Perubahan Budaya Walisongo

Walisongo mengoreksi cara dakwah Islam sebelum abad ke-15. Melestarikan warisan budaya dan menjadikan Islam sebagai agama publik.

Ilustrasi Walisongo.

Beberapa catatan sejarah menyimpulkan, Islam masuk ke Nusantara sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8. Kala itu, penyebaran ajaran Nabi Muhammad SAW ini belum begitu pesat. Namun, sejak awal abad ke-15, Walisongo memulai untuk tidak baru dakwah Islam yang membawa era Islam di Nusantara, terutama Jawa.

Budayawan Nahdlatul Ulama Ngatawi Al-Zastrouw dalam Dialog Sejarah “Dakwah Walisongo dan Corak Islam di Jawa”, Jumat, 16 April 2021, menyebut konsep dakwah Walisongo merupakan sebuah Revolusi Kultural.

Ngatawi menjelaskan, salah satu penyebar agama Islam pra-Walisongo adalah para saudagar Timur Tengah. Sambil berdagang, mereka juga melakukan dakwah. Namun, kala itu konstruksi sosial masyarakat Nusantara masih didominasi pemahaman Hindu-Buddha di mana salah satunya menggunakan sistem kasta yang yakin bahwa penyebar agama adalah seorang Brahmana. Saudagar yang berkasta Waisya kemudian tak dipercaya menyebarkan menyebarkan agama.

“Orang Waisya kok nyebarin agama, ya nggak dipercaya. Inilah salah satu yang dikoreksi Walisongo. Nah kemudian walisongo melakukan koreksi sehingga menggunakan kebudayaan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran agama,” kata budayawan yang pernah menjadi asisten pribadi Gus Dur itu.

Walisongo sendiri, jelas Ngatawi, dimulai pada 1404. Ia terdiri dari beberapa wali, di antaranya Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Ahmad Maghribi, dan Maulana Malik Israil. Meski bernama Walisongo yang berarti Wali Sembilan, jumlah Walisongo kemungkinan berbeda-beda dan mencakup beberapa angkatan.

Sejak 50 tahun awal dakwah Walisongo, ungkap Ngatawi, Islam secara cepat bisa diterima masyarakat Jawa. Pendekatan kebudayaan memang menjadi kunci dakwahnya. Hal ini didukung dengan profesionalitas para wali di bidangnya masing-masing.

Sunan Ampel yang menggantikan Maulana Malik Ibrahim (wafat pada 1419), misalnya, merupakan wali yang ahli di bidang pendidikan. Ia mewariskan konsep pesantren yang masih bertahan hingga kini. Konsep pesantren merupakan transformasi dari padepokan, sanggar hingga karesian yang telah ada pada masa Hindu-Buddha. Kitab-kitab pendidikan seperti Tingkahing Wiku dan Silakrama masih dipakai dan dipadukan dengan kitab-kitab Islam tentang pendidikan seperti Ta'limul Muta'alim dan Adabud Dunya Waddin.

“Itu dikolaborasikan. Nilai-nilai yang sama, misalnya pada guru, akhlak guru kepada siswa, tanggung jawab guru kepada siswa, itu yang sama-sama itu, karena sudah sama tidak melakukan perubahan,” terang Ngatawi.

Lalu, Sunan Bonang (1465-1525), merupakan seorang intelektual. Ia banyak melahirkan karya tulis dan karya seni. Salah satu yang monumental adalah tembang “Tombo Ati”. Tembang ini digubah Sunan Bonang yang terispirasi dari “Syiir Abu Nawas”. “Tombo Ati” juga merupakan intisari ajaran Sunan Bonang yang terkandung dalam Suluk Wuragil.

Sementara itu, Sunan Kalijogo (1460-1513) merupakan wali yang ahli di bidang kebudayaan. Ia juga terkenal sebagai penyebar dakwah melalui pertunjukan wayang kulit. Warisan ajarannya bisa mencari dalam beberapa suluk dan serat, misalnya Suluk Sujinah dan Serat Kaki Walaka.

Kemudian, ada Sunan Muria (wafat 1551) yang merupakan ahli lingkungan. Salah satu jejaknya bisa dicari jika berziarah ke makam Sunan Muria di Kudus, di mana salah satu oleh-oleh terkenalnya ditemukan kayu pakis.

Jadi beliau itu dulu membina petani, jadi kalau ada hama tikus itu, menurut Sunan Muria tidak boleh dimatikan. Tikus itu hanya boleh diusir karena ini makhluk Tuhan. Jika tikus dimatikan dengan gropyokan, ekosistem alam akan terganggu. Maka dia menemukan kayu pakis itu, ditaruh,” kata Ngatawi.

Kayu pakis ini memiliki dua makna. Makna spiritualnya sebagai karomah, sementara secara ilmiah kayu pakis bisa mengusir hama tikus karena aromanya tidak disukai tikus.

Ada pula Sunan Gunung Jati (1448-1568) yang merupakan ahli strategi perang. Ia mewariskan lima nilai dasar yang disebut dengan Panca Laku. Ia kemudian juga dikenal dengan adagiumnya “Ingsun titip tajug lan fakir miskin”, yang artinya bahwa Sunan Gunung Jati berpesan kepada masyarakat untuk menjaga masjid dan peka terhadap kehidupan rakyat miskin.

Menurut Ngatawi, sebelum kedatangan Walisongo, orang Islam tidak mengenal pendekatan kebudayaan untuk berdakwah. Mereka mengajarkan mengenai apa itu Islam serta ritual-ritual apa saja yang wajib dilakukan. Itupun dilakukan sambil berdagang.

Walisongo datang dengan dakwah yang lebih mudah dijangkau dan dekat dengan rakyat Jawa. Dakwah Walisongo juga mencoba menyentuh aspek “rasa” yang memang erat dengan konstruksi sosial masyarakat Jawa.

“Jadi bukan aspek kognitifnya dulu, tetapi aspek afektifnya dulu. Maka yang diberikan kepada masyarakat Jawa terutama itu yang terkait dengan etik, moral, terus kemudian spiritualitas,” ujar mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) itu.

Hal-hal yang bersifat simbolik, syariah maupun akidah diajarkan. Walisongo mengutamakan agar masyarakat merasa senang, nyaman, tak terpinggirkan dan tak terancam dengan agama Islam.

“Nah itu yang disebut sekarang ini dengan istilah agama publik,” jelas Ngatawi.

Perkembangan Islam di Jawa pada abad ke-15 sebenarnya juga tak lepas dari peran Kesultanan Demak. Meski demikian, jelas Ngatawi, instrumen yang dipakai tetap budaya.

“Harus diakui sedikit banyak ada faktor kekuatan yang mendukung proses Islamisasi. Tetapi, metode yang dipakai sebagai pendekatan kebudayaan. Penggunaan tradisi, penggunaan budaya setempat sebagai instrumen. Bukan dengan kekuatan birokratik, bukan dengan kekuatan militer, bukan dengan kekuatan kohersi,” terang Ngatawi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama