Polemik Runtuhnya Majapahit

Dinyatakan runtuh, tetapi masih ada. Para ahli berbeda pendapat tentang runtuhnya Majapahit.

Reruntuhan Candi Menakjingga, Trowulan.

Sampai sekarang masih banyak yang percaya berita tradisi bahwa Kerajaan Majapahit runtuh pada 1400 saka (1478 M). Keruntuhannya Kunci dalam candrasengkala sirna ilang kertaning bhumi.

Pembahasan soal keruntuhan Majapahit masih belum berakhir hingga kini. Arkeolog Hasan Djafar menyebut bukti-bukti sejarah sejarah itu masih ada sampai beberapa tahun kemudian.

“Sumber sejarah Majapahit akhir yang ada sangat sedikit. Selain itu, sumber-sumber yang ada tidak banyak memberikan keterangan,” tulis Hasan dalam Masa Akhir Majapahit.

Thomas Stamford Raffles, salah satu yang mendukung pendapat keruntuhan Majapahit pada 1400 saka. Dalam The History of Java, dia menyebut Majapahit diruntahkan Demak pada 1400 saka (sirna ilang kertaning bhumi) berdasarkan Serat Kanda.

Sejarawan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara menyatakan hal senada dengan Raffles. Majapahit sirna pada 1400 saka akibat gempuran Demak. Pendapatnya berdasarkan berita-berita tradisi dan resume Residen Poortman tentang naskah laporan Cina dari Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Kelenteng Talang Cirebon.

Di luar itu, masalah ini juga memancing banyak pendapat lain. P.J. Veth, profesor geografi dan etnologi dari Belanda, berpendapat Majapahit baru runtuh sebelum 1410 saka (1488 M). Dalam Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch (1875-1882), Veth menyebutkan beberapa permasalahan Majapahit Akhir, khususnya mengenai Girindrawarddana. Di antaranya, dia memakai sumber Prasasti Girindrawarddhana yang dikeluarkan pada 1408 saka (1486 M).

Pada tahun 1899, G.P. Rouffaer dalam Wanneer adalah Madjapahit Gevallen? juga secara panjang lebar mengupas masalah keruntuhan Majapahit. Dia berpendapat kerajaan itu tumbang antara 1516 dan 1521, yaitu sekira 1518.

Kemudian sejarah Belanda, N.J Krom berpendapat Majapahit masih berdiri sampai 1521. Bahkan, berdasarkan temuan prasasti tembaga dari daerah Malang, Prasasti Pabanolan (1463 saka atau 1541 M), Krom berpendapat Majapahit masih ada pada 1541 M.

Lebih jauh, Krom tak setuju keruntuhan Majapahit karena serangan terhadap daerah Islam pesisir, yang dipimpin Demak. Menurutnya, bubrah Majapahit akibat serangan kerajaan Hindu lainnya dari Kadiri, yaitu dinasti Girindrawarddhana. Dinasti ini kemudian pemerintahan Majapahit sampai beberapa waktu.

Arkeolog Belanda W.F. Stutterheim menduga Majapahit berakhir antara 1514 dan 1528, yaitu 1520. Itu dengan menyadari berakhirnya Majapahit tidak benar-benar diketahui pasti.

The B.J.O Schrieke, indolog, etnolog, dan sejarawan Belanda, mengemukakan Majapahit runtuh pada 1468 M ketika diserang oleh Bhattara ring Dahanapura dengan bantuan raja-raja daerah pesisir. Bhattara ring Dahanapura yang dimaksud tak lain adalah Bhattara I Klin atau Dyah Wijayakarana Girindrawarddhana yang meninggal pada 1396 saka (1474 M). Pada waktu itu raja Majapahit adalah Sinhawikramawarddhana.

Muhammad Yamin juga mengemukakan pendapatnya tentang masalah akhir Majapahit. Menurutnya, Majapahit runtuh antara 1522 dan 1528, yaitu sekira 1525. Pendapatnya berdasarkan keterangan Italia, Pigaffeta, yang menyebut adanya Majapahit (Magepaher) pada 1522.

Selain itu, pendapat Yamin juga didasarkan pada keterangan Joao de Barros, sejarawan Portugis, yang menyebut daerah Panarukan mengirim duta ke Malaka pada tahun 1528. Dengan adanya perjanjian antara Panarukan dan Portugis 1528, Yamin berpikir kalau politik pusat Majapahit sudah tidak ada lagi.

Sementara itu, Hasan Djafar percaya kalau 1400 saka lebih masuk akal jika melihatnya sebagai peristiwa perebutan takhta Majapahit oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya terhadap Bhre Krtabhumi. “Dalam penyerangan itu, Bhre Krtabhumi gugur di kadaton dan Ranawijaya sebagai pewaris sah berhasil menguasai kembali Majapahit,” kata Hasan.

Menurut Hasan, selain prasasti Raja Girindrawarddhana (1408 saka), bukti lain yang menguatkan Majapahit masih lama berdiri yaitu pembangunan tempat keagamaan bercorak Hindu di lereng Gunung Penanggungan pada masa Ranawijaya antara 1408-1433 saka (1486-1511 M).

Hasan menjelaskan, antara 1518 dan 1521, terjadi pergeseran politik di Majapahit yaitu beralihnya penguasaan Majapahit ke tangan Adipati Unus yang memerintah di Demak. Hal itu berdasarkan pemberitaan Pigafetta pada 1522 bahwa Pati Unus adalah raja Majapahit yang sangat berkuasa ketika masih hidup.

"Pati Unus meninggal pada 1521. Jadi memang benar jika pada 1522 Pigafetta menyebutkan Pati Unus sebagai penguasa Majapahit dengan kata-kata 'ketika rajanya (Pati Unus) masih hidup'," tulis Hasan.

Dengan dikuasainya Majapahit oleh Pati Unus, kerajaan ini kehilangan kepemilikannya. “Dengan demikian, pada 1519 untuk sementara dianggap sebagai saat keruntuhan Majapahit,” ujar Hasan.

Namun, Hasan menambahkan, dengan berakhirnya Majapahit, bukan berarti semua bekas kekuasaan Majapahit menjadi Islam direbut Demak. Pasalnya, hingga abad 17, daerah Blambangan masih menjadi kekuasaan Hindu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama