Kisah Cinta Dua Dunia Sudhana dan Manohara

Kisah cinta dua dunia antara Sudhana dan Manohara pada relief di dinding Candi Borobudur. Di balik cerita tersebut terdapat ajaran Tantrayana.

Kinnara dan Kinnari menjaga Pohon Kalpataru, Pohon Kehidupan, pada relief Candi Wisnu, Prambanan.

Pada masa hiduplah Sudhana, putra mahkota Pancala Utara, tanah makmur di mana ayahnya memerintah dengan penuh kebajikan. Saat sedang berburu, dia melihat kinnari, manusia setengah burung, bernama Manohara yang berburu saat mandi di danau. Dia jatuh cinta pada Manohara.

Sudhana memberikan hadiah yang mahal kepada pemburu untuk mendapatkan Manohara. dia kemudian menikahinya. Manohara memberikan permata keajaiban di dahinya kepada Sudhana. Pertanda Manohara menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya.

Suatu hari, doa brahmana datang ke Pancala Utara. Brahmana pertama ingin menjadi imam bagi raja yang sedang bertakhta. Sementara brahmana kedua adalah Sudhana akan menjadi imam kerajaan ketika dia duduk di singgasana.

Mengetahui hal itu, brahmana pertama berusaha melenyapkan Sudhana. Dia membujuk raja untuk menugaskan Sudhana dianggap sebagai pemberontakan.

Sudhana memberikan permata Manohara kepada ibunya. Dia meminta ibunya menjaga istrinya selama dia tidak ada.

Sudhana berhasil mengalahkan para pemberontak dengan bantuan pasukan raksasa hutan. Pada malam yang sama, ayah bermimpi. Dia meminta pemeriksaannya.

Pendeta itu mengetahui bahwa mimpi raja merupakan pertanda kemenangan Sudhana. Namun, dia mengatakan kepada raja bahwa mimpi itu pertanda bencana akan datang. bencana bisanari hanya dengan mengorbankan seorang kinari.

“Raja menolak, tetapi akhirnya menyetujui permintaan tersebut,” tulis John N. Miksic, arkeolog National University of Singapore, dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas.

Mengetahui menantunya dalam bahaya, ratu menyuruhnya pergi. Dia kembalikan permata Manohara agar kinnari itu bisa terbang kembali ke kampung halamannya.

Manohara tak ingin pergi begitu saja meninggalkan Sudhana. Dia pun mampir ke rumah rsi di tepi danau. Dia menitipkan cincin bagi Sudhana dan memberi tahu bagaimana cara menemukanya di negeri Kinnara dan Kinnari.

Sudhana pulang membawa kemenangan, namun Manohara telah kembali ke istana ayahnya, Raja Kinnara. Dia lalu mengunjungi kediaman rsi. Dia diberi cincin dan cara mencapai Kerajaan Kinnara.

Sudhana meminta izin pada Raja Kinnara agar bisa kembali tinggal bersama Manohara. Setelah memperhatikan pertanyaan, hubungan mereka direstui. Pasangan itu pun kembali bersatu.

Kisah cinta dua dunia antara Sudhana dan Manohara tersua dalam relief Avadana di dinding Candi Borobudur. Dua dunia karena Sudhana adalah manusia sementara Manohara adalah kinnari yang menghuni khayangan.

“Meski di dalam relief, Manohara digambarkan sepenuhnya berbadan manusia,” tulis Miksic.

Kisah Paling Terkenal

Dalam mitologinya, kinnari diperlakukan sebagai makhluk setengah dewa. Ia kerap muncul pada candi-candi relief, baik yang berlatar Buddha seperti di Borobudur, Sewu, Mendut, maupun Hindu seperti Prambanan.

Penampilannya dalam relief agak mencolok. Berbeda dengan penggambaran Manohara, kinnari lebih sering berwujud perempuan cantik dari kepala sampai pinggang, dan bagian tubuh ke bawahnya berwujud burung. Kinnari biasanya dilukiskan dengan pasangan dengan kinnara, wujudnya yang laki-laki. Mereka pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari.

Mitologi kinnara-kinnari dikenal pula di wilayah Asia Tenggara. Khususnya yang mendapat pengaruh Hindu dan Buddha, seperti Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Di Candi Borobudur, kisah Putri Manohara dapat ditemukan di deret cerita Avadana di tingkat tiga, pada relief dinding candi lorong pertama. “Avadana adalah kisah Buddha yang terkenal, termasuk tentang Putri Manohara,” tulis sejarawan Peter Levenda dalam Tantric Temples: Eros and Magic in Java.

Praktik Tantra

Dalam kesusaatra India, kisah tentang seorang pangeran yang kehilangan putri dan kemudian menemukan kembali adalah gagasan yang akrab. Contoh yang paling terkenal adalah Ramayana. Ceritanya tentang Rama yang istrinya, Sita diculik oleh Rahwana, tapi kemudian merebutnya kembali dengan mengalahkan sang raksasa.

“Pernikahan Sudhana dengan seorang kinnari mungkin menunjukkan pesan Tantra yang lebih dalam,” tulis Levenda.

Levenda menjelaskan dalam kisah Avadana, Sudhana melakukan pencarian untuk menemukan dan membawa kembali istrinya. Dia, dalam kisah Manohara dan Sudhana rumah Manohara disebutkan berada di Kailasa, gunung suci Buddha Tibet dan Hindu Tantra yang terkenal.

“Bagi umat Hindu, Gunung Kailasa adalah tempat tinggal Siwa dan Parvati,” tulis Levenda.

Di gunung itulah Sudhana melakukan dan menemukan pencariannya, yakni Manohara. Lalu dia bawa pulang setelah bertanya-tanya tentang ujian.

“Seorang lelaki dan istri yang dipisahkan kemudian bersatu kembali. Istri adalah makhluk spiritual, yang tinggal di keajaiban dan dengan demikian dapat sebagai sumber kekuatan spiritual, shakti,” jelas Levenda.

Menurut Levenda, pertemuan kembali Sudhana dan Manohara mewakili ide penyatuan bumi dan langit, duniawi dan ilahi. Kisah Avadana tentang Sudhana dan Manohara dapat sebagai pendekatan dualis terhadap penyatuan rohani.

Kisah Sudhana setelah di Avada masih berlanjut di kisah Gandabvyuha. Dalam kisah Gandavyuha, Sudhana sekali lagi menjalankan misi suci. Bedanya, kali ini untuk pencerahan pribadinya.

Selama perjalanan pencarian ini, Sudhana mengunjungi 52 orang bijak dan suci. Ia mengumpulkan pelajaran penting dari masing-masing guru spiritualnya, hingga akhirnya dia menyadari bahwa rahasia ada di dalam dirinya selama ini.

“Sudhana, oleh itu, menjadi wakil untuk kemanusiaan secara umum, sarana untuk menunjukkan pencarian spiritual Buddha yang keras dan dengan praktik Tantra yang berkaitan dengan keseimbangan aspek kesadaran laki-laki dan perempuan,” jelas Levenda.

Beberapa waktu yang akhirnya, kata arkeolog Bambang Sulistya dalam “Pengaruh Tantrayana di Kawasan Nusantara” yang terbit dalam Berkala Arkeologi Vol. 6 No. 2 (1985), keberadaan Tantrayana di Borobudur masih menjadi bahan pemicu.

Di antara ahli yang membahasnya adalah Noerhadi Magetsari, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasi berjudul “Candi Borobudur Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya” pada 1997. Dia menempatkan Tantrayana dalam ajaran agama yang terdapat di Candi Borobudur.

Berdasarkan kajian terhadap kitab Sang Hyang Kamahayanikan (SHK), Noerhadi menjelaskan bahwa Candi Borobudur menunjukkan tahap perkembangan pengalaman seorang Yogin yang sesuai dengan uraian ajaran yang terangkum dalam SHK. Ajaran Paramita atau kebajikan diwujudkan melalui relief-relief Lalitavistara, Avadana, dan Jataka. Aliran Yogacara diwujudkan oleh relief Gandavyuha dan Badrawati.

Sementara unsur Tantrayana diwujudkan dalam arca-arca Panca Tathagata. Melalui penempatan arca-arca yang memagari semua relief, Noerhadi pun menyimpulkan, Candi Borobudur sama dengan SHK, lebih menitikberatkan pada ajaran Tantrayana.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama