Ketika Maukar mengincar Bung Besar

Pilot Angkatan Udara ini bertekad untuk menyerang istana menggunakan pesawat tempurnya untuk membunuh Presiden Sukarno.

Danny A. Maukar (kiri) diadili dengan Sam Karundeng (kanan) di Pengadilan Militer, 1960.

Letkol (Pnb) Heru Atmodjo sudah lama berhenti dari Angkatan Udara. Diberhentikan tepatnya. Tapi dia masih ingat Daniel Maukar, pilot muda cemerlang yang selalu digadang-gadangnya. “Dia murid saya, dia orangnya cerdas dan pemberani,” kata Heru.

Karena berani dan termasuk dalam jajaran pilot yang unggul, Dani, panggilan akrabnya, dapat posisi sebagai pilot tempur. Kesempatan yang jarang diberikan kepada pilot kecuali mereka terpilih dan lolos seleksi ketat. “Maukar salah satu yang kami anggap bagus. dia jadi pilot tempur,” kenang Heru.

Heru meninggal 29 Januari 2011. Sempat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebelum tiga bulan kemudian kuburan digali dan jasadnya dipindahkan ke Bangil, Sidoardjo, Jawa Timur. Kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dia tak pantas dikuburkan di sana karena terlibat dalam peristiwa G30S 1965.

Ajal keburu menjelangnya sebelum menceritakan lebih lanjut sosok Daniel Maukar, pilot tempur yang disebutnya cerdas dan berani itu. Tapi Dani sendiri menampik disebut cerdas. Pada 2007, Beny Adrian wartawan majalah Angkasapernah mewawancarai Dani. “Saya merasa waktu itu tidak bisa dan terbang saya tidak menonjol, tapi tahu-tahu kok ditaruh menjadi petarung,” kata Dani kepada Beny.

Dani boleh menampik kalau dia pilot cerdas. Kenyataanya, dia percaya sebagai pilot tempur yang menerbangkan jet MiG 17, pesawat tempur canggih buatan Soviet untuk ukuran zaman itu. Pesawat itu pula yang menembaki menembaki Istana Presiden di Bogor dan Jakarta dan melambungkan namanya sebagai pilot pemberontak.

Aksi Dani tak berdiri sendiri. Kisahnya berawal dari mengecewakan beberapa tokoh milter dan sipil di Sumatera dan Sulawesi terhadap pemerintah pusat. Saat itu mereka merasa tidak diperlakukan adil akibat perimbangan keuangan yang jomplang. Orientasi politik Sukarno yang mulai condong ke kiri semakin mematangkan situasi konflik.

Kekecewaan pada gerakan perlawanan. Di Sulawesi, Kolon Ventje Sumual mendirikan Dewan Manguni, bersamaan dengan pendirian Dewan Gajah, Banteng dan Garuda yang dipimpin oleh Kol. Maludin Simbolon, Kol. Ahmad Husein dan Kol. Dahlan Djambek di wilayah Sumatera.

Pada Februari 1957, Ventje yang termasuk panglima teritorium VII itu mengumpulkan sejumlah stafnya untuk membahas situasi nasional. Pertemuan lanjutan diadakan pada 2 Maret 1957 di kantor Gubernur Makassar, di mana Ventje menggagas piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang ditandatangani oleh 51 tokoh militer dan sipil di Sulawesi.

Setahun kemudian, Februari 1958 Permesta menggabungkan diri dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Pemberontakan yang disebut Indonesianis Barbara Sillars Harvey “setengah hati” itu justru tak setengah-setengah ketika menyatakan diri talak dari pemerintah pusat di Jakarta. Maka genderang perlawanan terhadap pemerintahan Sukarno pun mulai ditabuh.

Pada hari-hari yang penuh dukungan untuk itu Dani datang dari Mesir, setelah mengikuti pelatihan menerbangkan jet MiG 17 di negara-negara benua Afrika itu. Dia jadi sasaran penggalangan. Posisinya potensial untuk direkrut ke dalam operasi Permesta: anak Minahasa, pilot tempur dan punya akses langsung terhadap aset-aset milik Angkatan Udara seperti pesawat MiG 17 yang dikendalikannya sendiri.

Dani bukan pilot pertama yang bekerja untuk Permesta. Pada 18 Mei 1958 disokong CIA, Angkatan Udara Revolusioner (Aurev) Permesta menyewa Allan Pope, pilot berkebangsaan Amerika Serikat yang menerbangkan pesawat bomber B26 Invader untuk melawan pemerintah Indonesia. Tapi Paus ketiban sial. Pesawatnya ditembak jatuh di atas Teluk Ambon. Paus ditangkap, diadili, dan hukuman mati. Namun Presiden Sukarno memberikan grasi kepadanya.

Herman Maukar, kakak Dani yang tinggal di Bandung adalah orang yang paling getol memengaruhi Dani agar bekerja klandestinuntuk Dewan Manguni. “Abangnya yang banyak pengaruhi dia. Terutama dalam soal politik,” kata Beny Adrian. Mulanya Dani tak bergeming, tapi lama-lama ambrol juga.

Dalam “bergerilya” Herman tak sendiri. Di atas dia ada Sam Karundeng, pemimpin Manguni yang bekerja di bawah tanah untuk wilayah Bandung – Jakarta. Mereka bahu membahu menggalang kekuatan anti Sukarno atas nama Permesta.

Kepada Dani, Herman selalu mengutarakan niatnya untuk melakukan sabotase obyek vital milik pemerintah republik.Namun berkal-kali Dani meragukan kesuksesan rencana aksi tersebut. Dani akhirnya menyodorkan dirinya untuk menjadi eksekutor serangan terhadap pemerintah republik. “Saya bilang, kalau kamu tunggu tanda sampai kapan, ya sudah kalau begitu aku saja yang kasih tanda. Bilang saja saya tembak, suruh tembak apa sekarang,” kata Dani seperti dikutip dari Angkasa, 10 Juli 2007.

Dani mengaku kemudian mendapat perintah eksekusi dari Walikota Sutisna. Dalam pertemuan di Bandung, Sutisna menentukan target tembak Dani adalah pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusumah. Kontan Dani menampik.

Bagi Dani Halim adalah rumahnya. Akhirnya Sutisna Tentukan target lain: Istana Merdeka, tanki bahan bakar di Tanjung Priok dan Istana Bogor. Usai aksi, Dani harus terbang terbang ke Singapura.

Tak jelas apakah penembakan dilakukan terhadap tiga obyek vital pemerintah itu dihasilkan secara spontan dalam pertemuan atau perintah dari struktur tertinggi dalam organisasi Permesta. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo, April 2009, Ventje Sumual mengungkapkan bahwa tanki bahan bakar Tanjung Priok adalah strategi untuk melumpuhkan pusat kekuasaan.

“Jakarta adalah titik kunci... pada dasarnya mudah saja untuk menguasai Jakarta. Yang dibutuhkan adalah lapangan terbang Kemayoran. Dari situ, tinggal mengebom kilang minyak di Tanjung Priok. Kalau kilang minyak sudah dibom, Jakarta dan Bandung akan lumpuh,” kata Ventje kepada Setiyardi dari Tempo.

Dani memenuhi kebutuhan itu, Rabu pagi, 9 Maret 1960, Dani mendaratkan jet MiG 15 di landasan lapangan terbang Kemayoran setelah menempuh perjalanan dari Bandung. Menjelang siang dia dapat giliran menerbangkan jet MiG 17 dalam rangka latihan. Pada pukul 11:45, pilot dengan tanda panggil “Tiger” itu memasuki ruang kemudi jet MiG 17 bernomor 1112 dan tak lama kemudian memacu pesawatnya di landasan pacu Kemayoran.

Tugas latihan terbang ke selatan Jakarta diabaikannya. Dani sudah punya tujuan lain. Dia arahkan pesawatnya ke tanki bahan bakar di Tanjung Priok. Dari ketinggian 2.800 kaki (853 meter) Dani menukikkan MiG 17 lalu memberondong tanki bahan bakar hingga meledak. Selesai dengan misi pertama, Dani melesatkan pesawatnya menuju Istana Merdeka. Dia datang dari arah selatan, menembak bagian depan istana menyebabkan kaca dan tembok hancur berantakan. Misi kedua selesai.

Nasib Soekarno mujur. Dia sedang tak berada di Istana siang itu. Presiden sedang menghadiri sidang di Dewan Nasional yang hanya 20 meter dari Istana Merdeka. Padahal, “salah satu peluru yang ditembakkan dari udara tersebut, tepat mengenai tempat di mana Bung Karno sering duduk di kursi pada pagi hari,” kata ajudan Presiden Sukarno Mangil Martowidjojo dalam memoarnya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

Anggota Dewan Nasional yang sedang sidangpundibuat heboh oleh suara bising pesawat jet yang terbang rendah. Begitu menerima laporan dari pengadilan bahwa Istana ditembaki pesawat tempur tak dikenal, Presiden Sukarno segera menghadiri peserta sidang. “Rustig…rustig…,” kata Sukarno dalam bahasa Belanda, seperti dikutip dari Merdeka, 10 Maret 1960.

Sementara itu, setelah menyelesaikan misinya menembaki Istana Bogor, Dani menembak dirinya ke arah Garut, bukan ke Singapura sebagaimana diminta oleh Sutisna. Apa daya, bahan bakar pesawat untuk latihan tak diisi penuh. Tapi selalu ada skenario terburuk. Dani mendaratkan MiG 17 di persawahan di Leles, Garut yang dikenal sebagai pusat perjuangan DI/TII. Rencananya Dani akan mencari perlindungan ke DI/TII yang sama-sama memusuhi Sukarno.Tapi rencana gagal. Pada hari yang sama Dani ditangkap tentara Divisi Siliwangi. Kemudian dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan.

Kehebohan segera merebak ke seantero Angkatan Udara. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, KSAU Laksamana Suryadarma mengajukan pengunduran diri kepada presiden. Pada Sabtu, 11 Maret 1960, di hadapan 120 penerbang AURI di Istana Merdeka, Presiden Sukarno menolak pengunduran diri Suryadarma dan memintanya untuk tetap memegang kendali AURI.

Di bawah pimpinan Letkol (Pnb) Omar Dhani, 120 penerbang itu membacakan pernyataan sikap terhadap aksi Daniel Maukar. Mereka menyesalkan peristiwa tersebut dan menyatakan tetap patuh pada Presiden Sukarno. “Kami menyesal sebesar-besarnya atas terjadinya pengkhianatan terhadap tanah air yang telah membawa korban rakyat,” kata Omar Dhani seperti dikutip dari Merdeka, 12 Maret 1960.

Menteri Penerangan Maladi dalam keterangan persnya pada 14 Maret 1960 mengatakan telah menemukan sejumlah senjata dan dokumen rencana pembunuhan terhadap kepala negara. Senjata dan dokumen tersebut ditemukan seminggu sebelum peristiwa dalam sebuah razia di Kebayoran Lama.

Dani kemudian diadili mulai 20 Juli 1960. Dia tidak bersalah terlibat dalam aksi makar dan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Dani sendiri menolak jika tidak bersalah membunuh Presiden Sukarno. Namun demikian majelis hakim menjatuhkan hukuman mati bagi Dani.

Banyak gosip yang berkembang di seputar peristiwa ini. Santer terdengar kalauDani dan Sukarno terlibat cinta segitiga. Kabarnya Sukarno kepincut pada Molly Mambo, pacar Dani. Tapi belakangan gosip itu disanggah oleh Maukar dan beberapa orang lain. Bahkan katanya isu itu sengaja disebarluaskan oleh agen-agen spion Amerika Serikat untuk menjatuhkan citra Sukarno.

Setelah dijatuhi hukuman mati, Dani menjalani masa tahanan, menanti masa-masa eksekusi. Tapi Laksamana Suryadarma berbaik hati. Dia getol melobi Presiden Sukarno agar ujian hukuman mati bagi Dani. Presiden bergeming. Pada 22 Juni 1961 Presiden Sukarno memberikan amnesti kepada semua pengikut Permesta yang telah menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menganulir vonis mati bagi Daniel Maukar. Baru pada 1968, setelah Sukarno tak lagi jadi presiden, Dani bisa menikmati udara bebas di zaman Orde Baru.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama