Sardjito dan Biskuit Anti Lapar untuk TNI

Selama perang, ia mendirikan banyak pos kesehatan dan rumah sakit darurat serta membuat obat-obatan. Karya terbesarnya adalah membuat jatah khusus untuk perang.

Potret Sardjito, pemimpin Institut Pasteur pertama dari Indonesia.

Setelah melewati pertempuran menghadapi pasukan Inggris di Bandung, Sardji melanjutkan perjuangannya di Klaten, Jawa Tengah. Dia tiba di kota itu sekitar akhir November 1945 bersama dengan rombongan karyawan Institute Pasteur dan tenaga kesehatan dari Palang Merah.

Di Klaten, Insttute Pastur menempati sebuah laboratorium yang biasa digunakan untuk percobaan tembakau. Selain laboratorium untuk keperluan penelitian obat dan vaksin, Sardjito juga dipercaya mengelola rumah sakit di Tegalyoso, sebelah selatan Klaten. Di rumah sakit yang hingga sekarang masih berdiri, Sardjito memberikan perawatan untuk para korban perang, baik dari sipil maupun militer.

“Selain memungkinkan gedung Laboratorium Percobaan Tembakau, Institut Pasteur diperbolehkan pula memakai alat-alat dari laboratorium tersebut,” demikian menurut buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid I yang ditulis oleh tim dari Departemen Kesehatan.

Sama halnya ketika di Bandung, di Klaten pun Sardjito memulai perjuangannya dengan membuat pos-pos medis di sepanjang jalur transportasi penting dan daerah-daerah terpencil yang jauh dari fasilitas kesehatan. Dia lalu menempatkan beberapa anggota Palang Merah di pos-pos tersebut.

Dikisahkan kurator Museum UGM Irfan Waskitha Adi dalam acara Jambore Kesejarahan “Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949: Patriot Bangsa Merebut Ibu Kota” yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, (27/04/2021), pos-pos medis yang dibuat Sardjito juga berfungsi sebagai jalur gerilya bagi tentara Indonesia. Dia diminta oleh Komandan Markas Besar Tentara se-Djawa Kolonel A.H. Nasution untuk membuat jalur persembunyian dan pelarian bagi para tentara.

Rumah Sakit Darurat

Tidak hanya membuat pos-pos kecil, Sardjito juga menyediakan banyak rumah sakit darurat yang dikelolanya untuk diserahkan kepada dokter-dokter militer. Sardjito sendiri sebuah rumah sakit darurat bernama Rumah Sakit Geger di Tegalrejo.

“Itu berada di daerah yang sangat jauh dari Tegalyoso karena memang sengaja untuk memberikan pengecohan tentara Belanda jika ada rumah sakit lain yang sebenarnya jauh lebih penting dari Tegalyoso,” kata Irfan.

Meskipun bernama rumah sakit darurat, namun soal fasilitas jangan ditanya. Di dalam bangunannya hanya terdapat ruangan berbentuk kotak, dengan sekat-sekat pemisah. Pasien di sana kabanyakan berasal dari korban perang di garis depan, yang terkena bombardir pasukan musuh.

Berdasarkan wawancara dengan seorang pelaku sejarah bernama Surmin --yang rumahnya berada di sekitar rumah sakit dan pernah membantu di sana-- Irfan memperoleh informasi bahwa selama perang Rumah Sakit Geger sibuk sibuk. Banyak pasien yang dirawat di sana. Proses pemberian vaksin juga banyak dilakukan di rumah sakit tersebut.

Sardjito dan Institute Pasteur membuat lebih banyak rumah sakit darurat ketika Belanda menduduki ibukota RI di Yogyakarta pada tahun 1948. Setelah mengungsi ke luar Klaten, sebagian besar karyawan Institute Pasteur di rumah sakit darurat. Mereka disebar untuk menempati pos-pos medis tersebut.

“Mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi kedokteran ikut serta mengungsikan beberapa barang, terutama induk-induk bakteri yang telah dibikin dalam agar tusuk (steekagar),” tulis Departemen Kesehatan.

Biskuit Sardjito

Ketika Serangan Umum 1 Maret 1949 pecah, Nasution pernah meminta Sardjito membuat ransum untuk TNI. Menurut Irfan, Nasution meminta ransum berisi makanan ringan yang komposisinya sama dengan milik tentara Belanda.

Lubang Nasution tersebut disanggupi oleh Sardjito. Tetapi rektor pertama UGM itu berpikir untuk membuat ransum yang berbeda dengan kepunyaan Belanda. Dia khawatir jika ransum buatannya memiliki komposisi yang sama, tentara Belanda akan curiga jika itu hasil rampasan dan mereka bisa saja berusaha mencobanya. Maka Sardjito pun membuat ransum hasil racikan sendiri yang terkenal dengan nama “Biskuit Sardjito”.

Wawancara dengan seorang verteran tentara tentara pelajar bernama Samdi, diketahui bahwa biskuit Sardjito “bentuknya bunder, kecil kaya bakpia, dan kalau tidak dimakan dengan air saja, berdasarkan lapar walaupun si pemakan berjalan jauh dan menjalankan aktifitas tinggi di medan perang.

Setiap tentara akan memperoleh beberapa biskuit yang cukup untuk kegiatan gerilya mereka. Selain biskuit Sardjito, dalam sebungkus ransum ada juga nasi aking. Ransum tersebut dimakan ketika dalam kondisi darurat. Sementara untuk keperluan makan harian, para tentara bisa mendapatkannya di dapur-dapur umum yang dibuat oleh warga di desa-desa yang mereka singgahi.

Vaksin Darurat

Kegiatan lain yang dilakukan Sardjito dan Institute Pasteur semasa perang adalah membuat vaksin darurat. Dia memanfaatkan media hewan kerbau untuk pembuatan vaksin tersebut. Caranya dengan menyuntikan bibit vaksin cacar ke lapisan kulit kerbau dan mengembangbiakannya. Setelah siap bibit vaksin itu akan diambil untuk mendapatkan serum.

Namun pembuatan vaksin dalam kondisi perang tidaklah mudah. Sardji sering mendapat kesulitan ketika mengumpulkan bahan pembuatan serum karena adanya blokade Belanda. Dia pun mengakali bahan-bahan yang sulit dicari dengan bahan seadanya. Seperti ketika dia mengganti pepton dengan enzim dari tubuh babi, NaCl dengan garam dapur, asam amino yang harusnya dari kaldu sapi yang diganti dengan kaldu tempe, dan agar-agar.

“Dalam buku harian beliau, masa-masa di Klaten itu cukup menyenangkan dan menyenangkan. Dituliskan dalam wasiat beliau juga saat-saat itu sangat mengerikan,” kata Irfan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama