Pengunduran diri Jenderal Soedirman

Mengapa Panglima Besar Jenderal Soedirman berniat mengundurkan diri?

Presiden Sukarno memeluk Panglima Jenderal Sudirman di Keraton Yogyakarta, 10 Juli 1949.

Sebagai penutup debat capres 22 Juni 2014, Joko Widodo membacakan kutipan Panglima Besar Jenderal Soedirman: “Satu-satunya hak milik negara Republik yang tetap utuh dan tidak berubah meskipun harus menghadapi segala macam masalah dan perubahannya adalah TNI. (Tentara Nasional Indonesia). Jadi sebenarnya kewajiban kita semua yang selalu menjaga tegaknya Proklamasi 17 Agustus 1945. Menjaga agar hak milik negara republik tidak dapat diubah oleh keadaan apapun.”

Menurut AH Nasution dalam Seputar Perang Kemerdekaan Indonesia, kutipan tersebut merupakan bagian dari surat Soedirman tertanggal 1 Agustus 1949 kepada Presiden Sukarno yang ditulisnya ketika sakit. Saat itu sedang terjadi krisis politik-militer di Yogyakarta. Sesuai dengan Perjanjian Roem-Royen, Sukarno mengeluarkan perintah gencatan senjata pada 3 Agustus 1949.

"Sudirman adalah salah satu perwira yang menentang perjanjian Roem-Royen, karena ia curiga akan pengulangan kelicikan Belanda," tulis Mohamad Roem dalam Bunga Rampai dari History Volume 1. -hari terakhirnya. Dia ingin tinggal bersama gerilyawan dan petani sampai hari yang menentukan."

Pada pagi hari tanggal 2 Agustus 1949, Soedirman memanggil Nasution dan mengajaknya bergabung dengan Sukarno di keraton Yogyakarta. Soedirman ingin mengundurkan diri sebagai bentuk penolakan gencatan senjata. "Kami tidak bisa lagi mengikuti politik pemerintah, kami terpaksa mengundurkan diri," kata Sudirman.

“Saya tegaskan itu sikap seluruh Panglima,” kata Nasution dalam “Kepemimpinan Pak Dirman” yang termuat dalam Perilaku Politik Panglima Besar Soedirman.

“Jika itu adalah pembentukan APRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), maka Soekarno-Hatta yang akan mengundurkan diri terlebih dahulu, kami bersedia mengikuti kepemimpinan APRI untuk melanjutkan perjuangan,” kata Sukarno.

Seketika, kenang Nasution, air mata mengalir. Tidak ada lagi berbicara. Mereka berjabat tangan dan berpisah.

Sore harinya, Nasution dipanggil ke tempat Sudirman. Ajudannya mengajukan surat pengunduran diri. Surat itu belum diberi nomor. Nasution membacanya terlebih dahulu sebelum membawanya ke Sukarno.

Setelah itu, Nasution mendatangi Sudirman yang terbaring sakit di tempat tidur. Ia menyatakan, “kesatuan pimpinan APRI dengan Soekarno-Hatta lebih penting daripada strategi perjuangan. Tidak peduli seberapa bagus strateginya, jika pecah antara dua pimpinan nasional tertinggi dan militer, perjuangan akan gagal.”

Sudirman setuju dengan Nasution. "Surat itu tidak dikirim. Tapi sampai sekarang surat itu menjadi dokumen sejarah," kata Nasution.

Menurut Roeslan Abdulgani dalam “Peran Panglima Besar Sudirman dalam Revolusi Indonesia”, meski menentang politik negosiasi, Soedirman tetap menunjukkan sikap setia terhadap apapun yang diputuskan pemerintah.

“Dalam hal ini,” tulis Roeslan, yang termuat dalam Perilaku Politik Panglima Besar Soedirman, “dialah yang selalu menekankan: tentara adalah alat negara. Prajurit tidak berpolitik. Politik tentara adalah politik negara."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama