Jagoan Intelijen Menjadi Panglima Angkatan Bersenjata

Minimnya pengalaman memimpin pasukan tidak menghalangi Benny Moerdani untuk berkarier penuh sebagai prajurit.

Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani dan Panglima Kodam Jaya Try Sutrisno saat jumpa pers usai peristiwa Tanjung Priok 1984.

Nama Jenderal Andika Perkasa menjadi pemberitaan sepekan belakangan. Perwira tinggi bertubuh atletis ini telah dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Posisi orang nomor satu di jajaran TNI AD terhitung sejak 22 November 2018.

Perbincangan menguar di sekitar pelantikan Andika. Sebagai lulusan Akmil angkatan 1987, Andika terbilang cepat menggapai puncak kariernya. Pengalamannya dalam operasi militer maupun permainan dipertanyakan. Rekam jejak Andika juga disangkut-pautkan dengan ayah mertuanya, Jenderal (purn) Hendropriyono, mantan kepala BIN (Badan Intelijen Negara) yang dekat dengan Presiden Joko Widodo. Sebagian menilai, moncernya karier Andika tak lepas dari hubungan perkoncoan di Istana.

Pengangkatan Andika agak mirip dengan kisah Benny Moerdani di era Orde Baru. Mereka sama-sama diragukan karena dianggap minim jam terbang memimpin pasukan. Khusus untuk Benny Moerdani, tak tanggung-tanggung. Presiden Soeharto menunjuknya sebagai panglima ABRI.

Rekam Jejak Benny

Bernama lengkap Leonardus Benyamin Moerdani. Sosok Benny langsung jadi sorotan saat pelantikannya sebagai panglima ABRI pada Maret 1983. Namanya melejit seketika. Sebelumnya, Benny sebagai Asisten Intelijen Pertahanan dan Keamanan merangkap Asisten Intelijen Kopkamtib sekaligus wakil kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara). Sebagai perwira intel yang selalu berada di balik layar, tak banyak yang menyadari siapa dan bagaimana sosok Benny Moerdani.

Soal penujukan Benny, pengamat militer Salim Said punya jawaban. “Di masa Orde Baru, aturan yang berlaku dibuat dan dipraktikkan sendiri oleh Pak Harto. Mana yang baik saja menurut Beliau,” kata Salim Said.

Keputusan Soeharto menunjuk Benny sebagai Panglima ABRI memang memantik memulai. sebagian orang kendala dalam perjalanan perjalanan kemiliteran Benny yang belum lengkap. Seperti yang umum diketahui, Benny dikurangi sejumlah pengalaman keperwiraan.

Benny belum punya pengalaman memimpin teritorial semisal panglima Kodam. Dia juga tanpa pengalaman sebagai pendidik dan tak pernah mengikuti Seskoad (Sekolah Komando Angkatan Darat). Nyaris seluruh pengalamannya berlangsung di pasukan khusus dan intelijen. Bahkan di bidang telik sandi Benny bisa dikatakatakan lebih ahli hingga dikenal sebagai Si Raja Intel.

Sebagai, komandan tertinggi yang pernah dipegang Benny hanya komandan batalion sewaktu memimpin “Operasi Naga” di Papua. Operasi militer skala besar yang pernah ditangani Benny kemungkinan misi invasi ke Timor-Timur pada 1975. Dengan demikian, muncul sentimen seolah-akan Benny langsung meloncat dari jabatan intel ke posisi Panglima ABRI.

Salah satu yang bersuara kritis adalah mantan Panglima Pangkopkamtib Jenderal (Purn.) Soemitro. Soemitro kurang tertarik dengan keputusan Soeharto yang mengangkat Benny di Pangab Jenderal M. Jusuf. Adalah lebih baik, menurut Soemitro, bila Benny terlebih dahulu memiliki pengalaman memegang teritorial.

“Saya menyarankan agar Benny dijadikan dulu Pangkowilhan (Panglima Komando Wilayah Pertahanan), jangan langsung jadi Pangab (Panglima ABRI),” kata Soemitro sebagaimana dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.

“Tidak ada waktu lagi,” begitulah konon jawaban Soeharto kepada Soemitro.

Panglima Pilihan

melihat jejaknya, mengapa Benny yang ditunjuk sebagai panglima? Benny sendiri tak tahu-menahu sebagai alasan untuk memikirkan ide tersebut. Itu semua kembali kepada Presiden Soeharto yang punya hak prerogatif. Surat Keputusan Presiden No. 47 16 Maret 1983 menetapkan bahwa Benny memenuhi syarat untuk menghadapi Panglima ABRI.

Namun sebagian lain melukiskan, penunjukan Benny mungkin akan menjadi jembatan antara Perwira Angkatan 45 dengan generasi lulusan AMN," tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Tragedi Seorang Loyalis.

Menurut Julius Pour, Benny yang sedari muda ikut memanggul senjata dalam perang kemerdekaan semasa tentara merupakan faktor yang perlu diperhitungkan. Dengan pengalaman itu, Benny menjadi figur representasi Angkatan 45 yang tersisa. Namun, Benny juga dianggap tak terpaut jauh dari perwira alumni AMN Magelang. Mereka yang tak berjuang untuk berjuang dalam era palagan revolusi. Sebagai perantara perantara, Benny menjadi pilihan terbaik yang dapat menjembatani kesinambungan dua generasi tersebut.

Sementara itu, menurut Salim Said menyitir penjelasan Robert Lowry, atase Australia di Jakarta saat itu, pilihan militer terhadap Benny punya pertimbangan pragmatis: memperkecil potensi oposan. Salah satu tugas Benny selaku Panglima ABRI adalah menghapuskan Kowilhan. Lembaga ini telah memberi tempat kepada sejumlah jenderal, laksamana, dan marsekal. Kenyatannya, setelah Benny memiliki panglima, lembaga tersebut memang dilikuidasi.

Apa lacur, selamat menjadi Panglima ABRI, peran Benny cukup besar menyokong kedudukan Soeharto di puncak kekuasaan. Kepentingan negara terjaga. Stabilitas politik jauh dari gaduh. Keamanan masyarakat terjamin. Termasuk membungkam mereka yang bersuara kritis terhadap pemerintah.

“Buat Pak Harto, Benny Moerdani sebagai Pangab waktu paling aman,” ujar sesepuh TNI AD yang juga mantan Wakil KASAD (1973-74) Sayidiman Suryohadiprodjo. “Ya aman bagi Pak Harto terhadap pihak-pihak yang berusaha melawannya.”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama