Orang yang mengusulkan nama Gelora Bung Karno

Nama Gelora Bung Karno diusulkan oleh menteri agama.

Menteri Agama Saifuddin Zuhri dan istrinya berfoto bersama Presiden Soekarno usai pelantikan pada 2 Maret 1962.

Suatu pagi sambil minum kopi, beberapa menteri berkumpul di teras belakang Istana Merdeka. Diantaranya Menteri Olahraga Maladi, Menteri Dalam Negeri dr. Soemarno Sosroatmodjo, Menteri Agama Saifuddin Zuhri, dan beberapa pejabat sipil dan militer. Mereka membahas nama kompleks olahraga yang terletak di Senayan untuk Asian Games IV. Mereka sepakat menamai Gelora Bung Karno, tapi Saifuddin tidak setuju.

“Namanya tidak sesuai dengan sifat dan tujuan olahraga itu,” kata Saifuddin dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Semua mata tertuju padanya.

"Mengapa?" tanya Soekarno.

Kata 'pusat' dalam kalimat 'Pusat Olahraga' terdengar statis, tidak dinamis seperti tujuan olahraga gerak kita," kata Saifuddin.

"Usulkan ganti nama kalau begitu," kata Sukarno.

"Nama 'Sports Arena' lebih cocok dan lebih dinamis," jelas Saifuddin. "Nama Gelora Bung Karno disingkat menjadi Gelora Bung Karno. Kan mencerminkan dinamika yang sesuai dengan tujuan olahraga."

"Wow, itu nama yang bagus. Saya setuju!" Sukarno menjabat tangan Saifuddin dengan wajah cerah. Sukarno memerintahkan Maladi untuk mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Gelora Bung Karno. Pada 21 Juli 1962, Soekarno meresmikan Gelora Bung Karno dengan kapasitas 110.000 orang.

Dalam konteks desukarnoisasi, penguasa Orde Baru mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Pada tahun 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan nama Gelora Bung Karno.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama