Pernyataan Bersama AD-AURI yang Tidak Disetujui

Terkena peristiwa G30S, banyak anggota TNI AU dan keluarganya diperlakukan tidak baik oleh masyarakat. Pangdam Siliwangi berinisiatif mengundang Pangdam untuk membuat pernyataan bersama.

Menpangau Laksdya Omar Dani dan istri.

Setelah insiden G30S pecah, anggota Angkatan Udara Indonesia (AURI) terkena getahnya. Banyak personel Angkatan Udara dilecehkan dan dihina. Perwira tinggi tidak terkecuali. Mobil Laksamana Muda Udara Aburachmat tak sengaja ditabrak mobil jeep dari pasukan RPKAD (kini Kopassus).

"Pasukan Karbol berdiri di pinggir jalan dengan sikap sempurna dan menghormat arak-arakan jenazah para jenderal korban gerakan, wajah mereka diludahi oleh pasukan TNI Angkatan Darat yang berada di atas kendaraan lapis baja," kata mantan Menlu RI tersebut. Komandan Angkatan Laksamana Madya Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Gunakan Hati, Pikiran, dan Tanganku yang ditulis oleh Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno.

Keluarga mereka juga mendapat perlakuan diskriminatif akibat pemberitaan bahwa TNI Angkatan Udara terlibat dalam insiden G30S. "Mobil WARA dipukul, diludahi wanita AU di pasar dan sebagainya," kata Omar Dani dalam kesaksiannya kepada JMV Soeparno M. Cholil yang dimuat dalam buku Meningkap Halim Kabut 1965

Namun, perlakuan tersebut tidak diterima oleh anggota TNI AU yang bertugas di Pangkalan TNI AU (PAU) Atang Sanjaya, Bogor. Menurut Kolonel (Purn.) Pramono Adam, hal itu berkat kerja sama yang erat antara PAU Atang dengan Kodam Siliwangi yang dipimpin Mayjen Ibrahim Adjie.

“Pak Ibrahim Adjie juga mengatakan TNI AU tidak terlibat secara kelembagaan. Jika ada yang paling tidak bermoral. Kami (Adjie) sudah sering bertemu, jadi kami tahu situasi sebenarnya. Jadi, hubungan kami dengan Pak Ibrahim Adjie sangat baik," kata Pramono.

Keyakinan Adjie bahwa TNI AU tidak terlibat secara kelembagaan membuatnya mengambil sikap untuk memberikan pengamanan lebih kepada personel TNI AU di wilayahnya untuk menghindari perlakuan buruk yang diterima personel TNI AU di Jakarta dan tempat lain. Saat briefing oleh Presiden Sukarno di Istana Bogor, 4 Oktober 1965, Adjie menyempatkan diri menemui Menteri Pertahanan Omar Dani sebelum briefing dimulai. Dani saat itu tinggal di Paviliun 3, Istana Bogor.

“Mayor Jenderal Ibrahim Adjie datang ke Paviliun 3 dan menyarankan kepada Omar Dani untuk membuat pernyataan bersama antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara,” tulis Bendicta-Soeparno.

Dani yang menganggap ide Adjie sangat bagus, langsung mengiyakan ajakan tamu tersebut. Dia kemudian meminta Adjie untuk menyusun pernyataan bersama yang didasarkan pada mandat presiden untuk menutup barisan dan menghentikan pertumpahan darah. Setelah selesai, pernyataan bersama itu dibawa oleh Adjie yang berjanji akan menyerahkannya kepada Mayjen Pranoto Reksosamodra selaku pengurus Menpangad.

Namun, hingga hari berikutnya, 5 Oktober, pernyataan bersama itu belum diumumkan. Maka ketika bertemu dengan Mayjen Pranoto dalam rapat paripurna kabinet yang diselenggarakan Presiden di Istana Bogor, 6 Oktober, Dani perlu mengundang Pranoto untuk mampir ke pendoponya. Di tempat tinggal sementaranya, Dani menanyakan pernyataan bersama yang dibuatnya dengan Mayjen Adjie.

"Jen. Suharto tidak setuju dengan pernyataan ini. Saya tidak bisa berbuat apa-apa!" kata Pranoto, dikutip Bendicta-Soeparno.Jenderal Suharto yang dimaksud adalah Panglima Kostrad yang setelah G30S mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat.

Dani hanya bisa kecewa mendengar jawaban Pranoto. Sementara itu, Angkatan Udara semakin terpojok di masyarakat. Hal ini bahkan dialami Dani saat pindah ke PAU Atang, Semplak pada 9 Oktober lalu. Dani mengetahui beberapa personel RPKAD selalu berada di sekitar PAU untuk melakukan pengawasan.

Karena merasa tidak nyaman, Dani memerintahkan Dan PAU Atang Kolonel Udara Soewoto Soekendar untuk meminta Danrem Bogor tampil bersamanya. Di hadapan Dani, Danrem berjanji akan menjaga Dani dan keluarganya saat itu di Atang. Maka sejak itu, Dani merasa lebih aman.

Tidak jelas apakah posisi Danrem Bogor itu inisiatif pribadi atau perintah Pangdam Mayor Jenderal Adjie. Pasalnya, saat Panglima Komando Wilayah Udara (Korud) Kolonel Ashadi Tjahjadi menghadap Dani di PAU Atang pada 12 Oktober lalu untuk mengajukan permintaan dukungan udara dari Mayjen Adjie, Dani mendapat laporan kesepakatan yang dibuat Ashadi dengan Adjie.

“Panglima Korud/Pangdam Jabar Husein Sastranegara, Kolonel Ud. Ashadji Tjahjadi datang ke PAU Atang Sanjaya, Semplak untuk mengabarkan bahwa dirinya telah menandatangani Surat Pernyataan Bersama antara Kodam Siliwangi dengan Korud Jabar yang ditandatangani oleh Mayjen Ibrahim Adjie dan Kolonel Ud. Ashadi Tjahjadi, atas prakarsa Mayjen Ibrahim Adjie bukan Pernyataan Bersama antar sesama angkatan AD-AU," tulis Benedicta-Soeparno.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama