Arsip Angkasa Pura Mengudara

Perjalanan perusahaan bandar udara perintis Indonesia ini tersimpan dalam arsip arsip. Menambah khasanah sejarah kedirgantaraan di negeri ini.

Bandara Kemayoran, bandara pertama yang dibangun dan dikelola oleh PT. Angkasa Pura.

Fungsi bandar udara (bandara) sangat penting bagi industri penerbangan. Secara historis, perkembangan bandara di Indonesia tidak lepas dari peran PT Angkasa Pura. Itulah nama perusahaan milik negara yang mempelopori pengoperasian bandara komersial di Indonesia.

“Diprakarsai oleh Presiden Soekarno yang memiliki keinginan untuk membangun bandara nasional dan internasional di Indonesia,” kata Gede Eka Sandi, Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I pada “Pameran Inventarisasi Arsip PT Angkasa Pura I (Persero): 1960-2011 " diselenggarakan oleh Arsip. Negara Kesatuan Republik Indonesia (ANRI) pada 19 November 2019.

Cikal bakal Angkasa Pura dimulai pada tahun 1962. Saat itu, Presiden Soekarno baru saja kembali dari Amerika Serikat dan menyaksikan betapa modernnya bandara tersebut. Sukarno menegaskan keinginannya kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum agar bandara di Indonesia setara dengan bandara di negara maju.

Pada tanggal 15 November 1962 dibentuk Perusahaan Negara (PN) Angkasa Pura Kemayoran untuk membangun dan mengelola Bandar Udara Kemayoran di Jakarta. Bandara Kemayoran juga merupakan bandara Indonesia pertama yang dibuka untuk rute penerbangan internasional. Pada tanggal 20 Februari 1964, PN Angkasa Pura Kemayoran mengambil alih aset dan operasional Bandara Kemayoran. Tanggal ini juga diperingati sebagai hari jadi perusahaan.

PN Angkasa Pura Kemayoran kemudian berubah nama menjadi PN Angkasa Pura. Perubahan ini terkait dengan pembangunan bandara di wilayah lain di Indonesia. Setelah Kemayoran, Angkasa Pura membangun Bandara I Gusti Ngurah Rai (Denpasar), Halim Perdanakusumah (Jakarta), Polonia (Medan), Juanda (Surabaya), Sepinggan (Balikpapan), dan Sultan Hasanuddin (Ujung Pandang).

Pada tahun 1974 status badan usaha Angkasa Pura diubah menjadi perusahaan umum (perum). Seiring berjalannya waktu, wilayah operasional Angkasa Pura semakin berkembang. Pada tahun 1986, Angkasa Pura diubah menjadi Perusahaan Umum Angkasa Pura I. Hal ini sejalan dengan berdirinya Perum Angkasa Pura II - sebelumnya bernama Perum Pelabuhan Air Cengkareng - yang secara khusus bertugas mengelola Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

Pada tahun 1992, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 5, Perum diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh negara. Sesuai dengan peraturan tersebut, Angkasa Pura berubah nama menjadi PT. Angkasa Pura I. PT Angkasa Pura I mengelola bandar udara di wilayah tengah dan timur Indonesia. Sementara itu, PT Angkasa Pura II mengelola bandara di Indonesia bagian barat

Hingga saat ini, PT Angkasa Pura I mengelola 15 bandara sedangkan PT Angkasa Pura II mengelola 16 bandara. Di luar sektor penerbangan, Angkasa Pura juga melebarkan sayap bisnisnya. Anak perusahaan Angkasa Pura meliputi logistik, properti, perhotelan, dan ritel.

Pada tahun 2014 dan 2018 PT. Angkasa Pura I menyerahkan arsip kepada ANRI. Menurut Sarip Hidayat, Direktur Pengolahan ANRI, arsip yang diserahkan terdiri dari 83 kotak arsip tekstual, 2.890 arsip foto, 2.890 lembar, 4000 bingkai arsip foto negatif, dan 293 arsip slide foto. Selain itu, ada juga arsip visual berupa dokumentasi video. Arsip-arsip ini mengungkap perjalanan Angkasa Pura selama setengah abad sejak berdiri hingga 2011.

Arsiparis ANRI, Jajang Nurjaman yang mengelola arsip Angkasa Pura, mengatakan arsip tersebut dapat segera diakses oleh publik. Menurutnya, arsip ini memiliki nilai penting dalam mencatat sejarah penerbangan dan industri kedirgantaraan di Indonesia. Diperkirakan arsip Angkasa Pura akan masuk layanan ANRI awal tahun depan.

“Harapannya banyak peneliti atau masyarakat umum yang mengakses arsip-arsip yang berkaitan dengan kedirgantaraan Indonesia, dan sebagai pintu gerbang arsip statis lainnya yang masih disimpan oleh perusahaan atau perorangan yang terkait dengan sejarah penerbangan Indonesia,” kata Jajang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama