Perselisihan Hingga Perbedaan Awal Puasa di Era Kolon

Awal puasa seringkali berbeda di Hindia Belanda. Tidak pernah berakhir dengan perpecahan.

Masjid Kutaraja di Aceh pada tahun 1920-an.

Awal Ramadhan 1442 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021. Tak ada perbedaan mula bulan puasa antara dua ormas besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Dua ormas ini menggunakan konsep astronomi dan perhitungan yang berbeda. Tak jarang awal puasa bisa berlainan.

Perbedaan mula bulan puasa sering terjadi pada masa akhir. Kisah paling sohor berasal dari abad ke-16. H.J. de Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa mencatat, kala itu ulama Kesultanan Demak bermusyawarah menjelang bulan puasa. Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga menggunakan pandangan dan pendekatan yang berbeda dalam menentukan awal puasa.

Sultan Trenggana, penguasa Demak, memihak Sunan Kalijaga. Tapi Sumber Tambo yang dikutip oleh De Graaf tak menjelaskan metode apa yang digunakan Sunan Kalijaga dan didukung Sultan Trenggana. Akibat itu, Tambo menyebut Sunan Kudus pergi dari Demak. Lalu dia mengunjungi kota Kudus pada 1549.

Tapi De Graaf melihat kepergian Sunan Kudus secara berbeda. “Perselisihan dengan raja Demak, yang menyebabkan tokoh-tokoh yang kelak bernama Sunan Kudus itu terpaksa mengangkat kaki dari Demak, karena alasan yang lebih daripada yang disampaikan dalam shalat tentang asal-usul bulan puasa,” terang De Graaf.

Perselisihan awal bulan puasa juga pernah dicatat oleh Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang kesohor. Selama tinggal di Aceh pada tahun 1893, Snouck mempelajari penetapan bulan puasa.

“Menurut ajaran Syafi’i dari hukum Islam, penetapan tanggal yang berhubungan dengan agama tidak boleh ditetapkan dengan perhitungan, tetapi awal setiap bulan ditetapkan dengan melihat bulan baru,” ungkap Snouck dalam Aceh di Mata Kolonialis I.

Hukum Syafi'i dianut oleh umat Islam terbesar di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karena itulah metode rukyat hukum Syafi’i yang lazim digunakan. Tapi ini tidak berarti meniadakan pemahaman dan pendekatan lain untuk menentukan awal puasa.

“Walaupun orang Islam di Nusantara ini menganut ajaran Syafi’i, tetapi ajaran itu tidak diikuti secara merata, dan di berbagai daerah tetap menggunakan perhitungan (hisab),” tambah Snouck.

Di Aceh, para ulama menggunakan konsep astronomi Arab dari abad pertengahan untuk menghitung awal puasa. Mereka berhimpun dalam satu dewan ahli khusus yang diangkat oleh sultan. Biasanya mereka menetapkan awal bulan puasa pada hari Jumat terakhir sebelum masuk bulan puasa.

“Hari (tanggal) itu diumumkan kepada rakyat dengan tembakan meriam pada hari sebelumnya,” terang Snouck.

Orang Aceh menggunakan metode hisab karena memiliki tradisi merayakan pesta-pesta rakyat tertentu di ibu kota 2-3 hari sebelum puasa. “Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk mendapat kepastian yang cukup sebelum waktunya tiba, baik awal maupun akhir puasa,” tulis Snouck. Ini menjelaskan mengapa metode rukyat kurang berkembang dan datang terlambat di Aceh.

Metode rukyat mulai masuk di Aceh pada abad ke-19. Pembawanya bernama Habib Abdurrahman. Tapi usaha itu tak banyak mendapat sambutan. Seorang asing dari Timur Tengah bernama Tengku Bitay juga tercatat sebagai Penganut metode rukyat. Dia pernah berselisih dengan sultan tentang awal bulan puasa.

“Sang Teungku menegaskan bahwa dia telah melihat bulan baru; oleh sebab itu puasa harus dimulai besoknya. Tetapi sultan mengatakan bahwa besok malam baru muncul bulan baru, sehingga puasa esok harinya lagi,” catat Snouck dalam Aceh di Mata Kolonialis II.

Dalam hal itu, pendapat Tengku Bitay lebih kuat. Sultan pun harus mengakui kebenaran pernyataan sang Teungku.

Sebenarnya perbedaan dalam menentukan awal bulan puasa tak hanya berasal dari metode rukyat dan hisab. Sesama Penganut metode rukyat pun bisa menghasilkan awal bulan puasa yang.

“Bahkan mungkin terjadi antara kampung-kampung yang berdekatan,” terang Snouck dalam Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889–1936 VIII.

Beda waktu awal puasa antarsesama Penganut rukyat itu berasal dari perbedaan garis lintang, tipisnya udara, dan sebagainya. “Maka tidak heran jika setiap tahun awal puasa dan lebaran di seluruh dunia Mohammadan berbeda dari tempat ke tempat,” lanjut Snouck.

Untuk memberitahu bahwa daerahnya sudah masuk bulan puasa, para penghulu di Hindia Belanda akan berkabar melalui surat ke penghulu wilayah lain. “Di tempat kami orang sudah mulai liburan pada hari...” demikian kepala surat itu.

Selain melalui surat, buka puasa juga ditandai dengan pukulan bedug bertalu-talu. “Isyarat bedug kepada jemaah kampung bahwa puasa sudah datang,” ungkap Mohammad Roem dalam “Awal dan Akhir Bulan Puasa: Sikap Seorang Awam” yang termuat dalam Bunga dari Sejarah II.

Meski sering terjadi perbedaan dan penetapan awal puasa, tidak ada sesuatu yang mengundang perpecahan di kalangan umat Islam Hindia Belanda. Ini karena perbedaan itu diakomodasi oleh para ulama.

“Penyimpangan-penyimpangan secara perseorangan suatu pemahaman atas dasar lain, oleh syariat Mohammadan diakui sebagai sesuatu yang dibolehkan. Malahan diakui sebagai wajib. Maka pemerintah-pemerintah Mohammadan biasanya membiarkan hal itu tanpa ada gangguan,” tulis Snouck.

Mohammad Roem pun memiliki pendapat serupa. “Bagi saya mengikuti bedug, sama saja dengan mengikuti ilmu falak (dasar ilmu hisab, red.),” kata Roem.

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama