OPM Hampir Membunuh Sarwo Edhie

Panglima Kodam Cenderawasih 4 itu nyaris kehilangan nyawanya saat bertugas di Irian Barat.

Sarwo Edhie (paling kanan mengenakan seragam militer baret merah) dan istrinya (kebaya) saat bertugas di Irian Barat sebagai Pangdam Cenderawasih.

Kristiani Herrawati khawatir dan khawatir. Ayahnya, Brigjen Sarwo Edhie Wibowo, akan menempati pos baru di Irian Barat sebagai Pangdam Cenderawasih. Sarwo memang dipersiapkan untuk misi khusus. Ia harus memastikan pelaksanaan Opini Rakyat Papua (Pepera) berjalan aman dan berakhir dengan kemenangan di pihak Indonesia.

“Orang-orang menggambarkan Irian pada waktu itu sebagai tempat yang mengerikan. Alamnya masih perawan dan berbagai pemberontakan sering terjadi,” kata Kristiani kepada Alberthiene Endah di Wings of the Warrior Princess.

Apa yang saya takutkan benar-benar terjadi. Awal Mei 1969, Sarwo menaiki pesawat Twin Otter kecil milik Merpati Nusantara Airlines menuju Enarotali, Kabupaten Paniai. Kepergian Sarwo ke Enarotali terkait dengan sosialisasi dan kampanye UU ​​Pilihan Bebas. Selain Sarwo, AKP Sukanto (Polres Nabire) dan Mayor Tb. Hasanudin (Panglima Kodim 1705 Nabire) juga berada di pesawat yang sama.

Siapa sangka, dalam penerbangan itu, Sarwo nyaris kehilangan nyawanya. Saat hendak mendarat, pesawat tiba-tiba terkena tembakan dari bawah. Rentetan api menyebabkan tangki bahan bakar bocor. Dari daratan, bendera Bintang Kejora milik Organisasi Papua Merdeka (OPM) berkibar.

Pesawat akhirnya melakukan pendaratan darurat di Nabire setelah penerbangan tersendat karena kehabisan bahan bakar. Sarwo Edhie berhasil menyelamatkan diri. Sedangkan AKP Sukanto mengalami luka tembak di bagian kaki.

“Penembakan pesawat MNA Twin Otter oleh anggota Polri laki-laki setempat, yang dihasut OPM, kemudian dikenal sebagai Peristiwa Enarotali,” tulis wartawan Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Prajurit ke Komando.

Peristiwa Enarotali berawal dari kekecewaan warga terhadap pemindahan ibu kota Paniai ke Nabire yang diikuti dengan pergantian birokrat lokal oleh pendatang. Mereka ingin ibu kota kabupaten berada di Enarotali. Mereka juga menolak kedatangan migran, termasuk guru, relawan, dan ABRI yang kemudian berubah menjadi gerakan anti pemerintah.

Menurut Hendro, yang saat itu sedang meliput operasi militer di Irian Barat, kekecewaan masyarakat Enarotali dimanfaatkan oleh separatis untuk memperkenalkan ideologi OPM kepada penduduk dan aparat kepolisian setempat. Lapangan terbang Wagete dan Enarotali rusak. ABRI setempat terisolasi. Mereka mengancam agar petugas dan pendatang meninggalkan Wagete hingga akhir April 1969. Aksi ini kemudian berujung pada penembakan terhadap pesawat yang membawa Panglima Kodam Sarwo Edhie Wibowo.

Dalam keterangannya yang dimuat Kompas pada 13 Mei 1969, Sarwo mengatakan tidak akan membalas tindakan kelompok bersenjata tersebut. "Tentara Indonesia adalah prajurit Pantjasila, bukan tentara pembunuh," kata Sarwo. Pernyataan Sarwo tersebut merupakan bantahan terhadap siaran radio dan pers asing yang memberitakan operasi militer TNI.

Namun nyatanya, TNI memang menindak tegas para pemberontak di Paniai. Sarwo mengeluarkan perintah tempur kepada anak buahnya dengan melancarkan operasi militer lintas udara. Sebanyak 634 warga sipil terindikasi tewas dalam operasi ini.

Kebijakan panglima yang keras seolah membuat Sarwo menjadi sasaran OPM. Sebelum Act of Free Choice, pada 24 Juni, aparat keamanan menangkap seorang warga negara Belanda, anggota Fund for West Irian (FUNDWI), bernama Hans Reiff. Berdasarkan laporan intelijen, Reiff diduga terlibat persekongkolan dengan kelompok OPM yang kerap menggelar pertemuan klandestin di Jayapura.

Sebuah dokumen yang juga disita dengan Reif mengungkapkan rencana untuk menyabotase Pepera. Nama Sarwo Edhie ikut terseret. Dokumen yang tertuang dalam berita acara yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri berjudul “Fakta dan Data Perkembangan Gerakan Separatis OPM Hingga Akhir 1975” menyebutkan Sarwo Edhie sebagai salah satu sasaran penculikan dan pembunuhan bersama Fernando Ortis Sanz, Delegasi PBB di Papua (UNTEA).

Tak hanya memburu Sarwo, istrinya Sunarti Sri Hardiyah juga ikut dalam aksi teror tersebut. Diceritakan Kristiani, saat Sri menemani Sarwo bertugas di Irian Barat, sering terlihat adegan pria lokal yang membawa senjata tajam. Sebagian warga Irian yang enggan bersatu dalam NKRI terus melancarkan serangan terhadap pasukan TNI dan keluarganya.

 "Alhamdulillah, Ibu dan Ayah bisa menjaga diri," kata Kristiani, yang istrinya nanti akan menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia. Mungkin karena pengalaman itu, SBY cukup teguh pada aspirasi rakyat Papua. Selama dua masa pemerintahannya (2004-14), SBY tidak pernah mengizinkan rakyat Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama