Desersi TNI di Palagan Minahasa

Diberhentikan untuk memata-matai situasi di Sulawesi Utara, satu peleton komando Angkatan Darat malah bergabung dengan Permesta.

Pasukan TNI saat operasi penumpasan Permesta.

Seorang anggota elit Raider 400 (Kodam IV Diponegoro) Prajurit Lucky Y. Matuan alias Lukius akhirnya resmi dianggap sebagai yudha nakal (makanan penutup). Dalam keterangan persnya, Asisten Operasi Kogabwilhan III Brigjen Suswatyo mengatakan, pihaknya telah memastikan Lukius kabur dari unitnya dan bergabung dengan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Intan Jaya sejak beberapa hari lalu.

"Jika ditemukan, akan dilakukan tindakan tegas karena dia tergabung dalam kelompok ekstremis," kata Suswatyo seperti dikutip Kompas (16/4).

Pengunduran diri Lukius merupakan yang kesekian kalinya dalam sejarah militer Indonesia. Terakhir, saat berlaga di stadion Aceh, TNI juga sempat lengah saat diberitakan beberapa anggotanya membelot ke Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Salah satunya bernama Ahmad Kandang, yang kemudian menjadi salah satu panglima GAM yang legendaris.

Ketika pemberontakan yang dilakukan oleh Permesta Rakyat Semesta, di Istana Minahasa (Sulawesi Utara) pada tahun 1958-1961, sekelompok anggota TNI melakukan hal yang sama. Kisah tersebut bahkan tertuang dalam biografi Jenderal (Purn.) L.B. Moerdani, Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan disusun oleh Julius Pour.

Ceritanya, sebelum terjadi perlawanan di Sulawesi Utara, kurang lebih satu peleton (60-70 prajurit) pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang merupakan anak-anak Minahasa, diberhentikan oleh kesatuannya. Hal ini dilakukan agar ketika mereka kembali ke barak dan asrama mereka, mereka dapat melaporkan situasi objektif di daerah yang sedang memanas.

Namun sebelum waktu istirahat, pemberontakan Permesta tiba-tiba meletus. Terbawa suasana di kampung halaman, mereka akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan pemberontak dan tersesat kembali ke Batujajar, markas RPKAD saat itu.

"... kami terpaksa berperang di pihak pemberontak, karena kami terjebak oleh keadaan," kata Kopral Dua Nicholas Sulu, salah satu prajurit RPKAD.

Menurut Benny, eks RPKAD terbukti berperan penting di ADREV (Tentara Revolusi). Rata-rata, mereka menjadi instruktur militer yang mumpuni bagi para gerilyawan muda Permesta. Bahkan saat berlatih, mantan pelatih RPKAD itu tak segan-segan langsung memberi contoh dengan melakukan serangan tunggal terhadap konvoi TNI. Dalam menerapkan pelajaran ini, pelatih sering berhasil mendapatkan senjata loot dan sejumlah peralatan militer yang berharga.

Menurut Jopie Lasut, mantan gerilyawan Permesta, salah satu hasil pelatihan mantan RPKAD adalah gerilyawan Permesta yang bermarkas di kawasan Kakaskasen. Di sana hampir setiap saat, gerilyawan menghadapi konvoi TNI yang hilir mudik dari Manado ke Tomohon, Kawangkoan, Langoan, Amurang dan Bolaang Mangondow. Dari penyergapan itu, mereka berhasil menyita banyak senjata dan peluru TNI.

“Ternyata dua panglima kompi mereka adalah mantan bintara RPKAD yang sedang cuti,” kata Jopie Lasut dalam otobiografinya, Kesaksian Gerilya Permesta-RPI.

Di daerah itu, mereka juga membunuh satu peleton pasukan dari Kodam Brawijaya. Cara mereka menghadapi mereka juga sangat berani: bersembunyi di balik rerumputan atau berbaring di tengah persawahan yang hanya berjarak sekitar 10-15 meter dari jalan raya.

"Kalau dikejar, mereka tidak lari ke desa lain, tapi hanya berputar ke ujung desa dan kembali menyergap di sana..." kata Jopie.

Tak jarang untuk menghadapi mereka, TNI harus mengerahkan pasukan RPKAD. Bahkan, membuat “jijik” tersendiri bagi pasukan yang ditugaskan untuk itu. Benny Moerdani sendiri mengakui hal tersebut.

“Pengalaman harus melawan mantan bawahannya ini sering membuat Benny merasa tidak nyaman selama pertempuran di Sulawesi Utara,” kata Julius Pour.

Tentu saja di Permesta militer, mantan RPKAD mendapat promosi dan jabatan. Seperti Kopral Kedua Nicholas Sulu, dia diangkat menjadi Letnan Dua dan dipercayakan dengan tanggung jawab untuk memimpin peleton ADREV.

Selain eks RPKAD, di Pasukan Perang Revolusi (APREV) juga terdapat sejumlah musafir yudha dari KKo-AL, Pasukan Gerakan Tjepat TNI AU (PGT AU) dan sejumlah eks pilot pesawat tempur AU seperti Muharto dan Hadi Sapandi.

Dari mantan Komando Angkatan Laut, ada seorang bintara bernama Jolly Manopo. Dia terkenal karena melatih kompi gerilyawan Permesta di Langowan. Pasukan inilah yang menjadi terkenal karena keberanian dan kecerdikannya hingga suatu hari mereka berhasil membunuh satu peleton TNI.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama