Soedirman, Guru Kecil Jadi Panglima

Soedirman menjadi guru tanpa ijazah. Meski gajinya kecil, saya tetap bekerja dengan sepenuh hati.

Panglima Besar Jenderal Soedirman tiba di Stasiun Manggarai, Jakarta, pada 11 November 1946.

Semasa muda, Soedirman aktif berorganisasi di Muhammadiyah. Ia pernah menjadi pimpinan Hizbul Wathan, sebuah gerakan pramuka Muhammadiyah untuk wilayah Banyumas. Selain itu, ia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, ia terpilih menjadi Wakil Ketua Majelis Pemuda Muhammadiyah Cabang Banyumas, Jawa Tengah saat itu.

Bagi Sudirman, berorganisasi adalah pelayanan, bukan tempat mencari nafkah. Ia terkadang mendahulukan kepentingan organisasi di atas keluarganya. Oleh karena itu, meskipun menjadi pemimpin, rumah tangganya kurang. Orang-orang terkejut. Namun, baginya itu wajar saja.

“Bukankah organisasinya besar. Besar dan berkembangnya organisasi tidak berarti pemimpinnya harus besar dan mewah. Untuk memenuhi biaya hidup, beliau aktif sebagai guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap,” kata Biografi Soedirman Prajurit TNI Teladan HIS (Hollandsch Inlandsche School) merupakan sekolah dasar dengan masa belajar tujuh tahun.

Sebagai guru, Soedirman mendapat gaji f.3 (tiga gulden Belanda) per bulan. Ia menjadi guru bukan hanya karena kekurangan. Ia bisa saja mencari pekerjaan lain dengan gaji yang lebih tinggi, mengingat saat itu ia cukup populer sebagai ketua Pemuda Muhammadiyah.

“Apa artinya uang sebanyak itu (f.3) untuk hidup dalam waktu sebulan? Jelas bagi Sudirman bahwa bekerja sebagai guru dilandasi dengan keikhlasan dan kesadaran serta rasa tanggung jawab akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda,” kata buku yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat itu.

Sudirman menyadari kekurangannya sebagai seorang guru karena ia hanya tamatan SMP, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Wiworotomo. Dia tidak memiliki ijazah sekolah guru, HIK (Hollandsch Inlandsche Kweekschool). Untuk mengatasi kekurangannya, ia memilih bimbingan belajar bagi guru-gurunya di MULO Wiworotomo. Ia juga mendapat ilmu keguruan dari R. Mokh. Kholil yang memimpin Muhammadiyah Cilacap dan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah.

Meski bukan guru bersertifikat, Soedirman memiliki bakat sebagai pendidik. Dia memiliki pengalaman dalam membimbing pramuka Hizbul Wathan. Bahkan, saat berada di MULO Wiworotomo, ia dijuluki “guru cilik” karena diandalkan oleh gurunya untuk membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.

Tidak hanya disukai murid-muridnya karena pengajarannya yang mudah dipahami, Soedirman juga disukai oleh guru-guru lainnya. Bahkan, kepercayaan para guru membuat Sudirman terpilih sebagai kepala sekolah HIS Muhammadiyah. Gajinya meningkat menjadi f.25.50. Baginya, kenaikan gaji sudah cukup untuk membantu kekurangan dalam rumah tangga. Namun, yang lebih penting adalah kepercayaan yang diberikan oleh rekan-rekannya dan pimpinan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah. Tentu saja, kenaikan pangkatnya menjadi kepala sekolah berkat ketekunan dan kesungguhannya sebagai pendidik.

Ada pengalaman unik saat Soedirman masih menjadi guru. Dia memberi tahu Pak Kholil tentang hal itu. Suatu hari, saat mengajar, ia dikunjungi oleh seorang Tambi (seorang Keling dari Bombay). Usai perbincangan, lelaki Hindu itu melihat telapak tangan Soedirman dan berkata, “Nanti kamu jadi orang hebat, jadilah kuat.” Sudirman menilai prediksi itu biasa saja.

Menjadi Panglima

Menjelang pendudukan Jepang, Soedirman terpaksa melepaskan pekerjaan kesayangannya sebagai kepala sekolah HIS Muhammadiyah. Saat itu situasi tidak memungkinkan untuk melaksanakan pendidikan karena semua orang fokus pada serangan Jepang. Ia bahkan menjadi ketua sektor LBD (Lucht Besherming Dienst) atau Air Hazard Protection Service yang dibentuk oleh Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, Soedirman menjadi anggota Syu Sangikai (semacam dewan perwakilan), kemudian menjadi anggota Jawa Hokokai Karesidenan Banyumas. Setelah mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor, ia ditempatkan sebagai daidancho (panglima batalyon) Daidan III di Kroya, Banyumas.

Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Sudirman menjabat sebagai Panglima Divisi V TKR Purwokerto. Saat itu, ia menyusun strategi melawan Sekutu di Ambarawa. Karier militernya mencapai puncaknya setelah ia terpilih sebagai panglima tentara Indonesia – apakah ini arti dari "orang besar" yang diramalkan oleh orang Tambi?

Ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua, Soedirman sakit dan berperang gerilya dari 19 Desember 1948 hingga 10 Juli 1949.

Jenderal Sudirman, guru yang menjadi panglima itu, meninggal pada 29 Januari 1950.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama