Kontribusi Indonesia untuk Asia-Afrika

Keinginan untuk membantu perjuangan kemerdekaan Asia-Afrika dari bangsa Indonesia diwujudkan dalam OISRAA.

Konferensi Afro-Asia & Organisasi Solidaritas Rakyat (AAPSO) di Kairo, Mesir.

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan berlangsung pada 22-24 April 2015 di Bandung, Jawa Barat. Selain melahirkan Dasa Sila Bandung, KAA menumbuhkan semangat solidaritas antar negara Asia dan Afrika.

Sebagai tindak lanjut dari Konferensi Asia Afrika, pada bulan Desember 1957, Mesir menjadi tuan rumah Konferensi Persekutuan Rakyat Asia Afrika yang diadakan di Universitas Kairo. Dari konferensi ini dibentuklah Afro-Asian Peoples Solidarity Organization (AAPSO). Negara-negara peserta akan membentuk organisasi persahabatan di wilayah mereka dan kemudian mengirim perwakilan mereka ke Kairo.

Di Indonesia, Komite Perdamaian Indonesia (KPI), sebuah badan non-pemerintah yang mendukung gerakan internasional untuk pelarangan senjata atom, membentuk Organisasi Indonesia untuk Orang-orang Beriman Asia-Afrika (OISRAA) pada tahun 1960. Pendiri OISRAA adalah Anwar Tjokroaminoto (Partai Syarikat Islam Indonesia), KH Sirajuddin Abbas (Perti), Njoto (PKI), Mansur (PNI), dan Sunito (DPR GR).

Rapat paripurna mengangkat Utami Suryadarma, Rektor Universitas Res Publica, sebagai ketua umum dan Ibrahim Isa sebagai sekretaris jenderal. OISRAA berbagi kantor dengan KPI di Jalan Raden Saleh No. 52, Jakarta. Isa ditunjuk sebagai perwakilan OISRAA di AAPSO.

OISRAA aktif mengkampanyekan dan menggalang dukungan untuk pembebasan Irian Barat. Antara lain, melobi pemerintah Mesir untuk menutup Terusan Suez dari kapal perang Belanda yang menuju Irian.

OISRAA juga membantu perjuangan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. “OISRAA mendukung perjuangan Aljazair melawan Prancis, Vietnam Selatan melawan Amerika Serikat, dan melawan apartheid di Afrika Selatan,” kata Vannessa Hearman, dosen Kajian Indonesia di University of Sydney.

Berkat lobi OISRAA, Kemlu RI memberikan lampu hijau bagi Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN), Kongres Nasional Afrika, dan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan untuk membuka kantor perwakilan di Jakarta. FLN Aljazair, misalnya, memiliki kantor perwakilan di Jalan Serang, dipimpin oleh Lakhdar Brahimi (sekarang diplomat senior PBB). Melalui Brahimi, bantuan Indonesia mengalir ke unit-unit perjuangan Aljazair.

Menurut Ibrahim Isa, keberhasilan OISRAA tidak lepas dari peran Presiden Sukarno. Sukarno mengirim Duta Besar Mobil Indonesia Supeni Pudjobuntoro untuk bertemu dengan Pangeran Kamboja Norodom Sihanouk. Tujuannya, Sihanouk bersedia meminta Presiden Prancis Charles De Gaulle untuk melarang Prancis berhak menjadikan Aljazair sebagai negara apartheid.

"Awalnya Sihanouk ragu-ragu, tapi kemudian diteruskan ke De Gaulle," kata Isa. Aljazair akhirnya merdeka pada Juli 1962.

Mengenai Afrika Selatan, lobi OISRAA juga menentukan tindakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia. “Pada 19 Agustus 1963, Indonesia menutup hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Afrika Selatan dan menutup pelabuhannya dari kapal-kapal Afrika Selatan,” tulis J.A. Kalley dan E. Schoeman dalam Sejarah Politik Afrika Selatan.

OISRAA juga berhasil meyakinkan negara-negara Asia, Timur Tengah, dan Afrika untuk mengirimkan perwakilannya ke Konferensi Internasional Pangkalan Militer Anti Asing (KIAPMA) di Jakarta pada 17 Oktober 1965.

Selanjutnya, selain menjadi salah satu panitia, OISRAA mengkampanyekan Konferensi Trikontinental (Asia, Afrika, Amerika Latin) di Havana, Kuba, pada 3-12 Januari 1966. Namun, justru di Kuba OISRAA mengalami titik balik. , yang tidak lepas dari dampak perubahan politik. di Indonesia.

Meskipun OISRAA mendapat kepercayaan dari Presiden Kuba Fidel Castro dan dianggap sebagai wakil sah Indonesia oleh negara-negara peserta konferensi, Indonesia mengirimkan delegasi lain yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Latief Hendraningrat.

Keterusterangan perwakilan OISRAA tentang dualisme kepemimpinan di Indonesia membuat marah Jenderal Suharto. Anggota OISRAA harus kehilangan paspor dan tidak dapat kembali ke Indonesia. Yesus harus hidup di pengasingan. Di dalam negeri, aktivis ditangkap, dibunuh, atau dihilangkan seperti Njoto, salah satu pemimpin OISRAA.

Melemahnya Soekarno turut andil dalam meredupnya OISRAA.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama