Pahlawan Udara Bernama Leo Wattimena

Baik di udara, teman setia di darat. Di balik sisi gilanya, Leo Wattimena adalah sosok yang disukai banyak rekannya.

Panglima Komando Mandala Mayjen Suharto bersama Komodor Leo Wattimena menyiapkan strategi pembebasan Irian Barat.

Jangan coba-coba meniru tindakan Leo Wattimena. Pesan itu datang dari rekan Leo sendiri, sesama pilot, Roesmin Noerjadin. Di antara rekan-rekannya, Leo dikenal sebagai penerbang yang "gila". Kepiawaiannya menerbangkan pesawat sambil akrobatik tidak bisa ditandingi oleh siapapun.

“Saya pernah meniru, tapi langsung diperingatkan Pak Roesmin Noerjadin, jangan meniru orang gila itu lagi,” kenang Moesidjan. Pada tahun 1958, Moesidjan menjadi salah satu pilot pesawat tempur P-51 Mustang di Skadron 3 TNI AU yang berpangkalan di Lanud Halim Perdanakusuma. Komandan skuadron saat itu adalah Roesmin Noerjadin.

“Kalau diulang-ulang tidak harus jadi pilot tempur,” kata Roesmin seperti dikutip Moesidjan dalam Hero Dirgantara: Peran Mustang dalam Operasi Militer Indonesia edit Soemakno Iswadi

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Belajar dari pengalaman, pilot lain mengalami kecelakaan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Karena ingin meniru gaya Leo Wattimena, pesawat yang dipiloti Letnan I (Air) Subagyo itu menabrak landasan saat lepas landas. Subagyo langsung jatuh.

Sebagai pahlawan di udara, Leo Wattimena tidak hanya memiliki keberuntungan. Dibandingkan dengan rekan-rekan pilotnya, Leo selalu mengambil beban yang lebih berat untuk mengasah keterampilannya. Ternyata, Leo diam-diam mempraktikkan berbagai gaya tarik-menarik di udara. Inilah rahasianya. Ia sering berlatih terbang di atas gumpalan awan dan menganggap awan sebagai fondasinya. Ukurannya, jika pesawat menabrak awan, berarti pesawat tersebut telah jatuh. Setelah banyak uji coba, barulah atraksi itu dilakukan di landasan.

Selain rajin berlatih, Leo memiliki postur tubuh yang mendukung ukuran pilot pesawat tempur. Secara kasat mata, Leo terlihat kekar, berleher pendek, dan kekar. Leher pendek sangat menguntungkan pilot pesawat tempur karena jarak jantung memompa darah ke kepala dekat. Dengan demikian, pilot akan dengan mudah mengatasi kondisi kehilangan kesadaran saat berada di ketinggian tertentu.

"Postur fisik Leo memang mendukung. Dia selalu bisa dengan cepat mengatasi kondisi blank itu. Bahkan, dia melakukannya sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya," tulis Iswadi.

Dengan Mustang kesayangannya, Leo melejit sepuasnya. Begitu juga di Angkatan Udara, Leo adalah penerbang tempur yang disegani. Tapi, itu tidak membuat Leo melupakan tanah itu. Di balik reputasinya yang gemilang, Leo menunjukkan kehidupan pribadi yang sederhana.

Pada tahun 1956, Leo menikah dengan Corrie Dingemans, seorang wanita Indo dari Jakarta. Di awal pernikahan mereka, keluarga Leo hidup berantakan di kawasan Setiabudi. Sebenarnya Leo pernah ditawari sebuah rumah besar di kota tapi dia tidak mengambilnya karena dia ingin tinggal di Halim Perdanakusuma. Awal tahun 1960, keluarga Leo kemudian pindah ke Kompleks Halim Trikora.

Salah satu kebiasaan Leo yang banyak diingat rekan-rekannya adalah ia rutin mengantarkan nasi kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Dia mengirimkannya langsung dengan pesawat Mustang self-propelled. Bahkan, pekerjaan itu bisa dipercayakan kepada bawahannya.

Dikisahkan dalam biografi Leo Wattimena yang disusun oleh Kapten Heri Susanto dari Departemen Angkatan Udara, selama operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat, Leo mendapat tugas mengirim gula dari Jakarta ke Makassar. Sedangkan di rumah Leo sendiri tidak ada gula. Alih-alih aji sementara, Leo memilih untuk tidak mengambil gula apapun untuk kebutuhan rumah tangganya.

"Tanpa gula kita bisa membesarkan anak," kata Leo kepada istrinya.

Sekali waktu, Leo juga marah sebagai tanda solidaritas dengan pasukan depan. Saat makan bersama, Leo tiba-tiba membuang makanannya karena melihat prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat hanya diberi tempe. Sementara itu, para perwira tinggi yang duduk di barisan belakang mendapat santapan dengan lauk daging ayam. Ledakan emosi itu semata-mata ditunjukkan oleh Leo untuk menghormati hak-hak prajurit yang belum tentu bisa pulang dari pertempuran dengan selamat.

“Semangat korpsnya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi," kenang rekan Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn) Ashadi Tjahyadi dikutip Iswadi.

Di hadapan siapapun yang mengenalnya, Leo juga tak segan-segan memamerkan keahliannya selain menerbangkan pesawat. Leo memiliki hobi menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak. “Kalau ada Leo tidak pernah sepi,” begitulah kenang teman-temannya terhadap sosok Leo Wattimena.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama