Pasukan Karbol Angkatan Udara yang Menderita

Pasca kejadian G30S, TNI AU menjadi kambing hitam di mata TNI AD. Akibatnya, taruna AAU pun dipermalukan saat pemakaman 7 Pahlawan Revolusi di Kalibata.

Suasana peringatan Hari ABRI pada 5 Oktober 1965 ditandai dengan aksi konvoi lapis baja yang membawa jenazah kaum revolusioner.

"Pasukan Karbol" adalah sebutan untuk taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga berpengalaman menjadi pasukan karbol. Selain itu, Hadi yang merupakan lulusan AAU angkatan 1986 ini pernah menjadi Komandan Batalyon Taruna AAU. Saat melatih pasukan karbol, Hadi kerap menunjukkan kepiawaiannya.

“Misalnya, ketika para karbolis sedang berlatih menembak, Hadi menerbangkan pesawat lalu sengaja terbang rendah dan bermanuver ke arah mereka,” tutur Eddy Suprapto dalam biografi Putra Sersan Menjadi Panglima: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Menurut Chappy Hakim dalam kumpulan tulisan Awas Ditabrak Pesawat, penyebutan "karbol" dimulai pada awal 1960-an. Pelopornya adalah Letnan Kolonel (AU) Saleh Basarah. Pada tahun 1963, Basarah, Officer of the 001 Education Wing yang juga merupakan anggota pelaksana proyek AAU belajar di Amerika Serikat pada tahun 1963.

Saat mengunjungi markas Angkatan Udara AS (USAF) di Washington, Basarah menyaksikan para taruna udara yang sering dipanggil "The Dollies", "Dooly", "Mister Dooly", dan sebagainya. Julukan tersebut diambil dari nama seorang jenderal USAF: James Harold Doolitle, seorang penerbang handal yang serba bisa. Dalam Perang Dunia II, Doolittle dianugerahi Medal of Honor atas keberaniannya memimpin serangan balik melawan Jepang, empat bulan setelah Pearl Harbor dihancurkan. Operasi militer udara itu dikenal sebagai "Serangan Doolitle".

Basarah kemudian mengadaptasi tradisi di Amerika ke Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Dia memotong panggilan karbol untuk menamai taruna AAU. Nama “karbol” diambil dari nama panggilan Marsekal Abdulrachman Saleh, seorang pilot dan perintis TNI AU yang tewas ditabrak pesawat Belanda.

“Harapannya semua lulusan Akademi TNI Angkatan Udara bisa mencontoh dan mampu mencapai kualitas perwira seperti Abdulrachman Saleh, taruna AAU yang dipanggil dengan nama ‘karbol’,” tulis Chappy Hakim.

Menurut Suprapto, belum ada surat keputusan untuk itu. Saleh Basarah hanya mengumumkan secara lisan pada apel pagi Pataruna, yang biasa dikenal sebagai Apel Embun di Lapangan Belimbing. Tentu dengan sedikit penjelasan tentang sosok Abdul Rahman Saleh. Seruan karbol itu langsung disetujui semua pihak.

Namun, pasukan karbol 1965 harus merasakan pahitnya pengalaman pahit. Itu terjadi pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 5 Oktober 1965. Pasukan Karbol berbaris menyambut konvoi lapis baja yang membawa jenazah para pahlawan revolusioner yang akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kehadiran dan tindakan mereka di sana sebagai tanda berkabung.

"Pasukan Karbol yang berdiri di pinggir jalan dengan sikap sempurna dan memberi hormat pada prosesi jenazah para jenderal korban gerakan, mukanya diludahi pasukan TNI AD yang berada di kendaraan lapis baja," kenang mantan TNI AU itu. komandan Omar Dani di Pledoi Omar. Dani: Tuhan, Gunakan Hati, Pikiran, dan Tanganku disusun oleh Benedicta A. Surodjo dan JMV. Suparno.

Menurut Omar Dani, TNI AU menjadi bahan cemoohan dan cemoohan banyak pihak karena dianggap terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Penindasan tidak hanya melanda pasukan karbol. Mobil perwira TNI AU seperti Laksda Aburachmat dan Letnan Satu (AU) Chusnul Chotimah ditabrak jeep dari pasukan RPKAD (kini Kopassus). Ibu-ibu TNI AU yang berbelanja di pasar-pasar di luar kawasan Pangkalan Halim Perdanakusumah juga diludahi.

Omar Dani sendiri menjadi tahanan politik yang dijebloskan ke penjara selama hampir 30 tahun. Selama rezim Orde Baru berkuasa, sebagaimana dikemukakan sejarawan Asvi Warman Adam dalam kata pengantar Pledoi Omar Dani, hubungan antara Presiden Suharto dan TNI AU sebagai sebuah institusi tidak pernah mesra. Dalam membangun industri kedirgantaraan, Soeharto lebih mempercayai teknokrat B.J. Habibie ketimbang ahli dari Angkatan Udara.

Selain itu, pada masa Orde Baru, kepemimpinan militer selalu “dikuasai” oleh Angkatan Darat, yaitu Panglima Angkatan Bersenjata. Dominasi itu pecah menjadi era reformasi. Pada tahun 2006, Marsekal Djoko Suyanto menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia pada masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kini Panglima TNI dijabat Marsekal Hadi Tjahjanto yang juga perwira dari TNI Angkatan Udara.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama