Pengalaman Misterius Bung Tomo di Kaki Gunung Wilis

Tersesat sendirian karena jatuh dari tebing saat Perang Kemerdekaan, Bung Tomo berjuang keluar dari hutan belantara. Dapatkan pengalaman mistis.

Ilustrasi.

Setelah jatuh ke jurang menuju Sleuf Z, jalan berkelok-kelok di hutan belantara di kaki Gunung Wilis, Bung Tomo merenungkan apakah ia harus bermalam di tepi sungai atau melanjutkan perjalanannya. Meski lelah sekaligus lapar dan kesakitan, Bung Tomo tidak punya baju ganti dan logistik. Sementara itu, langit sudah gelap. Dia tidak ingin menderita sendirian dalam kesunyian.

Perjalanan Bung Tomo terjadi ketika Bung Tomo memimpin kelompok Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) untuk menghindari pasukan Belanda yang terus menekan setelah melancarkan agresi kedua. Akibat agresi ini, kekuatan perjuangan republik mundur ke kantong-kantong yang dianggap aman. Panglima Jenderal Sudirman dan rombongan termasuk mereka yang minggir saat bergerilya. Rombongan Soedirman yang memulai perjalanan dari Gunung Kidul akhirnya sampai di kaki Gunung Wilis.

“Jenderal Sudirman, bisa melakukan wawancara dengan wartawan yang mengikuti gerilyawan, dari tempat persembunyian di lereng Gunung Wilis. Pak Dirman menjelaskan secara gamblang bahwa perang yang diinstruksikan oleh pemerintah adalah perang rakyat sejagat, dimana TNI hanya sebagian kecil dari kekuatan rakyat gabungan,” tulis Irna HN Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Bela Kemerdekaan Volume 2.

Di kaki Gunung Wilis, Panglima Divisi I Jawa Timur, Kolonel Sungkono, mendirikan markasnya. “Pada tanggal 25 Desember 1948 pasukan Belanda menguasai kota Kediri, dan Panglima Divisi dan Komandan Brigade II telah menempati tempat baru di Desa Guyangan, di kaki Gunung Wilis,” lanjut Irna.

Selain pasukan reguler Divisi I, banyak unit dan laskar lain yang menjadikan pangkalan Gunung Wilis sebagai pangkalan mereka. Di antara mereka, taruna angkatan kedua Akademi Militer Yogyakarta, beberapa di antaranya ditempatkan di Divisi I.

“Saat markas divisi pindah ke Goliman di lereng Gunung Wilis dan diubah fungsinya menjadi markas gerilya, peluang bertarung di lapangan terbuka. Tiga belas taruna vaandig setuju untuk meninggalkan markas untuk perang gerilya di bagian selatan Semeru,” tulis Daud Sinjal dan kawan-kawan dalam Report To the Nation: Akademi Militer Yogya.

BPRI Bung Tomo melarikan diri ke kaki Gunung Wilis pada Februari 1949. Namun, karena serangan Belanda membahayakan posisinya, BPRI terus bergerak ke timur hingga harus melewati Sluef Z. Bung Tomo menawarkan diri untuk memimpin rombongannya sebelum menuju kepada Sleuf Z karena tidak tega melihat wanita hamil dalam rombongan sementara jalan yang harus ditempuh masih belum terbayangkan. Begitu dia menemukan jalan yang dia ambil berbahaya, Bung Tomo menyarankan agar rombongannya menggunakan rute lain. Di jalur berbahaya menuju Sleuf Z, Bung Tomo jatuh ke jurang.

Sempat mempertimbangkan apakah akan melanjutkan perjalanan atau bermalam di tepi sungai, Bung Tomo akhirnya memilih untuk melanjutkan perjalanan. Dinding gunung di depannya dia coba panjat tapi tidak bisa. Dia juga mencoba dinding di sebelahnya. Saat mencoba dia mendengar suara yang memerintahkan "Tidak di sana!" Namun ketika dia melihat sekeliling, dia tidak menemukan siapa pun, Bung Tomo melanjutkan perjalanannya. Dia lagi mencoba dinding. Sekali lagi suara itu memerintahkan, "Tidak di sana!" mendengarnya. Bung Tomo sedang mencari tembok lain.

Tembok ketiga akhirnya bisa dinaiki Bung Tomo. Di hamparan rumput liar di atas, tubuhnya jatuh. Lelah, lapar, dan sakit menjadi satu perasaan. Kondisinya semakin parah karena kedinginan karena baju yang dikenakannya masih basah setelah terciprat ke sungai. Dalam keadaan dingin itu, gerimis tiba-tiba menambah penderitaannya. Bung Tomo menghabiskan malam sendirian di kegelapan dengan bintang-bintang sebagai pelitanya.

Sesaat setelah selesai berdoa, Bung Tomo dikejutkan oleh cahaya yang bersinar. Dia kaget dan mengira cahaya itu adalah pelita yang disinari oleh pasukan Belanda. Bung Tomo segera berdoa. Tidak lama kemudian, dia mendengar suara beberapa kuda berlari kencang dengan kereta ke timur. Tapi itu hanya sesaat.

Keesokan paginya, Bung Tomo memutuskan untuk turun gunung. Dengan tubuh yang demam, dia akhirnya mencapai ladang jagung. Ia akhirnya sampai di Desa Ngliman dan ditampung di rumah guru serta diberi pengobatan. Di sana juga teman-temannya yang terpisah akhirnya bergabung.

Suatu sore setelah sehat, Bung Tomo mengajak rekannya Hartadi untuk menelusuri jejak gerilya Panglima Besar Soedirman. Usai salat Maghrib, Bung Tomo baru sadar bahwa cincin kawinnya hilang. Ia segera membawa Hartadi kembali ke mata air tempat mereka berwudhu untuk mencari cincin tersebut.

Belum lagi sampai di mata air, Bung Tomo dan Hartadi dikejutkan dengan banyaknya perempuan pispot yang membawa kendi untuk tempat air. Keduanya tercengang.

"Dari mana datangnya perempuan-perempuan cantik ini, padahal ini belantara," tulis Bung Tomo dan Hartadi seperti Sulistina Soetomo, istri Bung Tomo, dalam Suami Bung Tomo.

Para perempuan itu menghilang setelah mengisi kendi mereka dengan udara. balai itu pula bulu kuduk Bung Tomo dan Hartadi berdiri. Tak berapa lama kemudian, kesadaran keduanya pulih. Keduanya langsung ke sendang mencari cincin kawin Bung Tomo dan berhasil mendapatkannya di balik sebuah batu.

Keduanya langsung buru-buru kembali ke desa. Di desa, pengalaman itu mereka ceritakan.

“Orang-orang di pondok mengatakan tak ada desa di sekitar sendang, dan tak mungkin ada wanita yang mengenakan kemben. Mungkin itu yang enak…peri!” sambung Sulistina.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama