Dibalik Pidato Presiden Soekarno

Bagaimana persaingan dua politisi di sekitar Soekarno melibatkan perempuan bule?

Presiden Soekarno saat berpidato pada tahun 1966.

Ganis Harsono terperangah dalam rasa kaget yang bukan alang kepalang. Di tengah riuh rendah massa yang memenuhi Istora Senayan siang itu, ia tak habis pikir, bagaimana bisa bicara Presiden Sukarno di depan peserta peringatan Konfrensi Asia Afrika ke-10 itu berbeda dengan isi naskah dialog yang tengah ia pegang.

“Kok bisa terjadi seperti ini?” pikir Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI tersebut.

Dalam perasaan tak menentu itu, Ganis kemudian menengok ke arah kumpulan para wartawan. Benar saja perkiraannya, sambil memegang kertas salinan naskah tersebut, para kutu tinta itu terlihat dalam ketidakmengertian. sebagian dari mereka, terlihat memandangnya, seolah meminta penjelasan tentang "kekacauan" ini.

“Yang anda sudah berikan pada saya lain, dan saya bagi-bagikan kepada semua anggota pers” tiba-tiba sekretarisnya yang bernama Alex Alatas (kelak menjadi Menteri Luar Negeri di era pemerintahan Presiden Soeharto) berbisik kepadanya.

“Ini copy asli naskah bicara Presiden,” jawab Ganis sambil membolak-balik kembali lembaran kertas yang di awal tulisannya tertera judul Keep the Bandung Spirit High. Lantas naskah karya siapa yang tengah dipidatokan oleh Bung Karno di atas podium tersebut?

Memasuki Awal 1960-an, kondisi kesehatan Presiden Sukarno mulai menurun. Situasi ini tentu saja berpengaruh bagi kemampuannya untuk melakukan aktifitas sehari-hari, termasuk ia tidak lagi mampu menulis sendiri konsep pemikiran yang akan dipidatokan di depan khalayak mancanegara. Akhirnya memutuskan, setiap bicara Bung Karno akan ditulis oleh sebuah tim khusus.

Julius Pour dalam G30S, Fakta atau Rekayasa, menyebut setidaknya ada dua tim penulis bayangan di sekitar Presiden Sukarno yang ketat "bersaing". Tim pertama adalah tim Soebandrio, yang tak lain adalah Menteri Luar Negeri sekaligus pimpinan Badan Pusat Intelejen (BPI). Sedangkan tim kedua dipunyai Njoto, Menteri Negara dan juga Wakil Ketua II Komite Sentral Partai Komunis Indonesia (CC PKI).

Banyak kalangan (termasuk Ketua CC PKI, D.N. Aidit) yang melihat Njoto tak lebih sebagai seorang sukarnois dibanding seorang komunis. Dalam kenyataanya, Nyoto dan Aidit memang berbeda kiblat. Nyoto lebih cenderung mengikuti Partai Komunis Uni Sovyet, Aidit lebih condong kepada Partai Komunis Tiongkok.

“Setelah memperhatikan yang semakin memuncak di antara kedua tokoh komunis itu, Presiden Sukarno mulai mengambil pilihan dengan lebih memilih Nyoto,” ungkap Ganis Harsono dalam Cakrawala Era Politik Sukarno.

Uniknya, Soebandrio dan Nyoto memiliki asisten yang masing-masing merupakan perempuan bule. Jika Soebandrio memiliki tandem bernama Molly Warner dari Australia, maka Njoto terlihat sangat kompak dengan Carmel Brickman Inggris.

Berbeda dengan anggapan orang yang melihat pengalaman dua perempuan bule tersebut hanya sebagai penerjemah, sesungguhnya mereka berdua memiliki peran yang sangat strategis dalam menuangkan-konsep yang terkait dengan kebijakan luar negeri yang dianut Bung Karno. Dunia internasional tak pernah akan melupakan melupakan fenomenal memiliki Sukarno di depan Majelis Umum PBB pada 1960. Konon Molly peran signifikan dalam penyusunan pidato yang berjudul To Build the World Anew itu. siapa Molly sebenarnya?

Molly tak lain adalah istri Muhammad Bondan,seorang aktivis pergerakan yang “diculik mengungsi” oleh pemerintah Hindia Belanda ke Australia saat tentara Jepang menyerbu Indonesia pada 1942. Perempuan kelahiran Selandia Baru dan kemudian menetap di Sydney kerap menyebut keterkaitan hari kelahirannya dengan tenggelamnya kapal Titanic.

 “Saya lahir bertahan tiga bulan sebelum tragedi tenggelamnya kapal pelayaran Titanic di lautan dasar Atlantik,” ujarnya dalam In Love With a Nation, sebuah memoir yang ditulisnya langsung. Ya Molly memang lahir pada 9 Januari 1912.

Begitu pemerintahan Indonesia menyingkir ke Yogyakarta pada 1947, Bondan memboyong sang istri bulenya itu ke tanah air. Ia kemudian direkrut oleh Sukarno-Hatta sebagai pejabat di Kementerian Perburuhan. Sedangkan Molly, bekerja di RRI Pemancar Yogyakarta yang khusus mengasuh program The Voice of Free Indonesia.

Sebagai RRI, Molly dikenal sebagai penyiar asing yang sangat rajin mengenal perjuangan negara yang membuat simpati itu kepada masyarakat internasional. Melihat bakat luar biasa di diri Molly, Sukarno memindahkannya ke Kementerian Luar Negeri. Di sana, ia didapuk untuk mengajar bahasa Inggris kepada para diplomat Indonesia.

awal 1960, Sukarno memutuskan Molly untuk menjadi pendamping Soebandrio dalam membuat naskah-naskah bicara yang khusus ditujukan bagi kepentingan luar negeri Indonesia.Sebagai perancang naskah-naskah berbicara presiden, Molly sangat mengenal pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan Sukarno saat berpidato.

“….Ia gemar melakukan kesalahan sebagai upaya untuk lebih menjelaskan apa yang dia maksud…” katanya .

Molly mengakui jika kemampuan berbicara Sukarno sama bagusnya dengan kemampuan ia menulis teks bicara. Molly sendiri sebagai penerjemah sering kehabisan kata-kata untuk menerjemahkan teks bicara BK lengkap dengan ekspresi dan bumbu-bumbunya.

“Terus terang, saya sering mendekati harapan untuk mencapai nuansa terjemahan yang pas. Tapi tentu saja saya lakukan dengan tidak mengubah substansi,” ujar Molly.

Nasib Carmel, tak jauh berbeda dengan Molly. Bertemu sebagai sesama aktivis kiri dengan Soewondo Budiardjo di Praha, Chekoslovakia pada 1950. Kemudian dinikahi oleh pegiat Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) tersebut, organisasi yang sangat dekat dengan PKI.

Lewat PKI inilah, Carmel kemudian terhubung dengan Njoto. Melihat kemampuan Carmel yang sangat baik dalam segi analisa politik dan pemikiran, tokoh PKI saingan Aidit itu (Aidit menyindirnya sebagai kaum revisionis modern pro Moskwa), menunjuknya untuk menjadi tandem bicara-pidato Bung Karno.

Posisi Carmel tetap eksis sebagai bayangan, hingga Insiden 1965 meletus. Ia kemudian ditangkap dan kemudian dibawa ke Pulau Buru bersama suaminya, sebelum Pemerintah Inggris tampaknya turun tangan dan meminta Presiden Soeharto mendevortasi perempuan pakar ekonomi lulusan Universitas London itu ke negeri leluhurnya pada 1971.

Begitu sampai di Inggris, dua tahun kemudian Carmel Budiardjo mendirikan TAPOL, sebuah lembaga hak asasi manusia yang mengatur kehidupan para tahanan di Indonesia. “Saya tak bisa melupakan begitu saja nasib kawan-kawan yang masih berada di penjara Soeharto,” tulisnya dalam Surviving Indonesia's Gulag, sebuah buku yang menceritakan pengalaman dia menjadi tahanan selama di Indonesia.

18 APRIL 1965. Teriakan “hidup Bung Karno!” yang bergemuruh di seantero Istora Senayan tiba-tiba kejadian di benak Garnis Harsono 9 hari sebelumnya. Suatu siang, ketika akan menghadap Bung Karno guna membahas isi naskah kunjungan mengumumkan satu dasawarsa Konfrensi Asia Afrika, ia berpapasan dengan Njoto yang baru keluar dari ruang kerja BungKarno. Mereka lalu bertegur sapa dan saling bertukar senyum.

Senyum masih tertinggal di wajah Garnis, ketika di mulut ruang kerja Sukarno, diplomat kelahiran Jombang itu mendengar kata-kata keras: “Garnis! Saya sudah bosan dengan gaya bicara Soebandrio. Saya ingin sebuah pernyataan!. Oratorium, saya ingat Anda, bukan pidato! Belakangan ini menteri Anda sudah terbiasa terjun ke dalam lamunan filosofis (Pidato, bukan ceramah!, Menterimu itu akhir-akhir ini mulai keranjingan fantasi filsafat!

Tentu saja segera Garnis mengiyakan keinginan sang presiden itu. Seminggu kemudian, ia berlatih dengan Soebandrio dan Molly Bondan untuk merevisi isi bicara tersebut. Setelah diperbaiki, 17 April 1965, seorang anggota Resimen Tjakrabirawa kemudian mengambil naskah pembicaraan hasil revisi itu. Ganis sendiri langsung memperbanyaknya guna disebar ke para wartawan.

Tak dinyana olehnya, ternyata naskah bicara yang dibuat oleh Pak Ban dan Molly tetap tidak terima di hati Presiden Sukarno. Buktinya, dia lebih suka“meneriakan” hasil tulisan Njoto dan Carmel di Istora Senayan. Dan Garnis, hari itu hanya bisa terperangah dalam rasa kaget yang bukan alang kepalang.

“Dari kejadian-kejadian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Presiden Sukarno menawarkan penawaran perdana menteri pertama-nya demi naskah bicara yang kaku dan pembohong buatan Nyoto-Carmel Budiardjo itu,” tulis Ganis dalam catatan harian-nya bertanggal 24 April 1965.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama