Penerjunan Pertama Indonesia

Operasi penerjunan pertama yang heroik dari Angkatan Udara mengilhami pembentukan pasukan elit Angkatan Udara.

Personil tim terjun payung pertama Angkatan Udara.

Deru mesin pesawat DC-3 Dakota RI-002 memecah keheningan pagi 17 Oktober 1947. Pilot Bob Freeberg, veteran AL AS yang menjadi pilot Commercial Air Lines Incorporated (CALI), dan co-pilot Mayor Makmur Suhodo berkonsentrasi penuh mencari drop zone, Sapanbiha, Kalimantan.

Langit masih gelap. Belantara Kalimantan di bawah hanya terlihat hamparan warna hitam. Mata Mayor (Ud.)Tjilik Riwut, pemuda Dayak yang menjadi perwira di Bagian Siasat Perang Sekretaris KSAU, terus memelototi daratan yang akan dijadikan titik penerjunan. Meski sulit, dia tak ingin gagal. Misi kali ini menjadi pertaruhan sekaligus AURI dalam mempertahankan kemerdekaan di bumi Kalimantan.

Sejak Indonesia diproklamirkan, para republiken berjuang secara swadaya mengusir Belanda yang dipasrahi AS memegang kendali dan keamanan di Kalimantan. Perjuangan para republiken di Kalimantan dilakukan dengan bergerilya menggunakan alakadarnya. Bantuan dari pusat selalu gagal mencapai tujuan karena blokade pasukan Belanda sangat ketat.

Bagi Gubernur Kalimantan Ir. Mohammad Nur, satu-satunya pengiriman bantuan yang mungkin hanya lewat udara. Sepucuk surat pun dikirimkannya kepada KSAU Komodor Suryadarma di ibukota RI Yogyakarta. 

“Isinya meminta bantuan agar AURI membantu melatih pemuda-pemuda asal Kalimantan, kemudian menerjunkan mereka kembali ke Kalimantan untuk berjuang membantu saudara-nya,” tulis Irna HN Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950.

buka itu hasil. Setelah merundingkannya dengan pimpinan AURI, Markas Besar Tentara (MBT) membentuk staf khusus untuk membuat pasukan payung yang akan diterjunkan ke Kalimantan. Dalam waktu singkat, sekira 60 pejuang asal Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa berhasil direkrut. Mereka ditempatkan di Asrama Padasan, dekat Lanud Maguwo.

Di bawah Tjilik Riwut, yang ditunjuk Suryadarma memimpin pembentukan pasukan itu, kemudian menjalani latihan dasar terjun. Mereka mengetahui oleh Opsir Udara II Sujono, Opsir Muda Udara II Amir Hamzah, Sersan Udara Mispar, dan Kopral Udara Sangkala. Namun karena waktu yang sempit, latihan terjun hanya didapatkan secara teori dan latihan di darat tanpa penerjunan dari pesawat.

Dua belas orang akhirnya terpilih masuk dalam tim penerjuanan yang akan menggunakan pesawat RI-002 itu. Letnan Udara II Iskandar ditunjuk untuk mengomandani tim. Dua personil PHB (perhubungan) AURI bakal menemani penerjunan mereka. Selain ikut terjun, Tjilik Riwut mendapat tugas menjadi penunjuk jalan, sedangkan Amir Hamzah sebagai jumping master.

Dini hari 17 Oktober 1947, mereka diberangkatkan dari Lanud Maguwo. “Suryadarma turut hadir untuk memberikan briefing dan melepas keberangkatan mereka dengan banyak alami seluruh anggota pasukan satu per satu,” tulis Adityawarman Suryadarma dalam Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma.

“Tujuan dan tugas operasi penerjunan rahasia itu adalah membentuk dan menyusun kekuatan inti gerilya di daerah asal suku Dayak, Sepanbiha, membantu perjuangan rakyat setempat, membuka stasiun pemancar induk, serta menyiapkan daerah penerjunan untuk operasi selanjutnya,” tulis Irna dkk.

Sekira subuh, pesawat RI-002 sudah mencapai langit Kalimantan. Pesawat itu terus terbang menuju sebuah bukit kecil yang berada di sebelah titik penerjunan. “Akan tetapi 10 menit kemudian di sebelah bukit kecil yang membuka itu kami tidak ada melihat suatu apapun kampung atau lapangan,” kenang Tjilik Riwut dalam memoarnya, Kalimantan Memanggil.

Setelah Tjilik yakin mereka sudah di atas Sepanbiha, pintu pesawat pun dibuka. Satu per satu penerjun untuk keluar dan terjun, kecuali Jamhani yang batal terjun karena takut. Penerjunan personil itu kemudian diikuti penerjunan peralatan dan logistik bekal gerilya. beberapa penerjun sempat tersangkut di pohon, mereka semua selamat menapakan kaki di darat.

Mereka akhirnya bisa bergabung kembali pada hari ketiga karena tercerai-berai saat mendarat. beberapa peralatan yang diternjukan pun tak dapat ditemukan. Namun yang menjadi masalah, ternyata mereka tidak mendarat di Sepanbiha (zona menjatuhkan), melainkan di Kampung Sambi, barat laut Rantau Pulut, Kotawaringin. Alhasil, mereka pun terpaksa bertahan di dalam belantara.

Pada hari ke-35, mereka bermalam di sebuah ladang di tepi Sungai Koleh. Dini hari 23 Nopember, ketika mereka sedang bersantai, tembakan dari pasukan NICA menghujani mereka dari tiga arah. Letda (Ud.) Iskandar, Sersan (Ud.) Achmad Kosasih, dan Kapten (Ud.) Hari Hadisumantri gugur seketika. Suyoto tertawan. Sisa pasukan yang selamat langsung menyelamatkan diri.

Mereka langsung keluar-masuk hutan melakukan gerilya. Namun kepungan pasukan NICA begitu ketat, ruang gerak mereka kian terbatas. Kurang dari dua bulan kemudian, sisa pasukan penerjunan pertama yang selamat itu semua tertangkap.

Setelah dibawa ke Banjarmasin, mereka ditahan di Penjara Bukitduri, Jakarta sebelum dipindah-pindah lagi ke Penjara Glodok, Cipinang, dan Nusakambangan. Mereka menghadiri Konferensi Meja Bundar.

Untuk mengenang operasi penerjunan pertama Indonesia itu, sutradara Vladimir Sis membuat film berjudul Aksi Kalimantan. Selain Bambang Hermanto, film itu dibintangi antara lain oleh Bambang Irawan dan Mieke Wijaya.

“Operasi penerjunan yang dilakukan oleh 13 prajurit AURI merupakan peristiwa yang lahir dari satuan pasukan khusus AURI, yang kemudian dikenal sebagai Pasukan Gerak Tjepat (PGT),” tulis Adityawarman.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama