Kegagalan Slamet Riyadi di Bulan Ramadhan

Slamet Riyadi menyerang asrama militer Belanda saat bulan puasa. Gagal dan memakan banyak korban karena pasukan Soenitioso dan Suharto tidak muncul.

Letnan Kolonel Slamet Riyadi memberikan pidato pada acara serah terima kekuasaan militer wilayah Solo dari Belanda pada tanggal 12 November 1949.

Pada Maret 1946, Walikota Slamet Riyadi, komandan Batalyon II Resimen 26 Divisi X, mendapat tugas di depan selatan Semarang, yaitu di Srondol. Kekuatannya hampir satu batalion (Kompi I, III, dan IV), sedangkan Kompi II menyimpan di Padalarang, Jawa Barat. Tiga batalion dikerahkan untuk menahan gerakan pasukan Belanda dengan garis pertahanan yang membentang dari Srondol ke arah timur sampai di Mranggen.

Laporan intelijen menyebutkan dalam mempertahankan Semarang sebagian besar pasukan Belanda tinggal di asrama Jatingaleh. Asrama militer bekas pasukan Jepang ini dijadikan pusat pertahanan Belanda di Jawa Tengah, sehingga oleh pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri, lengkap dengan kendaraan lapis baja.

“Posisi strategi Jatingaleh agaknya menggoda Mayor Slamet Riyadi untuk mencoba menghancurkan asrama militer tersebut,” tulis Julius Pour dalam biografi Slamet Riyadi, Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS.

Slamet Riyadi mengajak rekan sesama anggota Resimen 26, yaitu Batalyon Soenitioso dan Batalyon Soeharto Goegoet. Mereka membagi tugas penyerangan. Pasukan Soenitioso dan Soeharto menyerang dari arah selatan sebagai serangan pancingan. Sedangkan pasukan Slamet Riyadi dengan kekuatan Kompi Suradji dan Kompi Sadono menyerang dari arah timur masuk ke asrama Jatingaleh.

Serangan tidak perlu besar, tapi cukup untuk menyibukkan musuh agar sulit konsentrasi menghadapi serangan Slamet Riyadi.

“Peristiwa penyerangan ke tangsi Jatingaleh terjadi pada 8 Agustus 1946 atau bertepatan dengan tanggal 9 bulan puasa. Ini merupakan gagasan Walikota Slamet Riyadi untuk ulang tahun pertama Republik Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1946 sebagai ulang tahun pertama Republik Indonesia harus diperingati secara, bukan dengan penaikan bendera dan militer, tetapi dengan menggempur Belanda,” tulis Keluarga Besar SA/CSA dalam Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal (anumerta).

Tiba saatnya melakukan serangan pada dini hari tanggal 8 Agustus 1946. Slamet Riyadi dan pasukannya bergerak dari arah timur mendekati pagar asrama. Dengan tiga buah tang, mereka membuat dua lubang pada pagar kawat yang hanya dapat dilewati satu orang.

Slamet Riyadi menunggu serangan pancingan, namun pasukan Soenitioso dan Soeharto belum juga muncul. Setelah ditunggu beberapa waktu tetap tidak ada tanda-tanda serangan pancingan datang dari arah selatan.

"Afleidings acties (serangan pancingan) yang telah disepakati bersama ternyata gagal muncul justru pada saat kritis," tulis Keluarga Besar SA/CSA.

Slamet Riyadi pun memutuskan tetap menyerang asrama meskipun tanpa serangan pancingan. “Ketika sebagian anak buah Slamet Riyadi sudah berhasil masuk ke halaman asrama, tiba-tiba menyala lampu sorot. Sinarnya terang benderang, membikin suasana di sekitar pagar yang sudah bobol bagaikan tengah hari,” tulis Julius Pour.

Sorotan lampu itu diikuti rentetan tembakan senjata otomatis dan mortir ke arah pasukan Slamet Riyadi, baik yang telah masuk ke halaman asrama maupun yang masih bergerombol untuk melewati lubang-lubang pagar kawat.

Pasukan yang berhasil masuk lewat pagar kawat dan berada di halaman asrama sebanyak 52 orang. Yang masih berada di luar pagar jumlahnya kurang lebih sama.

Pasukan yang sudah berada di halaman asrama segera memulai penyerangannya, tidak lagi kepada para penghuni gedung, tetapi ke arah lampu-lampu sorot.

“Dua buah lampu besar yang bersifat stasioner dapat dilumpuhkan dan satu unit senapan mesin dapat dibungkam. Kesempatan ini digunakan untuk meloloskan diri serta mengungsikan korban-korban ke tempat-tempat yang lebih aman,” tulis Keluarga Besar SA/CSA.

Slamet Riyadi menyadari berada dalam keadaan darurat. Rencana serangannya telah gagal. Bila terlambat menarik pasukan akan terjebak di dalam asrama. Dia pun segera memerintahkan pasukannya mundur.

Slamet Riyadi kehilangan 57 orang atau sekitar pasukannya: 27 orang gugur di asrama, 10 orang gugur di luar asrama termasuk Komandan Kompi Kapten Sadono, 9 orang ditawan, dan 1 orang luka-luka.

Setelah bertumpu pada Desember 1949, tentara Belanda menyerahkan 8 orang tawanan: 3 orang dalam keadaan sehat dan tidak valid (cacat), 2 orang kehilangan kedua kakinya, 1 orang kehilangan satu kaki, 2 orang kehilangan kedua lengannya, dan 1 orang kehilangan diketahui atau hilang dalam pertempuran (hilang dalam pertempuran).

Menurut Julius Pour, kegagalan dalam aksi penyusupan ke asrama Jatingaleh sangat memukul Slamet Riyadi. Meskipun demikian, dia tidak pernah mempersoalkan mengapa dua batalion rekannya, yang memulai serangan pancingan tidak muncul.

“Peristiwa Jatingaleh merupakan tragedi besar bagi Slamet Riyadi dan Batalyon II. Namun, dari pengalaman itu pahlawan kita menjadi lebih bijak di samping lebih pandai bersenang-senang. Sayang, kenekatannya pantang reda. temukan dia memang untuk mati dalam pertempuran, atau menurut orang Jepang ‘pecah sebagai ratna’,” tulis Keluarga Besar SA/CSA.

Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur pada 3 November 1950 ketika memimpin operasi menumpas Republik Maluku Selatan oleh tembakan sniper di depan Fort Victoria, Ambon, Maluku.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama