Soekarno Tidak Biasa Berolahraga

Berani memberikan orasi di podium tapi siapa sangka, Soekarno ternyata "malas" berolahraga. Namun, Si Bung menaruh perhatian besar terhadap perkembangan olahraga nasional.

Presiden Sukarno memberikan tendangan salut pada pertandingan yang diadakan di BVC pada tahun 1951.

Bila diamati sepintas, Bung Karno memiliki tubuh yang lumayan atletis, tegap dan gagah. Posturnya pun tergolong ideal untuk rata-rata orang Indonesia. Dalam berbagai potret tampak sosoknya yang penuh daya pesona. Apalagi kalau sedang berada di atas podium menambahkan bicara yang berapi-api. demikian, Bung Karno seorang yang ahli berolahraga.

Sukarno dalam otobiografinya mengakui dirinya tidak menonjol dalam hal olahraga. Pada masa kecilnya di Mojokerto, Sukarno memang jago bermain sumpit dan memanjat pohon. Tapi Sukarno tidak dapat unjuk kebolehan dalam bermain bola.

“Bagaimanapun juga, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari zamanku tidak dapat menunjukkan keahliannya. Misalnya perkumpulan,” kata Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Dalam perkumpulan sepakbola, kata Sukarno, “Aku bukan hanya tidak bisa menjadi ketuanya bahkan aku tidak dapat lama menjadi anggotanya.” Menurut Sukarno keterbatasannya dalam olahraga yang disebabkan oleh kelakuan anak-anak orang Belanda yang usil. Sukarno enggan bermain bola karena olok-olok anak Belanda yang suka merundung anak-anak pribumi seperti dirinya. Baginya, perkumpulan sepakbola itu merupakan pengalaman pahit yang membikin hati luka di dalam.

“Anak-anak yang berambut pirang itu menjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak, ‘hei kau Bruine. Hei anak kulit coklat goblok yang malang. Bumiputra, inlander, anak kampung. Hei, kamu lupa memakai sepatu,'” kenang Sukarno dalam otobiografinya.

Pada masa pergerakan nasional, Sukarno boleh jadi orator yang tiada duanya. Tapi soal main bola, Bung Karno kalah dari Hatta dan Sutan Sjarir, koleganya sesama orang pergerakan. Hatta dan Sjahrir bahkan membentuk kesebelasan sepakbola waktu diasingkan ke Boven Digul, Merauke pada 1935. Hatta menjadi bek kanan sedangkan Sjahrir terletak di gelandang kiri.

Cerita lain mengenai kebiasaan olahraga Bung Karno disaksikan oleh sesepuh TNI Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo. Pada tahun 1946, Sayidiman masih menjadi taruna Akademi Militer (AM) Yogyakarta. Saat itu, Bung Karno yang sudah menjadi presiden Republik Indonesia meminta Suwardi, gubernur AM agar mencarikan beberapa taruna untuk memberinya latihan gimnastik. Sayidiman bersama dua taruna lain yang ditunjuk sebagai pelatih yang akan melatih Bung Karno bergerak badan. Setiap pagi Sayidiman dan rekannya dijemput ke Gedung Agung untuk mengajar Bung Karno.

“Tetapi Bung Karno tidak konsisten dalam menjalankan latihan olahraga. Setelah empat kali sudah tidak ada panggilan lagi,” kata Sayidiman dalam otobiografinya Sayidiman: Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI.

Dalam laman pribadinya, Sayidiman lebih gamblang lagi menuturkan pengalaman olahraga bersama Bung Karno. Kata Sayidiman, orang yang biasanya kita lihat sebagai pemimpin yang gagah berseragam dan berpeci hitam, terlihat sebagai orang yang mulai gendut perutnya dengan rambut yang menipis. Dengan rajin Bung Karno dan para pembantunya mengikuti petunjuk pelatih taruna dalam melakukan gimnastik gerak-gerak.

“Akan tetapi setelah 4 bulan kami memberikan latihan Bung Karno tampaknya menghadapi pekerjaan yang semakin banyak. Dan beliau melakukan latihan gimnastik itu,” tutur Sayidiman dalam sayidiman.suryohadiprojo.com.

Meskipun kerap lalai latihan, ketika berolahraga di kepala negara, Sukarno memperhatikan perhatian yang besar terhadap perkembangan olahraga nasional. Di masa Sukarno, Indonesia pernah menghelat pesta olahraga yakni Asian Games pada 1962 dan Ganefo pada 1963. Dalam kompetisi olahraga bertaraf internasional itu, Indonesia menjadi tuan rumah.

Untuk itu semua, Bung Karno memprakarsai pembangunangang olahraga raksasa yang dinamai sesuai namanya: Gelora Bung Karno (GBK). Mulai dibangun sejak 1959, pembangunan GBK dengan biaya sebesar 12,5 juta dolar yang berasal dari bantuan pemerintah Uni Soviet. Setelah selesai, GBK menjelma sebagai stadion termegah di Asia dengan kapasitas 100.000 penonton.

Pada Asian Games 1962, Indonesia berhasil meraih status finalis (peringkat 2) di bawah Jepang. Itu merupakan prestasi terbesar Indonesia di dunia olahraga. Sementara itu di kancah Ganefo, Indonesia menempati peringkat ke-3 di bawah Republik Rakyat dan Uni Soviet. Tidak hanya mengejar medali, Sukarno menggunakan Ganefo untuk mempersatukan negara Asia dan Afrika sebagai suatu kekuatan baru dunia.

“Di mata Sukarno, olahraga sama membanggakannya dengan politik. Olahraga adalah cara wicara lewat kekuatan raga untuk menarasikan kekuatan negara,” tulis Muhidin M. Dahlan dalam Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia.

Mengenai prestasi, atlet Indonesia di masa Sukarno tergolong unggul. Untuk level Asia, sepakbola Indonesia masih cukup diperhitungkan. Sementara itu, Indonesia begitu disegani pada cabang olahraga bulu tangkis yang pernah menjadi turnamen bergengsi seperti Thomas Cup.

Pada 1964, Sukarno punya mimpi besar tentang olahraga di Indonesia. Dalam sebuah kesempatan bicara, dia mengatakan bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun mendatang, Indonesia akan menduduki tempat paling tinggi di lapangan olahraga. Sayangnya, mimpi itu tidak sempat terwujud karena Bung Karno lengser pada 1967.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama