Komando Terakhir Komodor Jos Soedarso

Sebelum bergelut di Laut Arafuru, sang komodor sempat bercanda dengan mayor. Pertempuran yang tidak seimbang merenggut nyawanya di laut lepas.

Josaphat Soedarso, 1960.

Sebelum berangkat membawa tentara ke Papua, Komodor Josaphat Soedarso berpamitan kepada keluarganya. Jos sempat meminta Riyono, putra sulungnya untuk menciumnya. Dengan demikian, Jos Soedarso meninggalkan rumah untuk kemudian menjalankan tugas kenegaraannya sebagai wakil perwira operasi Kepala Staf Angkatan Laut. Jabatan ini setara dengan orang nomor dua di jajaran TNI AL.

"Kenangan terakhir Bu Jos Soedarso hanya pesan singkat, 'Jaga anak-anak'," kata Moh Oemar di Laksamana Anumerta TNI-AL Josaphat Soedarso.

Seharusnya Jos tidak berencana ikut operasi pendaratan ke Kaimana, Papua. Misinya saat itu hanya mempersiapkan pasukan pendaratan untuk berangkat dari Pangkalan Udara Leftuan, Kepulauan Kei. Namun, Jos memutuskan untuk ikut dalam operasi pendaratan sambil merencanakan infiltrasi teknis dengan Kolonel Moersjid, asisten operasi Angkatan Darat. Kedua perwira tersebut sepakat untuk menyimpang dari perintah operasi untuk menyusup ke pasukan garis depan sekaligus sebagai bentuk dukungan moral.

Tiga kapal motor torpedo kapal pendarat disiapkan. Komandan masing-masing adalah Mayor Marinir Samuel Moeda (KRI Harimau), Kapten Marinir Wiratno (KRI Matjan Tutul), dan Letnan Marinir Sugardjito (KRI Matjan Kumbang). Selain mereka, Mayor Angkatan Darat Rudjito menjabat sebagai komandan operasi pendaratan.

Pukul 09.00 WIB, 15 Januari 1962, di atas kapal komando KRI Multatuli, dilakukan pembekalan sebelum pemberangkatan. Pengarahan dipimpin oleh Kolonel Marinir Soedomo yang menjabat sebagai petugas operasi. Di akhir briefing, Jos Soedarso memilih kapalnya sendiri untuk ditumpangi dengan cara melempar “lot”.

"Kapal mana yang memiliki komandan termuda?" kata Jos Soedarso.

“Kapten Wiratno, Komodor,” jawab Wiratno, Panglima Matjan Tutul.

"Kamu ikut dengan kapalmu, Kapten," kata Jos Soedarso sambil mengalihkan pandangannya ke Wiratno.

Bahkan, Soedomo sempat menawarkan Jos Soedarso untuk naik KRI Harimau. Namun, Jos sudah membuat pilihannya. Moersjid yang sebelumnya ditempatkan di KRI Matjan Tutul kemudian mengajukan protes. Menurutnya, tidak jarang menempatkan dua pemimpin pasukan selama operasi di wilayah perbatasan dalam satu kapal. Soedomo akhirnya memindahkan Moersjid ke KRI Harimau bersamanya.

Pada jam-jam terakhir sebelum konvoi kapal berangkat, Jos Soedarso mendekati Mayor Samuel Moeda yang sangat dikenalnya. Selain sebagai Panglima KRI Harimau, Sam merupakan panglima paling senior dari ketiga kapal motor torpedo tersebut. Perwira TNI AL berpangkat terakhir Laksamana (Purn) itu mengenang leluconnya dengan Jos Soedarso.

"Sam, aku akan ke darat, jika kamu tidak kembali, itu salah Sam!" Jos Soedarso bercanda.

“Bagaimana saya bisa menjagamu di kapal lain,” jawab Samuel Moeda sambil tertawa.

Percakapan berlangsung beberapa saat sebelum keduanya memasuki pesawat masing-masing untuk mencapai pangkalan kapal. Sesampainya di pangkalan, Jos memasuki KRI Matjan Tutul. Sementara itu, dalam perjalanan menuju KRI Harimau, topi Samuel Hoeda terlepas tanpa angin.

“Kejadian ini membuat Mayor Samuel gelisah dan menafsirkannya sebagai firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya,” tulis tim Pusat Sejarah ABRI yang mewawancarai Samuel Moeda pada 15 November 1990 dalam Trikomando Rakyat: Pembebasan Irian Barat.

Pukul 17.00, kapal torpedo bermotor mulai berangkat dari Pulau Ujir menuju Kaimana. Di tengah laut Arafuru, konvoi kapal ditangkap oleh pesawat Neptunus Belanda yang kemudian menghadang konvoi tersebut. Atas instruksi Jos Soedarso, KRI Matjan Tutul terus maju dan memberikan perlawanan. Sedangkan dua kapal lainnya, sempat berbalik arah untuk mundur.

Menjelang malam, KRI Matjan Tutul menghadapi serangan dari dua pesawat Neptunus dan dua kapal perusak Belanda. KRI Matjan Tutul dikepung dalam pertempuran satu lawan empat. Sekitar pukul 22.30, KRI Matjan Tutul mendapat tembakan keras dari sepasang kapal perusak Belanda, yakni Evertseen dan Kortenaer.

Dalam keadaan terdesak, Jos Soedarso segera meraih Radio Telefoni (RTF) dan meneriakkan perintah terakhirnya: “Daftar semangat juang! RI Matjan Tutul ditenggelamkan dalam pertempuran di laut dengan santun dan gagah berani.”

Sejarah mencatat, KRI Matjan Tutul akhirnya tenggelam bersama Jos Soedarso, Kapten Wiratno dan 22 prajurit lainnya yang dimakamkan di laut lepas. Acara ini masih diperingati sebagai Hari Dharma Laut pada tanggal 15 Januari setiap tahun.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama