Gajah Mada dan Islam di Majapahit

Ada rakyat dan pejabat yang beragama Islam, bukan berarti Majapahit adalah kerajaan Islam.

Patung Gajah Mada sebagai lambang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Setelah wajah di celengan kuno Majapahit digunakan sebagai wajah Gajah Mada oleh Mohammad Yamin pada tahun 1945, kini Gajah Mada dituduh Islam. Namanya Gaj Ahmad. Tentu saja menjadi viral di media sosial.

“Yamin merasa tertarik, temuan miniatur tanah liat itu dibuat menjadi wajah Gajah Mada sehingga mudah untuk dibayangkan. Sekarang sama saja," kata Daud Aris Tanudirjo, arkeolog Universitas Gadjah Mada, melalui telepon, Minggu (18/6).

Selain Gaj Ahmada, penulis juga menyebutkan bahwa Majapahit bukanlah sebuah kerajaan melainkan sebuah kesultanan, mengenai ditemukannya sebuah koin Majapahit yang bertuliskan syahadat, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang bertuliskan bahwa ia adalah kader Kerajaan Majapahit , lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya pendiri kerajaan yang beragama Islam, dan kaum Muslim Bagdad mengungsi ke Nusantara setelah diserang oleh bangsa Mongol pada tahun 1293.

Tidak salah jika dikatakan bahwa Islam sudah ada sejak zaman Hayam Wuruk berkuasa di Kerajaan Majapahit. Sebab, jauh sebelumnya, Islam telah masuk ke Nusantara di Barus. “Memang benar saat itu sudah banyak umat Islam di Majapahit. Ada catatan sejarah. Itu benar," kata David.

Di Majapahit, bukti kehadiran Islam dapat ditunjukkan melalui pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. Letaknya tidak jauh dari dugaan lokasi kompleks Kedaton Majapahit.

Dari batu nisan, makam tersebut mengacu pada tahun 1203 dan 1533 saka (1281 dan 1611 M). Kesimpulannya, Islam dianut oleh masyarakat Majapahit pada masa kejayaannya di bawah Hayam Wuruk.

“Mengingat kuburan ini terletak tidak jauh dari kedaton, di kota Majapahit, maka dapat disimpulkan bahwa ini adalah kuburan bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga kerajaan yang telah masuk Islam,” tulis arkeolog dan efigrafer Hasan Djafar di Majapahit Setelah Zaman Keemasan.

Ma Huan, seorang Muslim dan penerjemah Laksamana Cheng Ho, mengunjungi Majapahit setelah kemunduran pada tahun 1413. Dalam laporannya, Ying-yai Sheng-lan (Survei Ikhtisar Daratan Laut), ia menyatakan bahwa di Majapahit ada tiga kelompok orang, salah satunya adalah Muslim. . Mereka adalah para saudagar yang datang dari berbagai kerajaan di barat.

“Klaim Islam waktu itu cukup kuat, tidak terbantahkan. Memang banyak pejabat Majapahit yang sudah beragama Islam. Tidak masalah. Hanya saja kalau semuanya dimaknai Islam, ya tidak benar," kata Daud .

Menurut Daud, tafsir yang disebarkan melalui media sosial jelas-jelas dibuat-buat. Mengenai nama Gajah Mada, ia menjelaskan bahwa pada waktu itu sudah menjadi kebiasaan menggunakan nama hewan sebagai unsur kekuatan bagi pemilik nama tersebut. Karena itulah Raja Majapahit yang terkenal bernama Hayam Wuruk.

"Banyak orang menggunakan kebo dalam namanya. Jadi tidak bisa dipisahkan seperti itu (nama Gajah Mada adalah Gaj Ahmada). Lagi pula, kenapa hanya Gajah Mada. Kenapa yang lain tidak?" kata Daud.

Daud menilai penafsiran sejarah semacam ini muncul terkait dengan politik identitas. Penulis ingin mengidentifikasi dirinya melalui akar sejarah yang panjang. “Bagian dari upaya mereka untuk mendominasi pemikiran dan kekuasaan untuk legitimasi adalah bahwa telah lama ada bukti bahwa kerajaan besar itu sebenarnya Islam,” jelas Daud.

Legitimasi ini, menurut Daud, terlihat jelas karena identifikasi yang ada hanya mengarah pada satu kelompok. Padahal, sejarah Majapahit sangat memungkinkan untuk dimaknai secara beragam. “Dari segi keragaman, Majapahit bisa diartikan bahwa kerajaan Hindu memiliki pejabat yang beragama Islam, mereka tidak ada masalah,” lanjutnya.

Selain itu, saat ini semua bentuk penafsiran adalah sah. Namun, bukan berarti menghilangkan keberadaan bukti yang kuat. "Kalau hanya permainan kata, semuanya bisa dimainkan," kata Daud.

Hal semacam ini bisa memancing orang untuk lebih kritis. Sayangnya, kata Daud, dengan menggunakan media sosial, masyarakat seolah tidak lagi membutuhkan bukti.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama