Konferensi Asia Afrika Dimata Pelajar Indonesia

Mahasiswa menyambut KAA dengan berbagai cara. Mengibarkan bendera, meminta tanda tangan, dan menulis harapan untuk KAA.

Mahasiswa mengibarkan bendera peserta Konferensi Asia Afrika. (30 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1955).

Tanggal 24 April diperingati sebagai Hari Solidaritas Asia-Afrika. Penetapan tersebut bertepatan dengan peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika tahun 2020. Konferensi Asia-Afrika pertama berlangsung pada tanggal 18-24 April 1955 di Bandung. Tujuannya adalah untuk membangun kerjasama dan solidaritas jangka panjang untuk menciptakan dunia yang adil, bebas dan damai.

Selama KAA, mahasiswa Indonesia terlibat. Mereka berkumpul di lapangan Tegalega, Bandung pada pagi hari tanggal 18 April. Mereka berbaris rapi menunggu tamu penting dari 29 negara peserta KAA. Saat matahari sedikit tinggi, para tamu muncul di lapangan. Ini termasuk Gamal Abdul Nasser dan Jawaharlal Nehru.

Melihat para tamu datang, para siswa mulai berolahraga. Mereka sangat antusias. Belum lagi cuaca panas untuk menjamu tamu. Kejadian ini terekam dalam album 30 Tahun Indonesia Merdeka 1955–1965. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa juga menyambut baik KAA.

Di Gedung Merdeka, para mahasiswa juga menyumbangkan tenaganya. Mereka berasal dari Pandu Bandung. Anak laki-laki dan anak perempuan. Anak buah Pandu “mengibarkan dan menurunkan 29 bendera pada saat yang tepat”, tulis Wanita, awal Mei 1955. Sementara itu, Pandu wanita bertugas membantu polisi mengatur kelancaran lalu lintas di sekitar gedung konferensi hingga rapat selesai pada sore hari. .

Di malam hari, pekerjaan siswa perempuan berubah lagi. Mereka menunjukkan keluwesan menari di Kegubernuran Bandung. Mereka tampil dengan kostum kupu-kupu yang cantik. Menurut kostumnya, tarian mereka disebut tarian kupu-kupu. Mereka berhasil memukau para tamu.

Perhatian para tamu kemudian tertuju pada mahasiswi India dengan kostum khas negara mereka. Ia mempersembahkan tarian Hindu untuk para tamu. Usai pertunjukan, para delegasi wanita dari sejumlah negara bergegas menghampiri dan memintanya untuk berfoto.

Mahasiswa lain menempuh cara berbeda untuk menyambut KAA. Mereka berusaha mengumpulkan tanda tangan tamu asing. Karena mereka bukan bagian dari panitia KAA, mereka harus bekerja keras untuk melakukannya.

“Di depan gedung yang akan digunakan untuk konferensi, orang yang tidak berwenang tidak diizinkan masuk. Dikawal ketat oleh pasukan MB (Brigade Mobil, red.) dan PM (Polisi Militer, red.)," tulis seorang mahasiswa dalam "Naik turunnya Kolektor Tanda Tangan di Sekitar Konferensi AA" yang diterbitkan pada Minggu Pagi, pertengahan Mei 1955.

Bersama teman-temannya, mahasiswi tersebut memilih menginap di depan hotel Savoy Homann. "Dan setiap kali ada yang keluar hotel, kalau orang asing, saya minta tanda tangannya," tulis mahasiswa tersebut. Begitu dia melihat tamu itu, dia menyerahkan buku catatannya. Bertengkar dengan siswa lain. Kadang berhasil, kadang gagal. “Ada yang mau, ada yang tidak,” lanjut mahasiswa itu.

Terlepas dari kisahnya yang sulit, siswa laki-laki itu pernah mengalami dua insiden lucu yang melibatkan kegenitan anggota delegasi. Pertama, saat melihat sejumlah mahasiswi mengerumuni delegasi asing. Tertarik oleh kerumunan, siswa laki-laki mendekatinya dan meminta tanda tangan. Delegasi menolak dan buru-buru berkata, “Tanda tangan saya hanya untuk wanita”.

Kedua, saat mahasiswa laki-laki sedang mengejar tanda tangan delegasi Arab. Tiba-tiba seorang mahasiswi melompat masuk. Delegasi Arab kemudian bertanya kepada mahasiswi tersebut dalam bahasa Inggris. "Siapa namamu dan arti namamu?" Tidak tahu arti namanya, mahasiswi itu menggelengkan kepalanya. Kemudian delegasi Arab menjawab, “Ini adalah cinta”.

Lalu bagaimana tanggapan mahasiswa dari luar Bandung terhadap KAA? Siti Sundari S, siswi SMP II Sala, Jawa Tengah, percaya bahwa KAA membuatnya bangga menjadi orang Indonesia.

“Alangkah bangganya bangsa saya bisa mengadakan pertemuan dengan teman-teman dari seluruh Asia, di mana mereka akan merundingkan nasib yang sama. Orang-orang Asia sekarang telah menyadari bahwa mereka tidak ingin dijajah lagi, mereka tidak mau diperbudak dan kekayaan mereka diambil," tulis Siti dalam "Aku dan Konferensi AA", sebuah surat kepada Sunday Courier, akhir April 1955.

Di akhir suratnya, Siti berharap suatu saat bisa hidup damai bersama teman-temannya dari negara tetangga. “Dan tentunya saya juga akan membangun negara saya bersama anak-anak tetangga saya. Kita akan menjadi satu manusia yang cinta damai.”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama