Mangoenatmodjo, Penyebar Gerakan Islam Abangan

Abangan Islam ini berbeda dengan yang selama ini dikenal, penyebarnya dibuang ke Digul dan hilang di sungai.

Sekelompok tapol dikirim ke Boven Digul, Papua, pada tahun 1927.

Selama masa kolonial, sejumlah aliran kepercayaan lokal berkembang. Beberapa penelitiannya menemukan penemuan-penemuan itu oleh pemerintah kolonial. Tetapi sebagian lagi, dianggap cukup konfrontatif terhadap pemerintah dan berbahaya. Salah satunya gerakan Islam Abangan Mangoenatmodjo di Klaten, Jawa Tengah, pada 1920-an.

Mangoenatmodjo adalah petani dari desa Karangwungu, Klaten. Pendidikan formalnya hanya setahun swasta bumiputra di Surakarta. Tapi dia pandai menulis. Anggitannya, Serat Kalabrasta, terbit di surat kabar sohor masa itu, Darma Kanda pada 1910.

Tulisan Mangoenatmodjo tentang interpretasi atas Serat Kalatida karya Ranggawarsita, pujangga masyhur keraton Surakarta. Karena terbitan itu, dia menjadi terkenal di kalangan pembaca kota. Bersama keterkenalan itu pula, dia mulai menyebarkan Islam Abangan di kelompok kecil masyarakat desanya.

“Menurut keterangan yang diperoleh, ajaran Islam Abangan itu berlandaskan ajaran Seh Siti Djenar, salah seorang Wali pada zaman Kerajaan Demak yang dibunuh oleh Wali Sanga, karena dianggap murtad,” catat surat A.H. Neys, Asisten Residen Klaten kepada A.J.W. Harloff, Residen Surakarta, seperti termuat dalam Laporan-Laporan Tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX.

Syekh Siti Jenar tak pernah meninggalkan catatan tertulis tentang ajarannya. Lalu bagaimana Mangoenatmodjo mengklaim dasar ajarannya dari Siti Jenar? Menurut Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926, itu karena dia pernah membaca Serat Siti Djenar anggitan R. Pandji Nataraja.

Mangoenatmodjo mengklaim Islamnya sebagai Islam yang sejati. Dia berupaya menyingkap esensi Ketuhanan.

“Gusti Allah punika: embuh. Nanging embuhipun punika boten ateges: ora weruh, katah leregipun dateng ora ana (Bahwa Allah itu: tidak tahu. Tetapi ketidaktahuan itu tidak berarti: tidak melihat, artinya cenderung ke 'tidak ada': bahwa Allah itu tidak dapat ditangkap oleh pancaindra dan karenanya tidak ada),” sebut Mangoenatmodjo seperti dikutip Shiraishi.

Mangoenatmodjo juga menyatakan semua kitab suci itu palsu. Adanya kitab suci hanya untuk menguasai dan menindas rakyat dengan mudah. Selain itu, dia menyamakan kehidupan setelah mati para nabi, wali, ratu, dan bajingan. “Sesudah mati mereka habis, tidak ada yang tersisa,” lanjut Shiraishi. Tak ada pula hari pengadilan sebelum kematian.

Pemerintah kolonial mengendus aktivitas ini. Tapi mereka tidak menganggap ajarannya ini membahayakan. Kebijakan pemerintah kolonial cukup terbuka terhadap perkembangan aliran kepercayaan lokal selama tidak ada beban melawan hukum dan mengganggu ketenteraman dan masalah umum.

Tapi ajaran Mangoenatmodjo berubah konfrontatif pada akhir 1910-an. Mangoenatmodjo mulai mendirikan paguyuban gotong royong bernama Roekoen Desa.

“Tindakan ini untuk mendobrak praktik ijon dan menembus benteng perantara dengan memberikan kredit petani yang dibayar dengan hasil panen padi dan menjual padi itu langsung kepada pedagang dan pemilik lumbung padi Tionghoa di Delanggu,” tambah Shiraishi.

Delanggu adalah pusat lumbung beras dan ekonomi di Jawa Tengah. Kala itu harga beras naik, tapi keuntungan dari kenaikan itu tak pernah jatuh ke petani. keuntungan hanya berputar di pembeli ijon. Ijon artinya membeli padi sewaktu padi masih berwarna hijau.

Tindak tanduk Mangoenatmodjo tidak disukai oleh para pembeli padi ijon. Karena itu akan mengikis keuntungan mereka. Penguasa setempat juga meminta Mangoenatmodjo untuk berhenti menolak pembelian padi secara ijon. Tapi dia menolaknya. Akibat dari itu, jabatannya sebagai kamituwa (kepala desa) dicabut.

Para pengurus tiga organisasi pergerakan nasional (Sarekat Hindia, Sarekat Islam, dan Boedi Oetomo) memuji tindak tanduk Mangoenatmodjo. Mereka pun berusaha mendekati Mangoenatmodjo agar mau masuk ke organisasinya.

Mangoenatmodjo memilih bergabung ke Sarekat Islam. Di sini dia menjadi ketua Sarekat Islam cabang Delanggu dibantu oleh dua asistennya: Mangoensoebroto dan Ronowaskito. Dalam rapat-rapat Sarekat Islam Delanggu, Mangoenatmodjo menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam Abangan yang berbeda dari sebelumnya dan lebih agitatif terhadap pemerintah.

“Mangoenatmodjo menciptakan bahwa ‘Jawa itu sebenarnya milik orang-orang Jawa’,” tulis Zainul Munasichin dalam Berebut Kiri. Ucapannya itu ditujukan untuk mengingatkan pemerintah kolonial. Jauh sebelum Belanda datang, tanah itu dikelola dan dikuasai oleh masyarakat setempat.

Pokok ajaran lainnya juga memuat menyerang pemerintah. Laporan Asisten Residen Klaten menyebut ada delapan poin ajaran lain. Di antaranya taat kepada penguasa dan polisi jika tak adil; konsepsi tentang kepemilikan bumi, langit, dan udara; kenaikan upah buruh tani; terhadap pajak; dan anjuran untuk tak takut mati.

“Islam Abangan itu artinya ‘prajurit yang berani’. Islam = prajurit dan Abangan = bendera merah sebagai tanda keberanian,” kata Asisten Residen.

Ajaran-ajaran baru ini menarik banyak orang. “Karena ajaran-ajaran Mangoenatmodjo dan teman-temannya itu pada tanggal 10 Juni 1920, 600 orang petani di wilayah perkebunan Ceper Afdeeling Pangkalan berani memaksa menuntut kenaikan upah bagi kerja wajib mereka,” lanjut Asisten Residen.

Polisi bergerak. Mereka menangkapi pelaku demonstrasi. Tapi Mangoenatmodjo terhindar dari kesalahan karena terbukti ikut berdemonstrasi dan menggerakkan massa. Tapi namanya masuk dalam pengawasan pemerintah kolonial.

“Demi kepentingan ketenteraman dan umum Bantuan Residen mengusulkan agar 3 orang tokoh Islam Abangan, yang dianggap berbahaya dan jika keadaan memang mendesak, ditindak atas dasar pasal 47 R.R.,” sebut Asisten Residen.

Pasal 47 R.R. (Regelings Reglement) memuat ketentuan tentang hak istimewa para jenderal untuk menangkap dan membuang seseorang yang berbahaya. Selama pengawasan itu, Mangoenatmodjo justru berhasil mengumpulkan pengikutnya hingga sekira 12 ribu orang. Para pengikutnya mengidentifikasi diri mereka sebagai pengikut Sarekat Abangan dan mengangkat Mangoenatmodjo sebagai presidennya.

Tapi sesungguhnya, Sarekat Abangan bersifat cair. Tak ada keanggotaan resmi, iuran, dan hierarki ketat. “Itulah yang benar-benar kekuatan menjadi sesungguhnya,” singgung Shiraishi.

Perkembangan pesat pengikut Mangoenatmodjo mendorong pula pertambahan kasus pemogokan petani. Pemerintah kolonial akhirnya menangkap Mangoenatmodjo dan dua pembantunya pada Mei 1920. Tapi dia dibebaskan karena tak terbukti bersalah. Setelah itu, dia ditangkap, lalu dibebaskan lagi. Berulang-ulang sampai 1921. “Akhirnya tenggelam tanpa aktivitas,” sebut Shiraishi.

Hayat Mangoenatmodjo berakhir di Boven Digul, tempat pembuangan di Papua untuk para tahanan politik, pada 1927. Dia hilang di sungai. Terbawa buaya saat mandi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama