Sardjito, Dokter Revolusi Indonesia

Seorang dokter yang menyumbangkan ilmunya bagi dunia kesehatan di Indonesia. Berkat jasanya, obat-obatan diciptakan dan penelitian vaksin terus berkembang hingga sekarang.

Sardjito, rektor pertama UGM.

Prof.Dr.Sardjito. Nama itu sohor sebagai salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Tak banyak masyarakat tahu siapa sosok itu dan apa sumbangsihnya sehingga namanya diabadikan. Semasa hidupnya dia dikenal sebagai dokter, peneliti, dan akademisi yang berjasa dalam mengembangkan vaksin dan obat-obatan. Semua itu dia lakukan sejak masa Hindia Belanda hingga Indonesia memasuki revolusi kemerdekaan.

Sardjito lahir di Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1889. Dia putra seorang guru Sekolah Rakyat bernama Sajit dan merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Sejak kecil, Sardjito menerima pendidikan yang sangat baik dari orang tuanya. Tidak hanya pengetahuan umum, seperti menulis, membaca, dan berhitung, tetapi juga pengetahuan agama. Bahkan ketika usianya baru 6 tahun, dia sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Pendidikan formal pertama Sardji yang dicapai di Sekolah Rakyat di Purwodadi. Dia merupakan murid yang pintar di sekolahnya. Karenanya sebelum menyelesaikan pendidikan dasar di Purwodadi, Sardjito mendapat beasiswa untuk pindah ke sekolah Belanda di Lumajang. Sekolah itu hanya khusus bagi kalangan Eropa dan bangsawan pribumi saja. Di sanalah pertama kali Sardjito belajar bahasa Belanda.

Sardjito melanjutkan pendidikannya di sekolah Belanda hingga sekolah menengah. Setelah lulus pada tahun 1907, Sardji memperoleh beasiswa dari Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) di Batavia. Dikisahkan Irfan Waskitha Adi dalam acara Jambore Kesejarahan “Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949: Patriot Bangsa Merebut Ibu Kota” yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, (27/04/2021), di STOVIA Sardjito bertemu dengan banyak tokoh-tokoh pergerakan, salah satunya Ki Hadjar Dewantara.

“Kemudian yang sangat menginpirasi beliau untuk akhirnya memiliki keinginan untuk pendidikan yang setara dengan bangsa sendiri itu adalah Soetomo, kakak kelas beliau yang nantinya menjadi ketua pertama Budi Utomo,” kata Irfan.

Pada tahun 1915, Sardjito menyelesaikan pendidikan dokternya. Dia lalu bekerja di sejumlah klinik dan rumah sakit di Batavia. Kurang lebih setelah dua tahun bekerja sebagai tenaga kesehatan, Sardjito menemukan minat lain di dunia medis, yakni penelitian penyakit dan obat-obatan. Sardjito pun memutuskan keluar dari rumah sakit dan bekerja sebagai peneliti di lembaga penelitian vaksin dan obat milik pemerintah Hindia Belanda: Institute Pasteur.

Mulanya Sardjito ditempatkan di laboratorium Batavia, lalu dipindahkan ke laboratorium pusat di Bandung. Selama bekerja sebagai peneliti di Institute Pasteur, Sardjito menikmati prestasi yang baik. Dia kemudian ditawari beasiswa pendidikan di negeri Belanda, tepatnya di Universitas Amsterdam dan Leiden, guna memperdalam ilmunya tentang penyakit-penyakit yang berkembang di daerah tropis. Dari Belanda, imbuh Irfan, Sardji untuk melanjutkan pendidikan di Baltimore, Amerika Serikat, hingga memperoler gelar Master of Public Health.

Setelah menyelsaikan seluruh pendidikannya, Sardjito kembali ke tanah air. Dia langsung ditempatkan di Makassar, Sulawesi Selatan sebagai kepala laboratorium. Di sana, Sardjito melakukan penelitian mendalam mengenai penyakit Lepra. Dia lalu mendapat tawaran kerja sama melakukan penelitian dari Jerman. Pada 1931 dia berangkat ke salah satu negara industri besar Eropa tersebut dan menetap selama beberapa waktu.

Sepulang dari Jerman, Sardjito menduduki jabatan kepala laboratorium di Semarang, Jawa Tengah. Dia mengemban jabatan tersebut hingga Republik Indonesia (RI) berdiri secara resmi pada 17 Agustus 1945. Selama di laboratorium Semarang, Sardjito melakukan banyak penelitian tentang penyakit-penyakit yang kerap mewabah di masyarakat, seperti typus, malaria, influenza, dan lain sebagainya. Dia pun melewati masa pendudukan Jepang di sana, dan sempat bekerja di komando militer Jepang untuk urusan penelitian kesehatan.

Setelah proklamasi, Lembaga Pasteur diambil alih oleh pemerintah RI. Seluruh aset dan laboratorium penelitian lembaga ini kepemilikannya berada di bawah Kementerian Kesehatan. Disebutkan dalam buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid I, terbitan Departemen Kesehatan RI, pada akhir September 1945, menteri kesehatan memberikan amanah kepada Sardjito untuk memimpin Institute Pasteur Pusat di Bandung. Dia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang memegang jabatan kepala Institute Pasteur.

“Sesudah Jepang menyerah Sekutu dan Indonesia memproklamirikan kemerdekaannya, maka Institute Pateur Bandung tidak dapat dikatakan memiliki pimpinan. Beberapa karyawan yang berjiwa patriotik merasa khawatir jika Institut Pasteur diambil oleh Inggris dan kemudian diserahkan kepada pemerintah Belanda,” tulis Departemen Kesehatan RI.

Di bawah pimpinan Sardjito, Institute Pasteur memberikan bantuan medis penting bagi militer dan sipil di Bandung. Bersama dengan Palang Merah, Institute Pasteur membangun pos-pos kesehatan di sejumlah titik di kota Bandung, terutama setelah Inggris datang ke kota kembang tersebut.

Menurut Irfan, berdasarkan keterangan Herman Johannes, ketika Inggris datang Sardjito telah diminta untuk mengungsi. Tetapi karena banyak peralatan, serta obat-obatan penting di Institute Pasteur, dia memutuskan untuk tetap tinggal dan menjaganya. Selain itu, tenaga kesehatan di lembaganya juga banyak yang harus menjaga pos-pos medis di sekitar Bandung, sehingga Sardjito memilih tinggal untuk memimpin mereka.

Setelah keadaan Bandung semakin tidak terkendali dan para pejuang memilih meninggalkan kota tersebut, Sardjito menginstruksikan pengungsian bagi seluruh staf medis di Bandung. Untuk peralatan dan obat-obatan di Institut Pasteur, Djawatan Kereta Api membantu proses pengangkutannya. Sardjito dibantu oleh Emma Poeradiredja dari Djawatan Kereta Api, serta mahasiswa teknik di ITB, membawa obat dan vaksin ke Klaten, Jawa Tengah. Institut Laboratorium Pasteur pun secara resmi dipindah sementara dari Bandung ke Klaten.

Perjuangan Sardjito di Klaten terus berlanjut. Dia membangun pos-pos medis di sejumlah tempat penting, terutama sekitar jalur transportasi. Ketika Serangan Umum 1 Maret 1949 pecah, Sardjito membantu militer Indonesia di garis depan untuk urusan medis. Dia juga membuat ransum untuk tentara Indonesia, yang dikenal dengan nama Biskuit Sardjito. Semasa perang dia tidak henti-hentinya menyediakan kebutuhan obat-obatan untuk tentara.

“Dalam buku harian beliau, masa-masa di Klaten tersebut cukup menyenangkan dan menyenangkan. Dituliskan juga dalam wasiat beliau itu merupakan saat-saat yang mengerikan,” kata Irfan.

Sardjito, imbuh Irfan, merupakan salah satu tokoh yang berjasa mendirikan universitas-universitas besar di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Andallas. Dia juga yang memprakarsai penamaan nama pahlawan di universitas-universitas tersebut. Sardjito menjadi rektor pertama UGM dari tahun 1949 sampai 1961.

Selain vaksin dan obat-obatan semasa perang, Sardjito berjasa membuat obat untuk penyakit ginjal pada sekitar tahun 1950-an. Berawal dari keingingan membuat obat untuk istirnya yang sakit batu ginjal, Sardjito memproduksi obat massal tersebut dengan harga terjangkau. Sardjito tutup usia pada 5 Mei 1970, dalam usia 80 tahun.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama