Dibalik Pengkhianatan Pangeran Muda Ariffbillah

Kisah seorang pangeran yang dianggap kaki tangan Belanda selama Perang Banjar. Tapi apakah dia benar-benar pengkhianat?

Suasana Perang Banjar 1859-1865.

Kemarahan rakyat Banjar kepada Pemerintah Hindia Belanda memuncak setelah politik dalam negeri mereka diusik. Mereka dianggap telah mencampuri urusan naik dan turunnya takhta di Kesultanan Banjar. Lebih dari itu, bahkan menempatkan seorang penguasa boneka di takhta tertinggi kesultanan itu.

Selama perang berlangsung, muncul tokoh-tokoh terkemuka yang menjadi harapan rakyat Banjar di medan pertempuran. Mereka berusaha keras mengusir para penyerang dari tanah airnya. Sebut saja Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, Haji Bajasin, Tumenggung Antaluddin, dan sebagainya.

Di antara banyak tokoh yang menjadi pahlawan dalam Perang Banjar, ada seorang penguasa yang dicap sebagai pengkhianat oleh rakyat. Dia adalah Pangeran Muda Ariffbillah. Dia dianggap sebagai kaki Belanda yang berusaha menghabisi Pangeran Hidayatullah dan mengalahkan tangan perang. Namun di balik tindakan pengkhianatannya terdapat sebuah kisah yang tidak banyak orang tahu.

Janji Setia kepada Belanda

Serangkaian serangan dilancarkan rakyat Banjar pada 1860-an. Mereka menyasar pos-pos pertahanan Belanda di hampir seluruh wilayah Banjarmasin. Dalang di balik penyerangan tersebut, sebagaimana disebutkan Idwar Saleh dalam Lukisan Perang Banjar 1859-1865, adalah Pangeran Hidayatullah.

Pemerintah Belanda pun mengeluarkan perintah penangkapan Pangeran Hidayat. Di tengah upaya tersebut, Pangeran Muda Ariffbillah muncul menawarkan bantuan. Disebutkan Hendrik Herman Juynboll dalam Catalogus Van de Maleische en Sundaneesche, Ariffbillah merupakan penguasa dari Tjengal, Menunggul, dan Bangkalan.

Dalam pertemuan di Banjarmasin, Ariffbillah menyatakan kesanggupannya menyediakan 2.700 laskar untuk menghadapi pasukan Pangeran Hidayat. Dia lalu meminta kepada mereka untuk tidak melakukan tindakan apapun selama dirinya Belanda mengumpulkan kekuatan.

“Pada waktu itu untuk mengumpulkan orang sebanyak 2.700 orang, pekerjaan yang mudah, apalagi diketahui bahwa pengumpulan orang itu semata-mata adalah tindakan untuk Pangeran Hidayat,” demikian menurut buku Departemen Penerangan Republik Indonesia: Provinsi Kalimantan.

Benar saja, pada waktu yang telah ditentukan Ariffbillah gagal mengumpulkan bala tentara sesuai dengan janjinya. Dia hanya mampu menghimpun 1.000 orang aja. Itu pun setelah disuap dengan mata uang dan mas, serta memamerkan bangsawan setelah Pangeran Hidayat ditangkap. Belanda yang kecewa secara tegas menolak tawaran Ariffbillah.

Tidak berputus asa, Ariffbillah terus berusaha mengambil simpati orang-orang Belanda. Kali ini dia mencoba mencari tempat persembunyian Pangeran Hidayat yang lokasinya jauh di dalam hutan dan tentara Hindia Belanda tidak mungkin dapat menemukan. Setelah menemukan cukup lama, ang pangeran muda itu berhasil menemukan keberadaan Pangeran Hidayat. Dengan tipu muslihatnya, Ariffbillah mampu menceritakan Pangeran Hidayat untuk membukakan pintu baginya. Dia juga menyediakan berbagai macam dan keperluan perang untuk pemberontakan.

“Pada waktu itu memang pasukan Pangeran Hidayat dalam kesukaran, terutama kekurangan alat-alat. Sudah barang tentu tawaran dari Pangeran Muda dapat diterimanya dengan segala senang hati, bahkan tidak timbul kecurigaan dalam hati dengan tujuan Pangeran Muda yang sebenarnya,” tulis buku tersebut.

Ketika keduanya sedang berunding, Belanda tiba-tiba melakukan penyerbuan. Baik pihak Ariffbillah, maupun Belanda sama-sama tidak mengetahui masing-masing pihak sehingga tentang adanya rencana Ariffbillah di tempat Pangeran Hidayat sama sekali di luar perkiraan tentara Hindia Belanda. Namun nyatanya penyerbuan itu pun tidak berjalan sukses dan pada kekalahan para penyerang.

Orang-orang Belanda menyalahkan Ariffbillah atas kegagalan tersebut. Dia menilai tidak teliti dan ceroboh, bahkan sampai menyebabkan kecurigaan dari Pangeran Hidayat sehingga kekuatan para pemberontak semakin besar. Dia lalu diberi kesempatan terakhir oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menangkap Pangeran Hidayat.

Siasat Pangeran Muda

diinginkan sebelumnya menjadi bumerang bagi Belanda. Pasukan Pangeran Hidayat semakin gencar menggempur pos pertahanan Belanda dan menciduk orang-orang yang diketahui bekerja untuk pemerintah kolonial. Tetapi anehnya, orang-orang Belanda mengetahui kalau Ariffbillah tetap aktif berkirim surat dengan Pangeran Hidayat. Pangeran Hidayat sadar penyerbuan tidak bisa dilakukan di tempat saja karena pengkhianatan, Ariffbillah tetap dipercaya oleh Pangeran Hidayat.

Dalam sebuah patroli, meski tidak mengetahui lokasi Pangeran Hidayat, Ariffbillah mendapatkan tempat persembunyian para pengikut sang pangeran. Dia juga membawa 135 orang di antaranya ke hadapan Belanda. Mereka memaafkan oleh Ariffbillah jika berhenti dan menyerahkan senjatanya.

“Akan tetapi ternyata Belanda berkeberatan memberi pengampunan kepada mereka. Belanda mungkir janji, ia tidak memberikan pertolongan kepada orang-orang tawanan itu, bahkan tidak memberikan tanda jasa kepada Pangeran Muda, karena setiap Belanda harus bergantung,” jelas buku yang dikeluarkan Departemen Penerangan awal 1950 itu.

Ketika para tawanan hendak diadili di ruang persidangan, mereka melakukan perlawanan dengan merebut senjata para penjaga. Perlawanan berhasil diredam. Sejumlah tawanan menjadi korban, sementara lainnya berhasil membuat diri. Orang-orang Belanda pun merasa curiga jika tawanan itu sengaja dilakukan untuk acara semacam itu. Mereka mulai memperhatikan gerak-gerik sang pangeran muda.

Di Banjarmasin, Ariffbillah menuntut hadiah dari pemerintah Hindia Belanda atas jasanya menyerahkan para pemberontak dan memberikan informasi keberadaan para pengikut Pangeran Hidayat. Dia minta-orang Belanda menyerahkan pemerintahan sipil kepadanya. Ariffbillah lalu membuktikan bahwa dia bisa memerintah sesuai keinginan mereka, yakni dengan menaikan pajak di wilayah kekuasaannya dan di Margasari.

Tetapi tindakan itu membuat rakyat Margasari marah. Mereka tahu bahwa Ariffbillah hanya boneka Belanda dan menolak perintah olehnya. Bahkan ketika pimpinan tentara Belanda memerintahkan pembuatan benteng di Margasari, rakyat menolak bekerja selama Ariffbillah masih memerintah di sana. Para pemimpin tentara Belanda yang segera memanggil pulang Ariffbillah.

“Pihak Belanda mengetahui bahwa Pangeran Muda tidak disenangi oleh rakyat dan untuk menghindarkan pertumpahan darah maka ia akan pulang ke Banjarmasin. Tetapi Pangeran Muda yang sepertinya-akan mementingkan diri sendiri, adakalanya merugikan sangat bagi Belanda, bahkan bertentangan dengan kehendak Belanda sendiri,” ungkap buku tersebut.

Ariffbillah kehilangan kehilangan kepercayaan pemerintah kolonial. Apa yang dia dapatkan setelah melakukan pertemuan rahasia dengan pengikut Pangeran Hidayat. Bahkan pada suatu waktu dia pernah secara paksa melakukan kontrol ke kapal dagang Belanda tanpa izin pejabat pemerintah manapun.

Dari waktu ke waktu tindakan-tindakan sang pangeran muda menampilkan iklan. Dia kerap menghasut penguasa pribumi untuk tidak menandatangi kontrak baru dengan pemerintah Hindia Belanda. Hal itu pernah dilakukan Ariffbillah kepada Sultan Pasir. Diceritakan Arena Wati dalam Syair Pangeran Syarif Hasyim al-Qudsi, sang pangeran muda menyarankan Sultan Pasir menolak kontrak dari Belanda jika hubungannya bukan hubungan persahabatan yang saling menguntungkan.

Kejadian itu membuat pemerintah Hindia Belanda marah. Mereka Ariffbillah agar tidak mencari masalah. Mereka juga mengganggap sang pangeran muda “berkepala dua”. Orang-orang Belanda sudah tidak yakin bahwa dia masih memiliki niat baik. Ariffbillah sudah terlalu banyak mencari masalah dengan orang-orang Belanda.

Puncaknya, pemerintah Hindia Belanda secara tegas memecat Ariffbillah dari jabatan pangeran di Tjengel, Manunggul, dan Bangkalan. Itu dilakukan setelah dia menolak memberi kekuasaan atas tanah kelahirannya kepada pemerintah kolonial. Dia juga menjadi tahanan Belanda di Banjarmasin, sebelum akhirnya diasingkan ke Surabaya pada Juli 1862.

“Setelah ia menuju ke tempat pembuangan di Jawa barulah Belanda dapat mengetahui bahwa sebenarnya Pangeran Muda adalah menjalankan politik yang disalurkan oleh Pangeran Hidayat dan bekerja sama dengan Belanda itu hanya untuk menipu Belanda saja,” tulis buku Departemen Penerangan.

“Tetapi perbuatannya oleh sebagian besar rakyat dikira sebagai suatu perbuatan pengkhianatan,” lanjutnya.

Setelah diasingkan ke Jawa, tidak ada yang tahu bagaimana nasib Pangeran Muda Ariffbillah. Apakah dia meninggal di pengasingan atau kembali ke tanah airnya, belum ada literatur yang menjelaskan hal tersebut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama