Akar Budaya Nusantara dan Pasifik

Hubungan budaya masa lalu menjadi modal dalam membangun hubungan diplomatik antara Indonesia dan kawasan Pasifik.

Melanesia di Vanuatu, sebuah negara kepulauan di selatan Samudra Pasifik.

Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan hubungan dengan kawasan Pasifik. Namun, Indonesia belum mendapat pengakuan sebagai bagian dari wilayah itu meskipun memiliki akar budaya yang sama.

“Akar budaya di Pasifik kalau bisa dikatakan asalnya dari Nusantara,” kata Daud Aris Tanudirjo, dosen arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam diskusi berani bertema “Relasi Peradaban: Nusantara dan Pasifik” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Selasa (30/03).

Pemerintah telah melakukan pendekatan dengan negara-negara Pasifik melalui budaya dan ekonomi. Melalui program Pasific Elevation diharapkan pengaruh Indonesia di kawasan Pasifik meningkat. Dengan program itu, Indonesia ingin membantu pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Pasifik.

“Kita berbagi ilmu pariwisata, penanggulangan bencana alam sebagai sesama negara di cincin api yang rentan terhadap bencana, kita dasar ekonominya perikanan kita berbagi info juga, kita juga menyediakan pasar, siap menyerap produk negara Pasifik,” kata Tantowi Yahya, duta besar Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa, Kerajaan Tonga, Kepulauan Cook dan Niue, sekaligus dubes keliling untuk Pasifik.

Secara ekonomi, Pasifik merupakan pasar potensial untuk produk Indonesia. Hubungan Indonesia dan Pasifik dinilai akan membuka peluang bagi wilayah Indonesia Timur untuk mengembangkan produk lokalnya.

“Tak mesti lewat Jakarta atau Surabaya. Ekspor komoditas dari Indonesia Timur itu langsung. Artinya bisa menekan biaya, biaya ekonomi rendah,” kata Tantowi.

Sektor pariwisata di wilayah Indonesia Timur pun bakal menjadi lebih terbuka dengan terjalinnya hubungan ini. “Ekonomi akan tumbuh, beban pemerintah Indonesia terhadap kawasan timur akan tereduksi karena mereka sudah menemukan pasarnya sendiri,” kata Tantowi.

Namun, kata Tantowi, selama ini dunia cenderung memotret Indonesia dari sisi Samudera Hindia. Karenanya lebih dianggap sebagai bagian dari Asia alih-alih bagian dari negara-negara Pasifik.

Padahal, dari sisi kebudayaan Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat di Pasifik. “Kita punya modal kuat untuk berharap bahwa kita adalah bagian mereka,” ujar Tantowi. “Kita bukan orang asing di kawasan Pasifik.”

Budaya Pasifik

Daud menjelaskan, kepulauan Indonesia telah menjadi jembatan antara dua daratan di utara dan selatan, serta lautan di barat dan timur. Sejak lebih dari 60.000 tahun lalu Nusantara menjadi jalur persebaran manusia dari Asia ke Pasifik.

“Sebagai jembatan, kalau kita yakini manusia paling awal dari Afrika maka sebenarnya penghuni Pasifik termasuk Australia tak bisa selalu melalui Indonesia dulu,” kata Daud.

Itu terbukti oleh jejak budaya yang menghubungkan Indonesia dengan Australia. Misalnya, di Indonesia ditemukan gambar cadas yang mempengaruhi bentuk gambar cadas di Australia. “Jelas kita mengisi kebudayaan yang ada di Pasifik,” kata Daud. “Juga penghunian Kepulauan Pasifik, Papua, Papua Nugini, Australia, itu dari Nusantara.”

Arus Globalisasi

Namun, bukan hanya Nusantara yang membawa pengaruh ke wilayah Pasifik. Nusantara pun mendapatkan pengaruh dari masyarakat yang berasal dari wilayah kepulauan di Samudra Pasifik itu. “Seolah kita mengkolonisasi daerah sana, tapi yang terjadi adalah pertukaran budaya,” kata Daud.

Berdasarkan penelitian arkeologi, arus balik dari Pasifik ke Nusantara terjadi 12.000 tahun yang lalu. Terbukti dengan adanya hewan dan tumbuhan asal Papua yang dibawa oleh manusia ke kawasan Wallacea. Diantaranya adalah walabi, couscous, bandit, pisang, tebu, dan beberapa jenis tanaman lainnya.

“Sehingga Alfred Russel Wallace bisa mendeteksikan adanya percampuran itu,” kata Daud. “Jadi, tak hanya satu arah.”

Meningkatnya hubungan budaya Nusantara dan Pasifik yang terjadi pada 5.000 tahun lalu pada awal migrasi bangsa Austronesia. Migrasi ini mengakibatkan proses globalisasi di wilayah Indo-Pasifik. Dalam prosesnya terjadi pertukaran, baik barang, budaya, maupun manusia.

Misalnya, teknologi gerabah Asia Tenggara atau Taiwan mulai diperkenalkan para migran sekira 3.500 tahun lalu di Melanesia dan Polinesia. Teknologi ini kemudian dikenal sebagai gerabah lapita. Gerabah Lapita awalnya dianggap perkembangan dari Indonesia Timur tapi kini ada dugaan lain, yaitu dibawa langsung dari Mikronesia, kata Daud.

Sebaliknya, pada masa yang sama batu obsidian dari Melanesia dibawa hingga ke Nusantara. Batu obsidian dipertukarkan dari Melanesia hingga ke Sabah (barat) maupun ke Fiji di timur.

Para migran berbahasa Austronesia itu mengadopsi pula tanaman setempat untuk dikonsumsi. Di antaranya talas, uwi (ubi), sukun, pisang, dan tebu.

Tanaman-tanaman itu tadinya di daerah Indonesia timur sebagai bagian dari masyarakat Melanesia, lalu diambil oleh orang Austronesia. Tanaman-tanaman itu tersebar luas bersama persebaran bangsa penuturan Austronesia.

“Suku Maori juga bawa ini, karena mereka sebenarnya juga Austronesia, berangkatnya dari Nusantara kemudian berkembang sampai ke Selandia Baru,” kata Daud.

Sementara pengaruh budaya Austronesia tak melacak jejak jejak yang menunjukkan hubungan antara Nusantara dengan sejak puluhan ribu tahun lalu. Itu terbukti dari keberadaan genetika Denisovan, khususnya di Melanesia dan Australia.

“Di Indonesia Timur termasuk suku bangsa yang sudah hadir cukup lama di sana biasanya memiliki genetika Denisovan yang khusus dimiliki Melanesia dan Australia. Tapi ada percampuran dengan genetika baru,” kata Daud.

Bahkan bukan hanya dari sisi genetika, cara bercocok tanam tertua di Papua pun masih ada. Just para penutur Austronesia mempelajarinya dari masyarakat penghuni Papua. “Identitas mereka sendiri masih ada,” kata Daud.

Teknologi Navigasi

Proses pertukaran itu memanfaatkan teknologi pelayaran yang maju. Ini yang membuat para penutur Austronesia menjadi ulung. Mereka berhasil bergerak cepat ke timur, mendatangi daerah-daerah baru, mengkoloni pulau yang tak berpenghuni di Pasifik.

Menurut Daud, teknologi kapal double-canoe itu bermuatan banyak, namun tetap cukup cepat sehingga proses migrasi dan interaksi menjadi jauh dan intensif. “Masyarakat Austronesia tak hanya mengambil tapi juga memberi. Jadi take and give, ini jadi ada percampuran,” ujar Daud.

Namun, ada masa ketika proses globalisasi itu mengalami penurunan. Jika sebelumnya arus pertukaran budaya, benda, dan orang terjadi dengan wilayah Pasifik, pada masa berikutnya bergeser ke barat. Sebab, pusat perekonomian lebih ramai di jalur dari dan menuju Tiongkok, India, Yunani, dan Romawi.

“Ini yang menarik banyak minat waktu itu, jadi Pasifik agak tertinggal. Ini yang membuat seolah Pasifik terpisah,” kata Daud.

Itu pun menjelaskan mengapa seolah-olah Nusantara kemudian berpaling ke wilayah barat. Maka tak heran jika Indonesia lebih dilihat sebagai bagian dari Asia daripada Pasifik.

“Ini karena pasang surut globalisasi. Pada masa Hindu Buddha, interaksi lebih banyak ke Tiongkok, India, dan Mediterania,” kata Daud. “Pengaruhnya berhenti sampai ke perbatasan garis Wallace.”

Kini, kata Daud, ketika minat banyak negara kembali menuju Pasifik, serumpun negara-negara Austronesia mulai memanfaatkan hubungan budaya masa lalu sebagai sarana memanfaatkan. Wilayah Papua bisa dibilang merupakan serambi, tempat pertemuan antara Nusantara dan Pasifik.

“Orang Indonesia harus banyak berperan, kita juga harus tampil, menempatkan posisi kita secara bijak,” kata Daud.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama