Jenderal Soedirman Tidak Selalu di Atas Tandu

Jenderal Sudirman identik dengan tandu. Selama bergerilya, ia juga berjalan, digendong, bahkan dinaiki mobil dan dokar.

Jenderal Soedirman di atas tandu saat bergerilya.

Jenderal Soedirman tidak selalu diusung saat bergerilya. Dari Kompleks Mangkubumen Yogyakarta, ia dan pengawalnya naik mobil dan mobil pick-up. Belanda mengetahui perjalanannya, sehingga pesawat cocor merah menghujani rombongan.

“Rupanya mereka bisa mengetahui keberadaan rombongan kami karena mobil yang kami tumpangi masih menempel bendera Panglima Besar. Dalam keadaan darurat seperti itu, saya mendorong Pak Dirman ke semak-semak di pinggir jalan agar terhindar dari kematian," kata Harsono Tjokroaminoto dalam otobiografinya Sebagai Pelopor Kemerdekaan.

Lolos dari bahaya, Soedirman melanjutkan perjalanan dengan mobil ke Bantul, lalu Kretek. Untuk menghilangkan jejak, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memerintahkan agar mobil dan mobil pick up yang digunakan rombongan dibawa sejauh mungkin, jika perlu, dirusak di tempat lain. Malam itu juga, Soedirman dan rombongan menyeberangi Sungai Opak. Sesampainya di seberang sungai, mereka dijemput oleh Lurah Mulyono Djiworedjo, dengan manggung tapi tanpa kuda.

"Tanpa pikir panjang Pak Dirman diajak manggung dan saya yang jadi kudanya, sedangkan pengawal yang lain didorong dari belakang," kata Tjokropranolo di Panglima TNI Jenderal Sudirman, Pemimpin Pemberantasan Kolonialisme Terakhir di Indonesia.

Dari Desa Grogol, Soedirman harus digotong warga secara bergantian. "Dia harus digendong dengan tandu karena kesehatannya tidak memungkinkan untuk berjalan lagi," kata Harsono.

"Setiap tempat kami berhenti," lanjut Tjokropranolo, "dibuat tandu baru untuk membawa Panglima."

Jika tidak di atas tandu, Sudirman menyempatkan diri manggung, seperti dari Playen hingga Desa Semanu. Dari Semanu, Soedirman diusung lagi ke Bedoyo dan dilanjutkan lagi dengan manggung lengkap dengan kudanya. “Untungnya saya tidak perlu menjadi kuda lagi,” kata Tjokropranolo. Padahal, jika jalurnya jalan raya, rombongan Sudirman akan menggunakan mobil, seperti dari Pracimantoro ke Wonogiri dan Wonogiri ke Ponorogo. Mobil itu dikirim oleh Staf Divisi Kolonel Gatot Subroto dari Solo. Namun jika medannya berat dan tidak bisa dipikul atau digendong, Soedirman juga jalan kaki, seperti saat menuju markas Gatot Subroto di Gunung Lawu.

“Kami sedih melihat Pak Dirman harus berjalan sendiri melewati hutan tanpa digendong atau ditandu, karena jalannya terjal dan sempit. Tidak ada kursi sebagai tandu. Terkadang kami harus mendorongnya dari belakang jika jalannya sangat tinggi dan kami harus menariknya dari atas jika jalannya terlalu curam,” kenang Tjokropranolo.

Bahkan, saat melewati jalan yang sulit di punggungan, Soedirman terjatuh dari tandu karena terpeleset. Seorang penjaga yang membawa perbekalan untuk membantunya terpeleset dan kopernya jatuh menimpa Sudirman. "Apakah kamu ingin membunuhku," kata Sudirman di Soedirman Prajurit Teladan TNI.

Belanda terus memburu Sudirman. "Makanya nama Soedirman harus dihilangkan. Malah dipakai nama Pak De," tulis Sudirman, prajurit teladan TNI. Selain itu, untuk mengelabui Belanda, dibuatlah "Sudirman palsu" yang dikawal Kapten Soepardjo Rustam, ajudan Sudirman.

“Kebetulan di kelompok kami ada seorang pemuda bernama Heru Keser (seorang letnan muda Marinir-Red) yang wajah dan perawakannya mirip Pak Dirman. Jadi Pak Dirman palsu ini kami beri dia jas dan tutup kepala dan terus mengambil rute yang telah ditentukan. Sedangkan Pak Dirman yang asli, kami lewati jalur lain agar rombongan terhindar dari sergapan pasukan Belanda,” kata Harsono.

Menurut Sudirman, seorang prajurit TNI teladan, taktik "Sudirman palsu" itu antara lain berhasil di Wonosari, di mana Kapten Nolly – begitu Tjokropranolo dipanggil – mengumumkan bahwa Soedirman ada di kota. Belanda juga menyerang secara besar-besaran dengan mengerahkan pasukan terjun payung di kota untuk menangkap Sudirman, yang ternyata palsu. Untungnya, "Sudirman palsu" itu berhasil melarikan diri.

Strategi "Sudirman palsu" ini juga dilakukan saat berada di Kediri. "Semalaman Pak De ditolong Kapten Nolly, sedangkan Heru Keser di atas tandu seperti biasa," tulis Sudirman, prajurit TNI teladan.

Dengan upaya tersebut, Soedirman berhasil dalam perang gerilya. Dusun Sobo di Pacitan menjadi tempat Soedirman memimpin gerilya terlama (1 April-7 Juli 1949). Tiga hari kemudian, 10 Juli 1949, Soedirman tiba di Yogyakarta.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama