikeluarkan oleh Raja Kertawijaya pada tahun 1369 Saka (1447) menyebutkan nama-nama pejabat kerajaan di tingkat pusat. Diantaranya adalah Dharmmadhyaksa ring kasaiwan (pejabat tinggi yang membidangi Siwa) dan Dharmmadhyaksa ring kasogatan (pejabat tinggi yang membidangi agama Buddha).

Dari keterangan tersebut, menurut arkeolog dan ahli epigraf Hasan Djafar, dapat diketahui bahwa di Kerajaan Majapahit setidaknya ada dua agama resmi, yaitu Siwa dan Budha.

Dalam perkembangannya, yakni ketika Majapahit berakhir, peran agama Buddha seolah “lenyap”. Sementara itu, sebagian besar bangunan suci bergaya Siwa. Hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara kedua agama tersebut. Oleh sebagian ulama, hubungan ini disebut dengan berbagai istilah. H. Kern disebut pencampuran. N.J.Krom, W.H. Rassers, dan P.J. Zoetmulder menyebutnya fusi. Sementara Th. G. Th. Pigeaud disebut paralelisme.

“Hubungan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman sebelumnya, sehingga seolah-olah agama Buddha telah menyatu dengan agama Siwa,” jelas Hasan dalam “Beberapa Catatan Agama pada Zaman Majapahit Akhir” yang dimuat di IV Archaeological Scientist Pertemuan.

Suasana ini juga tercermin dalam sumber-sumber sastra dari periode Hayam Wuruk. Menurut Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma dan Kakawin Arjunawiwaha, pada dasarnya tidak ada perbedaan antara kedua agama tersebut karena keduanya adalah satu.

Pengakuan adanya kepercayaan ini muncul dalam berita dalam sebuah prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada pada tahun 1351. Di dalamnya tercatat tentang pembangunan caitya untuk Kertanegara dan brahmana tertinggi Siwa dan Buddha.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Biografi Politik Gajah Mada, bangunan yang dibuat oleh Gajah Mada ini kemungkinan besar adalah Candi Singhasari yang sekarang. Karena prasasti itu ditemukan di halaman candi.

Bentuk candi ini unik. Ini adalah Hindu dan Buddha pada saat yang sama. "Itu mungkin karena candi itu dibuat untuk menghormati Kertanegara yang memuja Siwa dan Buddha," kata Agus.

Islam Di Majapahit

bukan agama resmi negara, jejak Islam juga kuat di Majapahit. Bukti kehadiran Islam dapat ditunjukkan melalui pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. Tak jauh dari situ, kompleks Kedaton Majapahit terlupakan.

Dari batu nisannya, makam ini berasal dari tahun 1203 dan 1533 Saka (1281 dan 1611). Artinya, pada masa kejayaannya, di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, banyak penduduk Majapahit yang memeluk agama Islam.

Mengingat kuburan ini letaknya tidak jauh dari kedaton, maka dipastikan kuburan ini merupakan kuburan bagi warga kota Majapahit dan keluarga kerajaan yang beragama Islam, tulis Hasan.

Dari keterangan Ma Huan, seorang Muslim dan penerjemah resmi Laksamana Cheng Ho, dalam Ying-yai Sheng-lan disebutkan bahwa di Majapahit ada tiga kelompok orang. Satu-satunya penduduk Muslim. Mereka adalah para saudagar yang berasal dari berbagai kerajaan di barat.

Gramadiwata

Semua kepercayaan ini kemudian berkembang seiring dengan agama rakyat yang masih ada. Arkeolog Agus Aris Munandar di Wilwatikta Prana mengatakan, di beberapa pelosok Jawa Timur ditemukan arca-arca yang bukan Hindu maupun Budha. Arca-arca tersebut ditemukan di reruntuhan bangunan kuno yang bukan merupakan bekas candi kedua agama tersebut.

“Arca-arca itu kemudian dapat dianggap hanya sebagai arca dewa-dewa lokal yang disembah di desa atau disebut gramadewata,” ujarnya.

Sayangnya, kajian terhadap patung-patung tersebut belum dilakukan secara tuntas. Terutama tentang keyakinan yang menyertainya.

Namun, kata Agus, patung-patung tersebut bisa mewakili nenek moyang dari desa-desa tertentu yang telah meninggal dan dianggap dewa. Praktik pemujaan terhadap leluhur sudah ada sebelum umat Hindu-Budha masuk ke Nusantara. Umumnya masyarakat prasejarah memuja arwah para pemimpin desa atau kelompok tertentu sebagai pendukungnya.

Ketika pengaruh Hindu-Budha masuk, para leluhur kemudian digambarkan dengan atribut dewa-dewa India. Sebaliknya, kata Agus, dalam masyarakat Majapahit masih ada sekelompok masyarakat yang masih mempertahankan kepercayaan aslinya yang mungkin berasal dari zaman prasejarah.

“Pada zaman Majapahit, kehidupan beragama dalam masyarakat berkembang secara alami. Bukannya saling mengganggu, dan membiarkan masing-masing kelompok agama melakukan ritualnya masing-masing,” tegasnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama