Peran Indonesia dalam Kemerdekaan Aljazair

Solidaritas untuk pembebasan bangsa-bangsa Asia Afrika dari penjajahan mendorong Indonesia untuk rajin membantu kemerdekaan Aljazair.

Suasana Konferensi Mahasiswa Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung.

Pada akhir Mei 1956, Mohammed Benyahia dan Lakhdar Brahimi pergi dari Paris ke Bandung. Kedua pemuda Aljazair itu adalah anggota dari Union Générale des Etudiants Musulmans Algériens (UGEMA), organisasi aktivis mahasiswa yang memiliki koneksi dengan organisasi revolusioner Aljazair, Front de Libération Nationale (FLN). Benyahia baru saja memulai kariernya sebagai pengacara, sementara Brahimi adalah mahasiswa ilmu politik di Paris. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari karir dan sekolah demi waktu dan tenaga untuk perjuangan Aljazair dengan pergi ke Bandung.

Mereka berdua datang ke Bandung untuk menggemakan perjuangan nasional Aljazair dan mencari dukungan di Konferensi Mahasiswa Asia dan Afrika, pertemuan internasional yang mempertemukan ratusan mahasiswa dari 27 negara Asia dan Afrika. Terinspirasi dari Konferensi Asia-Afrika setahun sebelumnya, Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika (KMAA) bertujuan untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama dalam membangun pendidikan di Asia dan Afrika, juga kompetisiisme, dunia, perlombaan nuklir, dan diskriminasi rasal.

KMAA menandakan dimulainya apa yang disebut oleh Samir Amin dalam bukunya Eurocentricm sebagai “era Bandung”. Dalam periode yang terbentang dari 1950-an sampai 1970-sebuah inisiatif kolektif yang dibangun oleh aktivis antikolonial Asia dan Afrika untuk menggalang solidaritas Asia-Afrika melawan kolonialisme dan imperialisme. Indonesia, baik melalui pemerintah maupun aktor-aktor non-negara, merupakan salah satu penggerak kuncinya.

Bebaskan Aljazair!

Benyahia dan Brahimi mungkin baru pertama kali ke Bandung di tahun 1956. Tapi mereka tahu kota Bandung bersejarah bagi perjuangan antiimperialisme Asia-Afrika. Tahun sebelumnya kota ini menyelenggarakan pertemuan yang menghimpun para pemimpin baru Asia dan Afrika di mana salah satu pesannya adalah mendukung kemerdekaan negara-negara Afrika Utara dari Perancis, seperti Tunisia, Maroko, dan Aljazair (ANRI, LN Palar 1928-1981, No. 123) .

Pada Maret 1956, Maroko dan Tunisia berhasil merdeka. Sementara itu, Aljazair masih berjuang melawan dirinya. Oleh karena itu, Benyahia dan Brahimi datang ke KMAA sebagai aktivis mahasiswa sekaligus warga jajahan.

Kehadiran delegasi mahasiswa Aljazair paling mendapat sorotan. Karena perhatian dunia waktu itu mengarah pada perjuangan kemerdekaan Aljazair dan negara-negara Asia-Afrika juga memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka.

Dukungan KMAA terhadap Aljazair sudah terlihat dari awal acara. Di hari pertama, 30 Mei 1956, dalam parade mahasiswa dan pelajar Asia-Afrika terdapat rombongan parade membawa spanduk “Perjuangan Rakyat Malaya, Maroko, dan Aljazair Harus Didukung” dan “Kita Berjuang untuk Menghancurkan Kolonialisme Demi Kemenangan Asia-Afrika” (Harian Rakjat, 31 Mei 1956). Parade sepanjang 8 kilometer berawal dari Tegallega melewati Balai Kota ini menarik perhatian warga lokal di sekitar Bandung.

Dalam acara utama membaca ucapan tiap negara, orasi benyahia paling sambutan. Benyahia memulai bicaranya dengan menyandingkan tahun 1855 dan 1955 dan kota Berlin dan Bandung di mana “perubahan yang menentukan dalam sejarah umat manusia” terjadi. Ia mengatakan bahwa “Pada tahun 1885, perwakilan negara-negara Eropa berkumpul di Berlin untuk membagi-bagi wilayah Asia dan Afrika di antara mereka sendiri. Pada tahun 1955, hanya 70 tahun kemudian, perwakilan negara-negara Afrika bertemu di Bandung untuk menyatakan bahwa era dominasi Eropa telah berakhir, bahwa imperium Eropa mulai sekarang adalah konsep yang kosong.”

Meskipun pemerintahan kolonial kolaps di mana-mana, Benyahia menambahkan bahwa rakyat Aljazair masih bertarung melawan Prancis di mana mereka memiliki 400.000 tentara dan tentara yang lebih kuat. Di bawah kolonialisme Perancis ini, ia mengatakan jangan bermimpi untuk bertukar pelajar dan kebudayaan atau berbicara metode pendidikan, rakyat Aljaair harus mengorbankan sekolah dan nyawanya untuk kemerdekaan nasional.

Perlawanan Aljazair menghasilkan dukungan dari peserta konferensi, seperti Sudan, Tunisia, Maroko, Lebanon, Korea Utara, dan Afrika Ekuatorial dan Barat. Namun, simpati tidak hanya dari delegasi mahasiswa Afro-Asia, tetapi juga mahasiswa lokal Indonesia. Di tengah-tengah sesi KMAA, rombongan mahasiswa berdemonstrasi di luar Gedung Merdeka membawa kutukan kutukan kolonialisme Perancis dan mendukung perjuangan Aljazair. Hati Benyahia dan Brahimi pun tergerak dan menemui demonstran. Mereka mendengarkan pesan-pesan solidaritas dari para mahasiswa dan mengungkapkan terima kasihnya atas dukungan para mahasiswa lokal.

Dalam resolusinya, KMAA memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Aljazair, di samping Irian Barat, dan restorasi hak rakyat Palestina atas wilayahnya (Konferensi Pelajar Asia-Afrika, 1956: 167). Benyahia menjadi salah satu bintang konferensi. “Di akhir acara iarak bersama dengan pemimpin Indonesia dan Malaya di tengah seruan ‘merdeka’, ‘hidup damai’, ‘hidup kooperasi’, ‘hidup Asia-Afrika’,” tulis Willard A. Hanna dalam The Little Bandung Conference: A Letter from Willard A. Hanna.

Misi Besar Aljazair di Indonesia

Benyahia dan Brahimi ke Indonesia ternyata tidak hanya menghadiri KMAA. Mereka memiliki misi lebih besar: FLN jaringan internasional di Asia Tenggara dari Indonesia. Menurut Jeffrey James Byrne dalam Mecca of Revolution: Algeria, Decolonization, and the Third World Order, Benyahia akan tinggal di Indonesia sebagai “duta besar” untuk Aljazair, sementara Brahimi hidup sementara di Jakarta untuk belajar bahasa Inggris sebelum menetap di New Delhi.

Rencana ini jelas mencerminkan karakter internasionalis dari FLN di mana di tahun 1950-an juga mengirim representasi mereka ke Timur Tengah, Asia Selatan, Eropa, dan Amerika Latin. Namun, Ya ampun Benyahia tidak dapat tinggal lama di Jakarta karena sakit dan harus kembali ke Kairo. Brahimi akhirnya tidak jadi menetap di pos New Delhi dan menggantikan peran Benyahia di Jakarta.

Menetapnya Brahimi di Jakarta tidak bisa lepas dari andil Sukarno. Pasca-KMAA, mahasiswa Aljazair meminta bantuan mahasiswa Indonesia untuk mengatur waktu bertemu dengan Presiden Sukarno. mengajukan ini disetujui Sukarno, namun ia meminta mahasiswa Indonesia tidak hanya membawa mahasiswa Aljazair, tetapi juga memobilisasi massa Istana Merdeka. Elemen ini penting untuk menunjukkan dukungan simbolik rakyat Indonesia kepada perjuangan Aljazair. Menariknya, sebelum datang ke Istana Merdeka, mahasiswa Aljazair dan Indonesia berdemonstrasi di Kedutaan Perancis terlebih dahulu.

Di Istana Merdeka, Benyahia berpidato sambil menangis menceritakan nasib rakyat Aljazair yang menderita di bawah dominasi Perancis. Sukarno kemudian menimpali bahwa “Republik Indonesia membela Aljazair! Malam ini saya perintahkan Menteri Luar Negeri untuk pergi ke PBB! Semua kita bantu Aljazair tenaga tenaga!”

Sukarno memberikan kantor pada pejuang antikolonial Aljazair di Jalan Serang. Kantor ini menjadi markas FLN di Asia Tenggara. Selama lima tahun (1956-1961), Brahimi membangun kontak dengan para pemimpin Indonesia dan Asia Tenggara melalui kantor Jakarta. Ia bergaul akrab dengan pemimpin Indonesia dari spektrum latar belakang politik yang luas, dari mulai I.J. Kasimo (Partai Katolik), Hamid Algadri (PSI), dan Mohammad Natsir (Masjumi). Brahimi pun menjelajah Asia Tenggara untuk menempa dukungan internasional bagi perjuangan kemerdekaan di tanah airnya.

Pemerintah Indonesia tidak pernah kehilangan semangat membela kemerdekaan Aljazair. Ketika Pemerintahan Sementara Republik Aljazair (GPRA) dibentuk di Kairo tahun 1958, Sukarno mendukung pembentukan pemerintahan itu. Atas dukungan luar biasa dari Indonesia, pemimpin GPRA Ferhat Abbas datang ke Indonesia tahun 1961. Brahimi menemani Abbas dalam kunjungan tersebut. Dalam seminggu Abbas tidak hanya menemui para pemimpin Indonesia di Jakarta, tapi ia juga melakukan tur ke Bandung, Surakarta, dan Yogyakarta.

Di Bandung, Abbas menyempatkan untuk datang ke Gedung Merdeka, tempat perhelatan KAA dan KMAA. Ia berhenti di tempat yang sangat bersejarah bagi perjuangan kemerdekaan rakyat Aljazair yang merdeka setahun kemudian.

Penulis merupakan sejarah Universitas Gadjah Mada, sedang menulis disertasi jaringan Indonesia dan Asia-Afrika tahun 1950-1960-an di University of Bristol.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama