Penerbangan Terakhir Komodor Udara Leo Wattimena

Reputasi mulia pilot dihancurkan oleh badai G30S. Namanya ditelan kabut rezim Orde Baru.

Leo Wattimena.

Soeharto kenal betul dengan Leo Wattimena. waktu dia. sebagai Panglima Komando Mandala salah Irian Barat, Leo adalah satu wakilnya. Dalam komando operasi itu, Leo punya tugas penting mengorganisasi pasukan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Di kelas AURI, Leo Wattimena bukan nama biasa. Dia dikenal sebagai penerbang ulung dengan jam terbang tinggi, Sebagai pilot tempur berpengalaman, Soeharto pun percaya kepada Leo. Kalau Leo terbang, seperti dituturkan pakar politik dan pertahanan Salim Said, biasanya Soeharto menanti di pangkalan udara sampai pesawat yang dikemudikan Leo mendarat kembali.

“Tapi, hubungan Leo dengan Soeharto menjadi rusak waktu Gestapu (Gerakan 30 September/G30S),” ujar Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian. Lantas apa yang terjadi dengan Leo dan Soeharto?

Bombardir Markas Kostrad?

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 berimbas pada AURI yang disudutkan banyak pihak. Angkatan Darat sangat curiga AURI terlibat dalam gerakan tersebut. Akar berawal dari surat perintah Menteri Panglima AU Laksamana Madya Omar Dani pada 1 Oktober yang menyiratkan dukungan terhadap gerakan. Selain itu, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang merupakan kawasan AURI disinyalir sebagai basis G30S.

Hari yang menjadi prahara itu dikisahkan Omar Dani dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani oleh Benedicta A. Surodjo dan JMV. Soekarno. Pada malam hari, 1 Oktober, Dani bersama Panglima Komando Operasi AURI, Komodor Leo Wattimena melakukan pemantauan situasi keamanan dari udara. Mereka meninjau kawasan Halim sampai Madiun dengan pesawat Hercules C-130. Memasuki pergantian hari, Dani terasa lelah dan setelah enam jam terbang. Dia meminta Leo untuk berkirim radiogram kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.

Dani berpesan agar Soeharto tidak perlu menggerakan pasukannya memasuki Pangkalan Halim untuk mengejar pasukan G30S. Karena itu pasukan AD dari Yon 454/Raiders Kostrad yang berusaha memasuki Halim pada hari yang telah dihalau oleh PGT (Pasukan Gerak Tjepat)-AURI. Jika masuk, di Pangkalan Halim hanya ada pasukan PGT-AURI, anggota Pangkalan, dan kru pesawat yang sedang dikonsinyasi. Setelah menitipkan pesan itu, Dani sehingga tidak sempat memeriksa isi radiogram.

Siapa nyana, Leo menerjemahkan maksud Dani dengan pesan radiogram yang singkat, padat, dan tegas. “Jangan masuk Halim. Kalau masuk Halim akan dihadapi,” demikian bunyi radiogram yang dikirimkan Leo ke markas Kostrad. Pesan yang sama juga dikirimkan ke Komandan Wing 002 PAU Abdurachman Saleh, Kolonel (Pnb.) Pedet Soedarman di Malang. Soedarman menangkap “siaga” dan segera mengirimkan dua pesawat pembom B-25 tepat waktu pemburu ke Pangkalan Halim.

Menurut Humaidi, sejarawan yang meneliti AURI periode 1960-an, pesan gertakan yang dibuat oleh Leo Wattimena menarik untuk dipertanyakan. Pada intinya, surat itu adalah perintah Omar Dani secara lisan yang kemudian diterjemahkan oleh Leo.

“Leo menerjemahkan perintah Omar Dani dengan tidak tepat sasaran,” tulis Humadi dalam Dari Halim ke Nirbaya: Pasang Surut AURI Dalam Politik 1962-1966.

Radiogram pesan itu akhirnya sampai ke markas Kostrad. Soeharto yang panik segera berangkat dari Kostrad ke bilangan Senayan kemudian Gandaria. Dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto mencatat peristiwa itu sebagai ancaman serius yang pernah dialaminya.

Didubeskan ke Vatikan

Alasan Leo meminta perintah Omar Dani seolah-olah memang sulit dijangkau. Tapi, secercah terang dapat ditemukan bila mengetahui sosok Leo Wattimena sebenarnya. Semangat korsa Leo terhadap korpsnya, AURI sangat kental. Seperti yang diakui koleganya, Ashadi Tjahyadi, “Spirit de corps-nya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi.

Prahara G30S telah AURI jadi bulan-bulanan angkatan lain. Leo Wattimena tentu mafhum bahwa AURI berada dalam situasi kritis. Gelagat ini diperlihatkan Leo yang sangat tertutup dan tidak pernah bercerita kepada keluarga tentang tugas dan kedinasannya di AURI.

Seperti saat Angkatan Darat hendak menyerang kawasan Halim pada 1965, Leo hanya mengatakan kepada keluarganya kalau Halim akan diserang Malaysia. Ketika itu memang Indonesia sedang berkonflik dengan negara federasi Malaysia. Namun sejatinya, Leo sangat marah menyaksikan AURI dipojokkan di sana-sini. Leo bahkan pernah berseru, “Kalau mereka hantam AURI saya akan hajar habis-habisan kalau perlu berjibaku dengan menabrakan pesawat!”

Ketika rezim berganti, terjadilah “pembersihan” dalam tubuh AURI. Omar Dani bahkan dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya selama hampir 30 tahun. Leo sendiri ditugaskan ke Vatikan, Italia sebagai duta besar pada 1969.

Di Vatikan, Leo bekerja dengan tekun. Seperti dicatat dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, Leo berupaya menonjolkan ciri khas Indonesia di kompleks perlindungan. Leo juga sering mengenalkan kesenian Indonesia di Italia dengan pentas seni keliling daerah di Italia.

Tetapi, dengan “pengasingannya” ke negeri seberang itu, sesungguhnya memendam luka dalam batin seorang Leo. Dia menjadi sangat karena harus berpisah dengan cinta pertama, yaitu pesawat tempur P-51 Mustang. Bagaikan hilang jiwa, sebab Leo bercita-cita menjadi penerbang duta besar.

Pada 1970, Salim Said berkunjung ke Italia dan bersua dengan Leo Wattimena. Waktu itu Leo masih berharap dapat ditempatkan di Departemen Pertahanan dan Keamanan begitu dari Jakarta selepas jadi dubes. Inilah keinginan Leo dalam perbincangannya dengan Salim Said.

“Tapi, bagi Soeharto dia sudah selesai,” kata Salim Said.

Menepi untuk Selamanya

Setelah 21 tahun mengabdikan diri di AURI, Leo mengajukan permohonan pengunduran diri pada 15 Agustus 1971. Pangkat terakhirnya marsekal muda (jenderal bintang dua AU). Selepas pensiun, Leo kehilangan orientasi. Tidak banyak yang diketahui apa yang dilakoni oleh Leo setelah pensiun tapi dia sempat bekerja di perusahaan kabel.

Hingga suatu ketika, Kepala Staf AU (KSAU) Marsekal Ashadi Tjahyadi (periode 1977-1982), bertemu dengan Leo secara tidak sengaja di bilangan Blok M, Jakarta. Ashadi kemudian meminta sahabatnya itu untuk menjadi ahli KSAU. Namun, Leo tampaknya tidak mau lagi bekerja dengan maksimal. Kondisi fisiknya terus menurun karena menderita penyakit asma.

Kemana-mana, Leo mulai memakai tongkat untuk menopang tubuhnya yang kian gontai dan lemah. Tubuh gagah Leo tampak mulai kurus. Ketika dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Leo nekat kabur dengan bajaj karena tidak betah diopname.

“Kalau saya meninggal rawat anak-anak dengan baik,” itulah pesan terakhir Leo kepada sang istri, Corrie Dingemans

Pada 18 April 1976, pilot legendaris AURI bernama lengkap Leonardus Willem Johannes Wattimena itu wafat dalam usia 47 tahun. Kepergiannya itu ibarat "penerbangan" yang terakhir. Sesuai pesannya, jenazah Leo dikebumikan dengan pakaian berwarna jingga, khas para pilot AURI saat akan melakukan aksi penerbangan. Leo hadir dengan pusara sahabatnya sesama legenda Tim Mustang AURI, Komodor Udara Ignatius Dewanto, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama