Melihat Sejarah Hakekok

Muncul pada tahun 1960-an, Hakekok tidak bertahan lama. Sekarang muncul kembali.

Pengikut Balakasuta yang ritualnya mengikuti Hakekok di Desa Karangbolong, Cigeulis, Pandeglang, Banten.

Polisi mengamankan 16 pengikut ajaran Balakasuta di Desa Karangbolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Terdiri dari delapan laki-laki, lima perempuan dan tiga anak. Mereka melakukan ritual mandi bersama dengan tujuan menyucikan diri. MUI menyerahkan mereka untuk dibina di Pondok Pesantren Abuya Muhtadi.

Kompas.com memberitakan Balakasuta dipimpin oleh Arya yang berasal dari Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ritual tersebut mengadopsi ajaran Hakekok yang dibawa oleh almarhum E alias S.

Arya mengakui bahwa ajarannya telah membuat komitmen kepada Imam Mahdi dan dijanjikan kekayaan. Namun, setelah menunggu selama bertahun-tahun, janji itu tidak pernah menjadi kenyataan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyucikan diri, membersihkan diri, dan membubarkan diri.

Hakekok yang dianut oleh Balakasuta merupakan kepercayaan yang sudah muncul sejak lama.

Budayawan Ridwan Saidi dalam bukunya, Diburu Mossad dan Lakon Politik "Che Guevara Melayu", menyebutkan bahwa Hakekok, lakon realitas, adalah aliran sesat yang berkedok Islam. Penganutnya mengadakan upacara tertutup pada malam hari, di mana pria dan wanita melepas pakaian mereka dan mematikan lampu.

"Mereka tidak mengikuti syariat Islam dan memuja Semar. Mereka percaya Semar masih hidup dan suka mengunjungi desa, lalu menghilang setelah memberi nasehat (nasehat). Dalam pengembaraannya, Semar selalu sendiri," tulis Ridwan.

Justus M. van der Kroef, profesor di Departemen Sosiologi di Bridgeport University, Connecticut, Amerika Serikat, menyinggung Hakekok dalam artikelnya, “Sekte Agama Baru di Jawa” yang dimuat dalam Far Eastern Survey, Vol. 30 No. 2 (1961).

Justus mengungkapkan bahwa pada awal tahun 1952, Kantor Departemen Agama Jawa Barat mengumumkan munculnya 29 aliran agama baru di wilayahnya sejak Indonesia resmi merdeka (artinya pengakuan kedaulatan) pada tahun 1949.

Pada pertengahan 1960-an, ketika pemerintah Indonesia menyatakan secara resmi mewaspadai perkembangan aliran-aliran agama, Jaksa Agung R. Kadarusman (1962-1964) menyatakan bahwa ada ratusan aliran kepercayaan di seluruh Indonesia.

Menurut Justus, jumlah anggota sekte-sekte tersebut sulit ditentukan karena struktur organisasinya yang tidak stabil dan banyak pemeluknya yang menganut salah satu agama utama, seperti Islam. Sementara juru bicara dari berbagai sekte cenderung membesar-besarkan jumlah pengikut.

“Terlepas dari jumlah pengikutnya, pesatnya penyebaran sekte-sekte ini sendiri merupakan salah satu fenomena terpenting dalam masyarakat Jawa saat ini [1960-an],” tulis Justus.

Namun, menurut Justus, beberapa sekte sangat berumur pendek sehingga kandungan ideologisnya tidak pernah cukup diketahui, seperti kasus aliran Hakekok di Sukabumi, Jawa Barat.

“Sekte Hakekok tampaknya melibatkan upacara aneh, pria dan wanita telanjang di sebuah masjid, tetapi pemimpinnya, Nawawi, tewas dalam bentrokan dengan militer dan sekte itu dibubarkan sebelum banyak yang mengetahuinya,” tulis Justus.

Sedangkan Almanak Indonesia Jilid 1 (1969) mencantumkan sekte-sekte mistik, para pemimpinnya, serta prinsip dan tujuannya pada tahun 1962. Salah satunya adalah Hakekok yang dipimpin oleh Armi dan Irsad. Sholatnya cukup dengan niat dan tidak perlu pergi haji ke Mekkah. Sekte ini dibubarkan pada tahun 1961.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama