Ketika Bung Hatta Belajar Nippon Sheishin

Pada bulan Ramadhan 1943 Hatta mengadakan pertemuan dengan perwakilan militer Jepang. Ia diminta memperdalam ilmunya tentang Jepang untuk disebarkan ke seluruh masyarakat Indonesia.

Bung Hatta bersama istrinya, Rachmi Hatta, di Belanda pada tahun 1963.

Suatu pagi di bulan September 1943. Mohammad Hatta menyambut kedatangan seorang Jepang di rumahnya. Dia adalah seorang juru bicara Kempetai (polisi rahasia militer Jepang) bernama Myoshi. Hari itu rencananya kopi Hatta akan diantarkan dengan undangan minum dari wakil ketua Kempetai bernama Murase di kediamannya.

Pada waktu itu Hatta sebenarnya sedang menjalankan ibadah puasa. Tetapi karena undangan minum kopi tersebut cukup penting, Hatta memilih tetap datang. Apa yang ada di antara pemimpin-pemimpin Indonesia hanya tinggal Hatta yang belum bertemu dan berkenalan langsung dengan Murase.

Sekira pukul 10, Hatta tiba di kediaman Murase. Setelah dipersilahkan masuk, Hatta dibawa ke sebuah ruangan di belakang rumah, tempat sang tuan rumah berada. Di sana sudah tersedia kopi dan berbagai makanan pendampingnya. Murase ada di balik meja penuh makanan tersebut. Begitu Hatta masuk, dia lantas berdiri dan memberi salam.

“Saya menyesal sekali bahwa waktu itu bulan puasa dan saya tidak dapat diajak minum kopi bersama-sama. Tetapi dia sendiri harus menghormati tamunya dalam bulan Ramadhan. Karena dia juga tidak minum apa dan tidak memakan kue-kue yang sudah disediakan,” kata Hatta dalam otobiografinya Memoir.

Setelah bertukar salam dan saling menanyakan kabar, Murase masuk ke pembicaraan utama. Dia memulainya dengan menceritakan tentang perkembangan kapitalisme dan imperialisme dunia, termasuk negaranya Jepang. Murase kemudian meminta Hatta mengemukakan pendapatnya tentang masalah tersebut.

Dikatakan oleh Hatta bahwa dirinya cukup menyayangkan sikap Jepang yang ikut terpengaruh imperialisme Barat. Sebagai contoh Hatta menyebut tindakan Jepang terhadap Tiongkok yang sangat menyengsarakan. Bagi Hatta, invasi Jepang telah memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat di Negeri Tirai Bambu.

Murase segera menyela pembicaraan Hatta. Dia mengatakan bahwa pendirian negaranya sudah tidak seperti itu. Jepang hendak melakukan perubahan di seluruh Asia. Bahkan alasan di balik Jepang memulai Perang Asia Timur Raya adalah untuk melihat bangsa-bangsa Asia dari pengaruh imperialisme dan kapitalisme Barat.

Wakil Ketua Kempetai itu lalu bertanya apakah Hatta pernah menulis karangan anti Jepang. Dijawab oleh Hatta kalau dirinya pernah sekali menulis soal Jepang saat Perang Asia Timur Raya pecah. Karangan itu berisi tentangan atas imperialisme yang dilakukan Negeri Samurai di Asia.

“Apakah tuan dipaksa atau dihasut oleh pemerintah kolonial Belanda?” tanya Murase.

“Tidak. aku menulis karangan itu di atas keyakinan sendiri. Belanda tidak dapat menghasut aku, sebab Belanda sendiri adalah negara imperialisme kolonial dan aku tentang juga. Aku menganggap waktu itu Jepang mengikuti saja tindakan imperialisme Barat, jadinya serupa saja,” ucap Hatta.

“Itu karena tuan belum mempelajari Nippon Sheishin,” jawab Murase tegas.

“Apabila tuan kenal Nippon Sheishin, tuan akan mengerti tindakan Jepang, yang pada dasarnya adalah imperialisme Barat dan akan memerdekakan bangsa-bangsa Asia dari imperialisme Barat,” lanjutnya.

Dari percakapan tersebut Hatta menyadari tujuan utama Murase membuat minum kopi untuknya, yakni meminta dia mempelajari Nippon Sheishin. Pemerintah Jepang sendiri tahu kalau Hatta adalah intelektual penting dan tokoh pergerakan utama negerinya. Bagi pemerintah militer Jepang, dia salah satu pilihan paling tepat untuk menyampaikan maksud Jepang selama berada di Indonesia.

Beberapa hari setelah pertemuan di rumah Murase, muncul berita di surat kabar kalau pemerintah pusat Jepang di Tokyo memerintahkan pemerintahan Jepang di Indonesia datang ke negerinya. Mereka harus berasal dari Cuo Sangi In dan pemimpin Islam di Jawa. Pemerintahan militer Jepang di Jawa menyanggupinya. Mereka lalu membuat permintaan kepada pusat agar diizinkan menambah satu perwakilan lagi untuk datang ke Jepang. Orang ketiga ini berasal dari kalangan intelektual yang akan mempelajari Nippon Sheishin. Pusat pun menyanggupi.

Hatta sudah menduga bahwa orang ketiga yang dimaksud adalah dirinya. Awalnya dia hendak menolak perintah tersebut. Tetapi setelah dipikir ulang, Hatta pun menerimanya.

“Dari jatuh ke tangan Pemerintah Militer di sini, yang hasilnya pasti akan aku bunuh, lebih baik dibuang ke Tokyo. Dibuang dengan tugas mempelajari Nippon Sheishin rasanya tidak berat. Tidak ada bahaya yang mengancam,” ujar Hatta. “Sekurangnya aku dapat bersahabat dengan orang-orang besar di sana, dimulai dengan petunjuk petunjuk mereka tentang Nippon Sheishin.”

Tidak lama setelah itu, pemerintahan Jepang mengumumkan ketiga orang yang berangkat: Sukarno (Cuo Sangi In), Ki Bagus Hadikoesoemo (pemimpin Islam Jawa), dan Hatta (intelektual). Sebelum berangkat ketiganya secara bergiliran diberikan Arahan oleh Gunseikan.

Kepada Hatta disampaikan kalau pernikahan ke Tokyo berbeda dengan dua orang lainnya yang diminta oleh pemerintah pusat. Dia berangkat dengan misi khusus dari pemerintahan Jepang di Jawa. Hatta juga diminta untuk tidak membicarakan masalah lain selain Nippon Sheishin. Dia diberi waktu tiga bulan untuk menyelesaikan misinya, atau jika kurang tambahan waktu hingga 10 bulan.

“Yang penting adalah apabila aku sudah kembali ke Jawa aku menulis suatu buku tentang Nippon Sheishin yang dapat dibaca oleh bangsa Indonesia,” kata Hatta.

Ketiga perutusan dari Indonesia tersebut berangkat pada asalnya November 1943.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama