Saat Ali Sastroamidjojo Menutup Konferensi Asia-Afrika

Bagaimana sebagai perwakilan tuan rumah, Ali Sastroamidjojo mengungkapkan kebahagiaannya atas keberhasilan konferensi pertama negara-negara Asia Afrika.

Suasana pertemuan perwakilan Konferensi Kolombo di Bogor tahun 1954 sebelum dimulainya acara KAA.

Yang Mulia.

Yang Mulia, Tuan dan Nyonya!

Saudara Saudara Sekalian!

Sekarang kita telah sampai pada penutupan Konferensi ini, setelah menjalani minggu yang sangat penting, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda semua atas semangat niat baik dan kesediaan untuk memahami yang telah Anda tunjukkan dengan jelas dan terus menerus selama pembicaraan. kami yang berhasil: Semangat dan kemauan inilah yang memungkinkan untuk bekerja sama dan mendapatkan hasil yang baik, dan jika tuan-tuan mengizinkan saya untuk mengungkapkan perasaan hati saya sendiri yang membuat saya senang, menjadi ketuanya.

Paragraf di atas merupakan bagian dari pidato penutup Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Jawa Barat yang dibacakan oleh Ketua Umum Konferensi Asia Afrika (KAA) Ali Sastroamidjojo.

Dihadapan para tamu kehormatan, serta perwakilan negara-negara di Asia dan Afrika, Ali Sastroamidjojo mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya konferensi pertama negara-negara di Asia dan Afrika, dengan Indonesia sebagai tuan rumah.

“Kita harus memberikan pujian kepada Ali Sastroamidjojo karena dia juga merupakan tokoh penting dalam meningkatkan perdamaian dunia pada 1950-an, di mana kecemasannya terhadap situasi politik Asia terancam oleh kontestasi adidaya Perang Dingin …” kata sejarawan Wildan Sena Utama dalam acara “Tadaruan dan Diskusi Pidato Penutup Ali Sastroamidjojo pada Konferensi Asia Afrika 1955” yang diselenggarakan oleh Asian African Reading Club (AARC), Sabtu (24/04/2021).

Ali membuka sambutannya dengan mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung terselenggaranya KAA, terutama para pemimpin negara yang sejak awal memberikan dorongan untuk mewujudkan ide konferensi tersebut.

Lebih lanjut Ali mengatakan bahwa KAA telah menjadi jembatan persahabatan antara Asia dan Afrika. Acara tersebut juga menjadi ajang pertemuan langka bagi perwakilan dari dua benua yang berbeda, yang mungkin tidak akan terjadi jika KAA tidak diadakan.

“Kami berharap dalam hati pengenalan ini akan membawa sesuatu untuk berkembang, yaitu sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat Asia dan Afrika, tetapi juga dunia,” kata Ali.

Ali mengatakan KAA adalah jawaban atas semua keraguan negara-negara, terutama yang baru saja mencicipi cita rasa kemerdekaan, atas perannya dalam memajukan perdamaian dunia. Selain itu, ada keraguan atas persatuan dan kesatuan Asia dan Afrika yang terhalang oleh perbedaan politik, sosial, dan budaya.

Melalui KAA, mereka telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika dapat bersatu untuk mempertahankan perdamaian dunia. Padahal mereka memiliki perbedaan yang sangat besar dalam bidang politik, sosial, dan budaya. Melalui kesepakatan bersama, serta tekad, para wakil menunjukkan bentuk persatuan yang penting.

Ali menyadari bahwa dalam proses mencari persatuan dalam konferensi, terkadang mereka berbenturan dengan kepentingan masing-masing, sehingga sering terjadi perdebatan. Tapi itu semua baik untuk menemukan solusi. Hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan jawaban yang sesuai dengan minat mereka bersama.

“Begitulah cara pertemuan kami tumbuh menjadi lebih berharga dari sekadar konferensi. Kami datang untuk memahami satu sama lain dalam suasana yang ramah dan tulus. Kami menjadi percaya pada kemampuan kami untuk memberikan bantuan yang berharga bagi perdamaian dunia meskipun kami melihat tujuan bersama kami dari perspektif yang berbeda," kata Ali.

Perdana Menteri RI ke-8 ini menegaskan bahwa keputusan yang diambil bersama di KAA tidak serta merta menghalangi kepentingan negara perwakilan masing-masing. Justru keberadaan KAA harus bisa membantu permasalahan bersama agar selalu terbebas dari segala beban, tidak hanya politik tapi ekonomi, sosial, dan budaya. Ini juga membantu mengurangi ketegangan dunia.

Dalam alinea penutup pidatonya, Ali berharap ketika para wakilnya kembali ke negaranya masing-masing, mereka bisa membawa rasa kepuasan dan semangat demokrasi yang mereka tunjukkan di KAA. Mereka juga diharapkan dapat membuktikan kepada dunia bahwa negara-negara Asia dan Afrika dapat bersatu untuk menjaga perdamaian.

“Banyak ikatan persahabatan telah diikat selama masa lalu, hubungan yang bermanfaat telah terbentuk. Kami sekarang saling tahu, bahwa kami ingin mempraktikkan toleransi dan hidup bersama secara damai satu sama lain sebagai tetangga yang baik,” kata Ali.

“Semoga kita dapat melanjutkan perjalanan kita di jalan yang telah kita pilih bersama dan semoga Konferensi Bandung ini tetap tegak sebagai mercusuar yang memandu kemajuan masa depan dari Asia dan Afrika,” tutupnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama