Lagu Gerilya Seorang Menteri Negara

Disajikan dalam bentuk tembang Jawa, buku ini berisi tentang pengalaman gerilya seorang menteri dalam menghindari penangkapan Belanda pada Agresi Militer kedua.

Nayaka Lelana/Menteri Bergerilya karya Mr. Susanto Tirtoprojo.

Tanpa makna bahasa Indonesia di bawah judulnya, buku ini akan cenderung terkesan sebagai buku yang berisi cerita wayang, kumpulan cerpen, atau novel. Maklum, judulnya menggunakan bahasa Jawa. Atau, buku ini juga bisa disalahartikan sebagai buku pelajaran sekolah karena desain sampulnya terlalu “formal” seperti buku pelajaran sekolah dasar tahun 1980-an.

Begitu halaman demi halaman dibuka, kesan pertama akan semakin kuat karena kalimat-kalimat dalam buku ini berbahasa Jawa. Selain itu, kalimat-kalimat tersebut disusun secara singkat dalam bait-bait seperti pantun, syair, atau lagu Jawa.

Tanpa memahami bahasa Jawa, hampir bisa dipastikan isi buku ini tidak akan bisa dipahami. Untungnya, pada edisi kali ini penerbit menambahkan subtitle dan terjemahan selain syair-syair Jawa. Dari syair-syair berbahasa Indonesia inilah pembaca dapat memahami cerita yang disajikan penulis, yaitu pengalaman Agresi Militer Belanda kedua.

Buku ini ditulis oleh Bapak Susanto Tirtoprojo, menteri kehakiman pada Kabinet Hatta I, untuk berbagi pengalaman menghindari penangkapan Belanda dalam agresi kedua.

“Derenging tyas angengidung,

apa kang wus sunalami,

wiwit wadyabala Landa,

kianat cidra ing janji,

nyerang tan mawi wawarta,

Indonesia Republik,” kata Susanto yang artinya:

"Impuls hati (untuk) bernyanyi,

(cerita) apa yang saya alami,

sejak tentara Belanda,

pengkhianatan, mengingkari janji,

(dengan) menyerang tanpa (memberi) berita,

terhadap Republik Indonesia.”

Pelarian Susanto sendiri dimulai setelah penjajahan Belanda di Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Susanto yang ketika serangan Belanda dimulai, berada di Solo, langsung bertemu dengan Menteri Kemakmuran I.J Kasimo yang juga berada di kota yang sama. Keduanya sepakat kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan tugas masing-masing serta menghadiri rapat kabinet.

Namun perjalanan mereka hanya sampai di Kartasura karena mobil mereka ditembak oleh pesawat Belanda dan menghancurkannya. Mereka kembali ke Solo menggunakan kereta kuda. Dalam perjalanan pulang, dalam perjalanan mereka bertemu dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dr. Sukiman Wiryosanjoyo yang ingin pergi ke Yogyakarta juga. Ketiganya sepakat untuk kembali ke Solo.

Di Solo, keesokan harinya mereka mengadakan rapat darurat dengan Wali Kota Solo, warga Surakarta, Gubernur Jenderal TNI Gatot Subroto dan lain-lain. Keputusan yang dikeluarkan, ketiga menteri tersebut tetap menjalankan fungsinya demi kelangsungan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pimpinan puncaknya telah ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Sumatera.

Namun, sebelum tugas itu dilaksanakan, mereka dikejutkan dengan kabar bahwa pasukan Belanda telah tiba di Kartasura menuju Solo. Mereka yang datang dari Menteri Pembangunan dan Pemuda Supeno, bergegas ke Tawangmangu. Turut serta dalam rombongan antara lain Susilowati (anggota Badan Kerja KNIP).

Di Tawangmangu, mereka menduduki Vila Brandaris. Di sanalah mereka memutuskan bahwa menteri dalam negeri harus membuat pidato radio. Namun lagi-lagi pasukan Belanda dikabarkan sudah mendekat. Mereka panik. Pidato radio dibatalkan. Mereka segera berlari kembali. Panik, rombongan bubar.

Dari Tawangmangulah “petualangan” Susanto dimulai, terus ke arah timur menuju desa-desa di kaki Gunung Wilis. Pelarian yang kemudian dilakukan dengan jalan kaki diwarnai dengan berbagai cerita yang warnanya silih berganti atau berpadu perasaan bingung, lelah, lapar, takut, sedih, optimis, sesekali gembira dan sedikit humor. Ritmenya naik turun.

Susanto mengalami kesedihan dan kehilangan, antara lain saat mengungsi di Desa Ganter di kaki Gunung Lawu. Di sana dia akhirnya berpisah dengan Supeno. Susanto melihat Supeno dibawa kabur oleh pasukan Belanda. Dia kemudian dieksekusi. Susanto sangat menghormati Supeno karena dia tidak mau membuka mulutnya untuk menyelamatkan rekan-rekannya bahkan jika mereka harus kehilangan nyawa.

Pelarian Susanto juga mengandung banyak cerita kemanusiaan. Bantuan sering diterima atau diberikan oleh rombongan Susanto di desa-desa yang dilaluinya selama pelariannya. Di berbagai desa yang dilaluinya, Susanto melihat sendiri bahwa semangat gotong royong masih kental di masyarakat. Kisah kemanusiaan dan perjuangan Susanto beserta rombongan kecilnya berakhir ketika mereka akhirnya tiba kembali di Yogyakarta pada 13 Juli 1949.

Dengan demikian, buku ini tidak hanya menceritakan pengalaman pribadi Susanto tetapi juga menjadi sumber utama dalam sejarah bangsa. Pelarian Susanto membuktikan beratnya perjuangan seorang menteri untuk menyelamatkan dirinya dan negaranya, sekaligus menunjukkan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan Republik Indonesia untuk tetap eksis.

Selain cerita, buku ini menunjukkan kepedulian Susanto terhadap sejarah bangsanya sekaligus membuktikan kreativitasnya dalam menulis. Pemilihan model tembang Jawa dalam penyampaiannya merupakan kreativitas aslinya. Buku ini mungkin merupakan satu-satunya memori seorang tokoh nasional yang dibuat dalam bentuk lagu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama